Category Archives: Reviews

My things & thoughts about anything!

Travel with style!

photo : addictivefashionista.onsugar.com

Pernah dipusingkan akan penuh sesaknya kopor saat akan mengunjungi tempat liburan atau keperluan bisnis padahal waktunya singkat? Pernah dibuat bingung akan membawa jenis busana apa saja dan berapa banyak yang tanpa disadari tiba tiba anda membutuhkan kopor tambahan? 

 Ini tentu bukan akibat dari banyaknya hari yang akan habiskan di tempat tersebut. Hal ini lebih disebabkan karena anda membawa terlalu banyak busana yang anda pikir akan terpakai namun ternyata tidak. Keinginan untuk tetap tampil chic tentunya sangat dianjurkan, namun tidak harus dengan memindahkan seluruh isi lemari anda.  Mari kita mulai belajar akan manajemen pengaturan isi kopor! Berikut adalah beberapa informasi yang penting diketahui :
  • Ketahui berapa lama anda akan bepergian
  • Gali informasi sebanyak-banyaknya mengenai cuaca, temperatur, dan musim yang sedang berlangsung di tempat tujuan
  • Catat nama nama tempat yang akan anda kunjungi dan berapa lama anda akan singgah.
  • Pelajari budaya setempat. Anda tidak diperbolehkan mengenakan celana pendek ketika memasuki kuil di Thailand atau Bali!
  • Siapkah shawl atau scarf untuk membantu anda ketika sudah mulai mati gaya

*ditulis 8 April 2011, dengan gaya bahasa mirip2 majalah fashion :p 

Sampai Maut Memisahkan

Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un..
photo : easyvectors.com

Hari Kamis lalu, tepat pukul 04.00 WIB, saya mendapatkan kabar bahwa nini saya dari pihak Ibu meninggal dunia. Nini saya saat itu berumur 80 tahun menurut catatan di secarik kertas bertuliskan Kenal Lahir.

Nini dan aki memiliki 6 orang anak, 3 lelaki dan 3 perempuan. Ibu saya adalah anak kedua mereka. Aki dulunya seorang guru yg mengajar di pelosok Jawa Barat dan Banten. Saat aki dan nini harus tugas mengajar di Banten, ibu saya dititipkan ke uwa nya (kakaknya nini) dan hingga sekarang dianggap anak oleh beliau. Adik – adiknya ibu lahir di Banten, Indramayu dan Sumedang mengikuti tempat kerja aki. 
Sementara aki mendedikasikan diri menjadi guru, nini lebih suka menjadi pedagang. Bakat dagangnya nini diturunkan ke anak anak perempuannya termasuk ibu saya. Sementara kakak kakaknya nini lebih suka menginvestasikan uangnya ke sawah dan kolam (balong), nini tetap pada pendiriannya utk menekuni dunia jual beli.
Dimasa pensiunnya, aki memutuskan untuk menetap di kampung halamannya, Situraja, Sumedang. Aki menikmati istirahat, sementara nini tetap berdagang. Dimata para tetangga, keluarga dan sahabat, nini dan aki udah kayak dua sejoli yang tak terpisahkan. Seringkali bercanda berdua, saling ledek, saling colek, ujungnya ketawa sama sama. Nini orangnya senang ngobrol, bercerita apa aja sampe yg denger jadi bosen atau ngantuk. Tapi aki gak pernah bosen denger cerita nini, aki tetap setia mendengarkan sampe nini selesai cerita.
Belasan tahun terakhir, fungsi pendengaran aki mulai berkurang. Aki jadi gak bisa dengerin cerita nini lagi sampai tuntas. Nini pun kalo ngajak aki ngobrol harus dengan suara yg agak kencang. Kadang kalo lagi ngobrol dengan suara kenceng, aki suka protes, “Tong tarik tarik teuing, gandeng!” (jangan kenceng kenceng, berisik!) 😀 Sayangnya, beberapa tahun kemudian, nini mengalami hal yang sama dengan aki, jadi mereka kalo ngobrol suka teriak teriak gitu di rumah.
Saat ini, aki pasti sangat merindukan masa masa itu. Nini belahan jiwa aki yang keras kepala dan cerewet itu sudah pergi. Kini rumah itu sepi. Sepanjang malam saya menginap di rumah aki, aki selalu memandangi foto nini, dan kemudian menangis… Saya, juga larut… 
Nini, saya memang tidak menangis saat berita itu sampai ke telinga saya. Saat itu saya menahan diri, karena harus menyelesaikan tanggung jawab yg lumayan besar. Nini pasti tau saya sangat menyayangi dan menghormati nini. Doa nini untuk saya, selalu minta kepada Allah untuk segera mempertemukan saya dengan sang jodoh. Sayang, saat itu tiba, nini tak bisa melihatnya. Saya mau seperti nini dan aki, yg tetap bersama, sampai maut memisahkan.
in memoriam
Nini Esih
Wafat : 15 Desember 2011

Untuk Ibu

Photo : unagb.wordpress.com

Ibu biasa saya panggil Mamah.

Ibu selalu berbinar-binar saat tau saya akan pulang ke rumah.
Ibu terdengar kecewa saat tau saya tidak akan menghabiskan weekend di rumah
Ibu terlihat sedih saat tau saya harus pindah ke Jakarta, karena
Ibu khawatir kepindahan saya saat itu akibat dari ketidakbecusan saya bekerja
Ibu tau masakan favorit saya, dan selalu sudah tersaji di meja makan ketika saya pulang.
Ibu sering bersebrangan pendapat dengan saya
Ibu mengungkapkan rasa rindunya, dengan sering ngomel pada saya jika saya ada di rumah
Ibu ingin saya selalu bahagia
Ibu cemas jika saya tidak memberi kabar
Ibu sering membelikan saya barang yang tidak saya sukai dan saya jadi marah karenanya
Ibu adalah ‘tempat sampah’ jika saya ingin berkeluh kesah
Ibu tak ingin saya susah.
Ibu akan selalu ada untuk saya dan saya juga begitu
Ibu pasti berkata, “Jangan sedih nak, semua pasti akan baik baik saja”
Saya sayang Ibu.