Ribuan Purnama Mencari Perawatan Kulit Terbaik

Buat kamu yang punya kulit indah, bagus dan cerah, mungkin hidup terasa lebih mudah karena nyaris tidak ada kesulitan berarti untuk meluangkan waktu merawat wajah. Buat saya, perjuangan ngurusin yang namanya kulit wajah adalah hampir seluruh hidup. Iya, kulit saya kusam, pori pori besar, berminyak, warna kulit tidak merata dan mudah berjerawat. 

Saya ingat pertama kali merasakan wajah yg ‘bermasalah’ yaitu saat kelas 6 SD. Dahi saya bruntusan dan tidak hilang hanya dengan sekedar mencuci muka pakai sabun. Perjuangan berikutnya datang saat haid pertama kali. Wajah saya tetiba berjerawat di dahi dan disekitar pipi. Ditambah saat itu haid saya tidak lancar. Mamah ngajakin ke dokter kandungan dan juga ke dokter kulit. Oleh dokter kandungan, saya diberi obat (lupa lagi namanya) untuk memperlancar haid yang setelahnya saya merasakan nyeri hebat setiap haid datang. Setelah itu kami ke dokter kulit di Jalan Veteran. Dokternya udah senior, spesialis pulak. Beliau bilang, “Jerawat itu biasa kok buat perempuan. Yang penting kamu jangan stress dan harus tetap percaya diri ya.” Kata kata yang sangat powerful bagi remaja kayak saya dulu. Memang betul, saat itu saya betul betul gak pede. Saat teman teman cewek saya mulai dandan dan pakai kosmetik ringan, saya gak ikutan. Saat temen temen pada punya pacar, saya jomblo, sampe sekarang.. loh.. 😂😂😂

Lanjut ke masa SMA awal, jerawat hampir gak pernah absen nangkring di wajah. Ukurannya besar, merah, perih dan ada nanahnya. Tempatnya selalu beda beda, suka suka dia aja gitu mau nemplok dimana. Kadang deket bibir, kadang deket idung, kadang di tengah tengah pipi, gede banget, dan sampe sekarang masih ada bekasnya. 🙁

Di masa SMA ini saya mulai kenalan dengan krim yang diklaim dapat menghilangkan jerawat dengan cepat. Belakangan baru tahu bahwa krim itu kandungan logam beratnya sangat besar dan akan merusak organ tubuh lainnya jika digunakan secara permanen. Saya menggunakan krim itu cukup lama, sampai kuliah tingkat akhir tapi belang betong. Jika saya absen lama pakai krim itu muka saya langsung kering dan bruntusan sewajah wajah. Saya panik dan akhirnya selalu balik lagi ke krim itu. Saya dulu gak ngerti sama urusan skin care dan mungkin gak care juga sih sama sekali sehingga membawa saya ke keadaan kulit saya saat ini.

Tahun 2008 – 2009 temen kakak saya yang dokter kulit sedang eksperimen bikin skin care utk wajah berjerawat, saya jadi salah satu pencobanya. Saat itu positif thinking aja, bismillah semoga ini bisa membawa saya ke arah yg lebih baik. Saya nurut akan cara pakai dari rangkaian skin care itu. Sebulan pertama breakout parah! Jerawat gede gede dan merah bernanah muncul di seluruh wajah. Saya tapi tetap pede, karena hal ini sudah diinformasikan sebelumnya. Saya harus pakai terus sampai habis. Bulan kedua kondisi kulit semakin membaik dan tekstur semakin halus. Wajah saya pun tak berminyak lagi padahal seharian ribet di kantor. Saya optimis ini akan jadi pencarian terakhir saya. Ternyata, sang dokter harus sekolah lagi ke luar kota sehingga tidak sempat untuk membuat rangkaian skin care tersebut. Saya patah hati, ditinggal pas lagi sayang sayangnya 🙁 akhirnya, saya kembali lagi ke krim krim kecantikan gak jelas.

Perjalanan on off pakai krim krim gak jelas itu berakhir di tahun 2012. Saya udah capek ketergantungan, saya ingin “merdeka”. Alhamdulillah saat itu saya dapat rezeki untuk berangkat umroh di bulan Mei. Di Tanah Suci, sebaiknya tidak menggunakan kosmetik berlebihan dan sederet larangan lainnya. Saya pun bertekad, gak akan bawa krim krim yang bikin ribet itu, saya hanya mau pakai pelembab olive oil saja yg kita tahu berlimpah jumlahnya di Arab Saudi. Walaupun olive oil pertama yang saya aplikasikan ke wajah bawa dari Indonesia.

Saat itu media sosial lagi seru serunya, internet sudah mulai stabil di akses dari mana mana. Saya pun mendapatkan cukup informasi bahwa khasiat olive oil bagi kulit itu cukup banyak. Saya berdoa dalam hati, “Ya Allah, saya udah capek sama yang namanya gonta ganti krim wajah, sekarang terima aja deh apapun yang Allah kasih.” Dan salah satu titipan doa dari seorang bocah anak bubos bernama Nares pun mengkonfirmasi doa saya. Dia nulis gini :

Sweetest “titipan doa” that i ever had

Nangis haru banget pas baca ini. Saya peluk Nares sambil bisikin, Aamiiin Nares, makasih banyak ya :’). 

Di Tanah Suci saya betul betul hanya menggunakan olive oil sebagai pelembab wajah. Dan, alhamdulillah ini jerawat satu persatu kempes dan menghilang dari wajah saya. Efek sampingnya jerawat memang hilang namun wajah saya jadi amat sangat berminyak dan pori pori semakin besar dan nyata terlihat. Ya gak apa apa, toh doanya kan biar jerawatnya gak numbuh lagi. Dan itu yang dikabulkan oleh Allah. 

And the rest is history. Saya memang udah gak pake lagi krim jahat itu, saya beralih ke krim yang dijual bebas aja tapi tentunya terdaftar di BPOM supaya ngerasa aman. Iya, saya gak punya budget sebesar itu untuk konsultasi ke dokter secara rutin. Capek. Gak terhitung berapa banyak merk yang saya coba agar kulit saya bisa sedikit saja lebih baik dari sebelumnya.

Sampai saat ini pun saya masih berjuang untuk perbaikan yang sedikit saja itu. Bedanya, saya sekarang sudah menerima total akan kondisi kulit yang memang sudah takdirnya seperti ini. Serunya, saya jadi semakin eksplor pengetahuan soal istilah istilah yang dipakai oleh beauty influencers dan juga mulai sedikit sedikit mengaplikasikannya. Ilmu gak ada manfaatnya kalo gak digunakan bukan?

So readers, tetaplah penasaran tapi tetap menerima kondisi kulit kamu apa adanya ya.  Karena gak ada hal yang lebih membahagiakan daripada bersyukur atas ciptaan Yang Maha Kuasa. Kalo kamu punya pengalaman lebih seru, please share!

Trip Taman Nasional Komodo 2 Hari 1 Malam, Hari Kedua

Hai! Sudah baca postingan sebelumnya? Belum? Baca dulu di sini ya. Saya kasih foto semalam ditemani bulan sabit dan 2 kapal lainnya.

Pemandangan malam itu

Sang Kapten bertanya, “Mba, besok mau jalan jam berapa?” Saya teruskan pertanyaan itu ke para bule bule, mereka bilang, “Dewi, saya jam 6 aja udah bangun kok!” Shiaapp gengs. Oiya, saya lupa kasih tips ke pembaca semua. Jika berniat akan menginap di kapal, masukin list untuk bawa jaket dan selimut tipis ya. Angin laut saat itu kencang dan dingin banget!

Jam 5 subuh, langit sudah terang. Saya baru ngeh bahwa kami ternyata menginap di salah satu teluk di Pulau Komodo. Kami satu persatu terbangun dan salah satu kapal yang menginap bareng kami sudah berangkat duluan entah kemana. Kami lalu bersiap siap untuk petualangan berikutnya, ke Pulau Padar, Manta Point dan Pulau Kenawa.

Sarapan pagi yang disediakan oleh kru kapal berupa roti goreng dengan selai. Tambah teh manis rasanya lebih nikmat, apalagi di kapal. Hehe. Kami lalu ngalor ngidul ngobrol soal pengalaman tidur semalam di kapal. Tidur ditemani langit penuh bintang sungguh langka bukan? Selesai sarapan, para bule pindah ke deck atas lagi untuk menikmati pemandangan pagi hari yang menyegarkan. Langit agak mendung saat itu, tapi sinar matahari sangat indah terlihat di balik awan.

Menikmati suasana pagi

Matahari di balik awan

“Mba, liat tuh, ada lumba lumba!” seru sang kapten. Lamunan saya langsung buyar dan bergegas ke salah satu sisi kapal untuk melihat lumba lumba. Iiiiiiih, banyaaaak! Mereka loncat loncat di pinggir dan depan kapal kami. Ya ampun merebes mili lagi. Terakhir kali liat lumba lumba langsung di habitatnya beberapa tahun lalu bersama beberapa teman di Teluk Kiluan, Lampung. Kami harus naik kapal jukung dan berlayar jauh untuk ketemu lumba lumba. Kali ini saya gak sempet ambil kamera buat mengabadikan momen. Ya sudah, setidaknya itu nyata.

“Mba, tuh Pulau Padarnya. Nanti mba mendaki sampai puncaknya. Kuat gak?” Tanya kru kapal. Saya menoleh, Pulau Padar keliatan sama aja dengan pulau lainnya kok ya. Cakepnya di sebelah mana? Pikir saya. Ah tapi sudahlah, pasti dari atas bakalan keliatan indahnya. “Siap mas! Kemarin aja saya mendaki di Rinca kuat kok!” Jawab saya sambil nyengir. Krunya cuman mesem mesem aja. Lalu kapal berhenti sebelum kami sampai dermaga. Saya langsung mengerti, kami harus naik “taksi” lagi dan bayar 20K untuk sampai ke Pulau Padar. “Lagi surut nih, mba.” Kata sang kapten. Baiiik! Semuanya nenteng sepatu karena takut kebasahan di pantai. Kami berdelapan naik kapal kecil yang disebut “taksi” tersebut sampai ke bibir pantai.

Kami disambut oleh seorang bapak petugas Taman Nasional yang duduk di belakang meja. “Ok guys, you have to pay 190K each. Your yesterday ticket not valid this day.” kata bapaknya. Para bule paham lalu mengeluarkan uang. “Mba, guide-nya ya?” kata bapaknya. Saya senyum, “Bukan pak, saya juga sama, turis kayak mereka.” Bapaknya ngangguk ngangguk, “Kalo gitu mba bayar 50K aja, biar biaya parkir kapal yang bayar bule bulenya.” Saya iyain aja, dalam hati, gantian deh ntar “taksi” kami semua saya yang bayarin aja. Gak enak kan walau para bulenya gak ngerti apa yang diomongin oleh kami. Okeh, here we go, hiking di Pulau Padar!

Photo point pertama Pulau Padar

Tangga yang harus kami lalui untuk mencapai photo point kedua

Jalurnya mengerikan gak sih?

Tangga lagi dan lagi

Hey, it’s me!

Oke, inti dari perjalanan menuju pemandangan indah ini adalah rajinlah berolahraga atau kamu akan ngerasa dikit lagi jantungnya copot setelah melihat tangga tangga ‘mengerikan’ di foto tadi. Hahaha.. Apa sih yang gak butuh perjuangan saat ini? Bahkan ketemu pemandangan cakep aja usahanya harus keras banget lho.

Saya gak sanggup untuk naik ke puncak terakhir karena alasan si jantung mau copot ini. Kata bule bule itu, gak terlalu sepadan antara usaha dengan pemandangan untuk naik sampe atas. Titik paling indah untuk indah untuk lihat pemandangan adalah di tempat saya di foto barusan. Setelah puas foto foto, saya dan bule bule cewek turun bareng menuju kapal. Di jalan kami mengobrol panjang lebar. Bahas mulai dari bahasa sampai makanan dan gak berasa tau tau udah sampai pantai lagi. Ternyata di pantai udah ada si cowok cowok bule nungguin kami. Gak pake nunggu, kamipun langsung menuju kapal untuk lanjut ke Manta Point.

Ngapain di Manta Point?

Ya ketemu Manta lah. Manta itu apa? Orang Indonesia menyebutnya ikan pari. Pernah nonton film Finding Nemo gak? Manta itu si Ray pengasuh sekaligus pengajar anak anak ikan di coral reef barengan Nemo. Yg guede item kayak layang layang itu lho.

Ini dia Mr. Ray di film Finding Nemo

Di perjalanan menuju Manta Point, kami melihat penyu 2 ekor. Penyunya parkir aja gitu warna cokelat melayang layang di air. Kirain bantal ngapung, taunya penyu.

Manta Ray!

Di titik pertama kami tiba, hanya ada 1 manta yg seliweran. Nyebur jadi berasa sia sia.. haha.. Lalu, kapten kapal mengajak kami untuk menuju titik berikutnya, dan napas saya tercekat, mantanya banyak banget. Ya Allah seneng banget liatnya. Saya sampe bikin banyak video untuk mendokumentasikannya. Kaki kepanasan bodo amat yang penting seneng ketemu Manta. Norak ya? Sang kapten bilang, “Mba, ini rezekinya mba loh, mantanya banyak banget. Biasanya kami hanya nemu 2 ekor, itupun susah stengah mati nyarinya..”. Whoaaa!

Pencari Manta Ray

Dan, ketika kami memutuskan untuk pulang, di ujung jalan kapal sebelah teriak teriak gak jelas, “Weeeell… dats weeeell..” Saya tanya ke kapten, “Apaan tuh?” Beliau jawab, “Paus, mbaaaa..” Ooooh, maksudnya whale. Yhaaa gile, dapet bonus paus! Sang kaptennya sama senengnya sama saya karena beliau jarang jarang ketemu paus juga ternyata.

Kesimpulannya, kami dapet banyak rezeki ketemu hewan hewan yang biasanya susah ditemui. Entah betul atau cuman akal akalan ranger dan kaptennya aja biar ceritanya seru dan kami jadi seneng. Tapi saya ya beneran seneng sih. Kalo misalkan saya batalin tiket ini, entah kapan saya bisa meliburkan diri untuk ke Labuan Bajo lagi. Kalo saya batalin tiket ini dan ganti tanggal, saya belum tentu bisa seberuntung kemarin ketemu banyak hewan yg katanya susah banget ditemui.

Sehabis makan siang dengan menu yang sama persis dengan kemarin kami berangkat ke tempat selanjutnya. Tujuan terakhir Pulau Kenawa ternyata gak terlalu bikin kami seneng. Karena buat saya, pulau dengan pemandangan kayak gitu udah beberapa kali saya lihat di Karimun Jawa dan Kepulauan Seribu. Dan, di Pulau Kenawa ternyata kami harus bayar tiket masuk. Para bule melirik saya sambil bilang, “Again?”

Pulau Kenawa

Dermaga Pulau Kenawa

Selesai nyebur nyebur bentar di pulau ini kami pun memutuskan untuk pulang ke Labuan Bajo. Di arah kami pulang, awan mendung bergelayut seperti siap hujan dan ditumpahkan sekaligus. Dalam beberapa saat, hujan pun turun dan kami sama sama “terjebak” di deck bawah sambil disuguhi pisang goreng. Bule Spanyol penasaran sama cara buatnya. Buat dia, ini pisang goreng terenak. Dia gak tau aja di abang penjual gorengan deket rumah saya bisa lebih enak lagi.

Kapal pun merapat di pelabuhan Labuan Bajo yang masih diguyur hujan rintik rintik sekitar pukul 4 sore. Kami pun berpisah dengan ucapan selamat tinggal dan sampai jumpa lagi. Saya berjalan kaki menuju hotel untuk mandi dan beristirahat. Besok saya harus pulang dan kembali ke dunia nyata tempat di mana waktu berjalan lebih cepat.

Selanjutnya, liburan kemana lagi yha?

Trip Taman Nasional Komodo 2 Hari 1 Malam, Hari Pertama

Kamu udah baca kan postingan saya tentang trip Labuan Bajo 4 hari 3 malam di sini? Nah, saya akan cerita lebih dalam lagi mengenai trip ke Taman Nasional Komodo selama 2 hari 1 malam dan menginap di kapal.

Tahukah kamu, Taman Nasional Komodo adalah sebuah kawasan yang terdiri atas beberapa pulau dan termasuk laut serta pantainya? Tiga besar pulau berdasarkan luasannya adalah Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar (lihat gambar). Kenapa membutuhkan waktu lama untuk bisa mencapai antar pulau? Karena kita harus mengelilinginya sebelum sampai ke pintu masuk Taman Nasional di setiap pulau. Pink Beach dan Manta Point juga termasuk dalam satu kawasan Taman Nasional Komodo

Titik biru kapal itu kami yang akan menjelajah TN Komodo

“Mba, nanti menginapnya sharing pakai matras dan kapalnya open deck ya!” Itu pesan mbanya semalam sebelum saya terlelap tidur. Gak pernah berharap yang muluk muluk, sayapun sudah membebaskan pikiran untuk terima aja apa adanya dan berjanji akan menikmati trip ini dengan penuh sukacita.

Itinerary yang dikasih oleh kakak di tour adalah sebagai berikut :

Day 1 : Pulau Rinca, Pulau Komodo, Pink Beach

Day 2 : Pulau Padar, Manta Point, Pulau Kanawa.

Besok paginya saya diminta sudah stand by jam 7 pagi di penginapan karena akan dijemput sama mba nya pake motor. Sambil terburu buru ngoles ngoles mentega dan menaburkan meises ke roti tawar saya pun siap di jam yang telah ditentukan. “Kita berangkat jam 7.25 dari pelabuhan ya!” Gitu pesannya. Saya mengangguk. Sesampainya di pelabuhan, Mbanya menunjuk sebuah kapal, “Itu yang akan jadi kapal mba nanti ya barengan ama bule bule 7 orang. Jangan takut, ada ceweknya kok 2 orang.” Katanya. Saya senyum aja, udah bodo amat mau kapalnya kayak gimana dan temen ngetripnya siapa aja. Apapun itu, saya mau menikmati setiap detiknya, setiap momennya dan setiap prosesnya.

Pukul 8 kurang, semua peserta tur sudah lengkap 8 orang, kru kapal 2 orang juga sudah stand by tapi kapten kapalnya belum nongol, lagi urus administrasi di kantor pelabuhan katanya. Selain kami, ada beberapa rombongan turis mancanegara yang sama sama mau ngetrip juga dengan kapal yang berbeda. Saya mencatat ada 3 rombongan yang berangkat. Pukul 8 lewat beberapa menit, kaptennya tergepoh-gepoh masuk kapal sambil bilang, “Maaf ya mba, tadi urus administrasi dulu agak lama. Kita langsung berangkat ya!” Iyaaa pak, kata saya dalam hati, hayuk capcuuuss..! Tak berapa lama jalan, kapten nanya, “Mba guidenya ya?” Saya dengan halus jawab, “Bukan pak, saya juga peserta tur.” Kaptennya ngangguk ngangguk.

Deck kapal yang akan membawa kami menjelajahi Taman Nasional Komodo

Hhhh, sayangnya saya lupa mengabadikan seperti apa kapal yang kami tumpangi. Saya coba deskripsikan ya. Kapal terdiri atas 2 deck. Deck atas diisi oleh matras anti air, bantal dan atapnya hanya setengah. Sekeliling bawah atap ada plastik bening yang berguna untuk melindungi penumpang dari angin dan hujan. Di deck bawah paling belakang berturut turut ada genset, dapur kecil, toilet, ruang kapten kapal, kursi dan meja makan untuk 6 – 8 orang dan kontainer yang isinya sepatu kami serta alat alat snorkeling. Di atas meja makan terdapat gelas kaca bening, termos air panas, wadah gula dan kopi serta sesisir pisang ambon. Di bawah meja terdapat kontainer dengan es yang isinya air mineral dalam botol, ada juga bir punyanya bule bule yang mereka beli di minimarket sekitaran Labuan Bajo.

Para bule bule mulai ngobrol dan mencairkan suasana satu sama lain sementara saya belum kepengen. Saya melipir sendiri aja ke deck depan sambil nikmatin pemandangan yang indah. Beberapa orang naik ke deck atas buat sunbathing, yang lainnya tetap di bawah dan ngobrol. Saya sempet buka google maps untuk lihat rute perjalanan kami hari ini. Iya, seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, jangan takut mati gaya gegara sulit eksis karena sinyal si merah cukup kuat di area Taman Nasional Komodo ini. “Kita akan sampai dalam 3 jam mba ke Pulau Rinca!” Kapten kapal berseru pada saya. Wuoooh, lama juga ya. Tapi seperti tekad dalam hati, mari nikmati saja. 🙂

Setelah berjemur lama, kami pun tiba di Pulau Rinca pukul 11 siang. Sayapun bersiap memakai kaos kaki dan sepatu. Yang lucu, bule bule cowok bertiga yang belakangan saya tau ternyata asalnya dari Spanyol dan diem di deck bawah udah saling oleh olesin sunscreen satu sama lain dan bersiap untuk nyebur. Pas liat dermaga mereka bingung, kita nyebur di mana nih? Gitu kali pikirnya. Haha.. Akhirnya si cewek cewek yang ternyata orang Jerman ngasih tau, “Guys, kita jelajah Pulau Rinca dulu buat liat komodo sekarang, nyeburnya masih lama.” Para cowok Spanyol pun maklum, kayaknya agak kecewa juga, karena harapan mereka ke laut itu buat nyebur, bukan buat trekking. :)) Sambil teriak, kru kapal memberi tahu saya bahwa waktu yang kami punya di Pulau Rinca ini hanyalah 1 jam saja yang artinya short trek.

Perahu kami bersandar di dermaga Pulau Rinca

Selepas dermaga, kami disambut oleh para pria berseragam hijau lengkap dengan name tag dan topi. Di bagian punggungnya ada tulisan dalam bordiran “Naturalist Guide”. Rupanya namanya bukan ranger lagi sekarang. “Berapa orang rombongannya mba?” tanya bapaknya. “Delapan orang, pak.” jawab saya. “Mba guidenya ya?” tanya rangernya. Saya nyengir kuda. Kamipun berjalan bersama menuju tempat tiket. Saya colongan tanya sama bapaknya, “Kita bisa ketemu sama komodonya gak pak hari ini?”. Sambil senyum bapaknya bilang, “Kita lihat nanti aja ya mba.” Iiiiiiiih, kan kita penasaran ya. Yamasa udah jauh jauh ke sini kagak ketemu komodo. Rugilaaah.

Tempat Rangers ngumpul di dermaga Loh Buaya

Gerbang selamat datang di Loh Buaya

Kamipun diarahkan ke seorang bapak bagian tiket. Semua bule tertib ngantri untuk bayar dan mengisi buku tamu. Setelah selesai, bapaknya menginformasikan pada kami semua agar menyimpan dengan baik tiketnya karena tiket tersebut berlaku untuk seharian menjelajah seluruh kawasan Taman Nasional Komodo. Jika mengacu pada itinerary, artinya besok di Pulau Padar kami harus bayar tiket lagi. Bapak petugas tiket melirik saya lalu nanya, “Mba guidenya ya?” Saya nyengir lagi. Hari ini udah 3 orang yang menyangka bahwa saya guide dari para bule itu, padahal saya juga bayar full paketnya! :))

Selesai urusan administrasi, kami berkumpul di dekat papan pengumuman untuk briefing do & don’ts selama trekking. Para rangers yang kesemuanya adalah penduduk asli Taman Nasional ini fasih banget berbahasa Inggris. “Please stay in group and keep distance from the dragon. If you have any question, please ask me and i’ll try to answer it.” Gitu katanya. Keren ya! Oke, singkat cerita, ini poin poin yang saya rangkum mengenai Pulau Rinca dan komodonya :

Pulau Rinca (Loh Buaya)

  • Disebut juga Loh Buaya karena terdapat mangrove di sekeliling pulau yang konon masih banyak buayanya.
  • Di dermaga kamu langsung disambut oleh para ranger yg akan menjadi guidemu selama track. Ranger akan mengarahkanmu ke loket masuk.
  • Komodo banyak berkumpul di dapur pada pagi hari. Di Pulau Rinca, dapurnya para ranger mudah terjangkau oleh komodo sehingga mereka berkumpul dalam jumlah besar di sana.
  • Kita akan melihat sarang komodo dimana terdapat telur telur yg dijaga oleh komodo betina.
  • Kami ketemu tokek gede di atas pohon tapi bunyinya aneh. Kata ranger kami sangat beruntung bisa lihat tokek, biasanya mereka susah dicari. Baik, ini keberuntungan pertama yang saya dapatkan selama short trek.
  • Banyak kotoran kerbau air di sepanjang jalan.
  • Kita akan naik bukit dimana terlihat pemandangan dermaga Pulau Rinca dari atas
  • Short trek durasinya kurang lebih 1 jam.

Komodo show. :))

Komodo ngumpul di deket dapur

geng sekapal trekking menuju puncak Pulau Rinca

Puncak Pulau Rinca

Setelah satu jam, kamipun kembali ke kapal. Tak disangka, rupanya makan siang udah siap! “Mba, makan siangnya sambil kita jalan ke Pulau Komodo ya. Takutnya kesorean sampe sana.” Kata kapten. Aye aye capt! Udah kelaperan nih! Jadilah kami makan siang di perjalanan. Menu siang itu adalah : goreng tempe pake tepung, goreng terong ungu, ikan tongkol bumbu kecap, sayur labu dan mie goreng. Chefnya adalah sang kapten beserta krunya. Nyam nyam. Saya gak banyak ambil foto soal kegiatan di kapal karena mencoba untuk sopan dan menjaga privasi. Orang bule suka keberatan kalo wajahnya diabadikan trus diposting tanpa seijin dia.

Sekitar pukul 15.40 kami tiba di Pulau Komodo. “Mba, di sini sejam juga ya berhentinya!” Kata sang kapten saat kami bersiap memakai sepatu. Keadaan sungguh berbeda. Terlihat lebih liar, dingin dan gersang. Di Pulau Komodo ini saya gak melihat adanya mangrove seperti di Rinca.

Gerbang masuk (Taman Nasional) Pulau Komodo

Pulau Komodo (Loh Liang)

  • Disebut Loh Liang karena merupakan sarang/rumah utama dari komodo. Populasi komodo terbesar memang ada di pulau ini.
  • Dari dermaga, ada gapura selamat datang, namun setelah itu kami kebingungan harus kemana karena tak ada satupun orang yg bisa kami tanyai. Lantas kami belok kiri dan ada seorang bapak yg mengarahkan kami untuk lurus terus sampai bangunan besar tempat para ranger berkumpul dan loket berada
  • Terdapat kolam kecil buatan untuk membantu hewan hewan minum saat musim kemarau berkepanjangan tiba. Kami bertemu 2 ekor komodo besar yg sedang bermalasan dan 1 ekor komodo kecil yg langsung kabur begitu tahu ada seniornya di sana. Komodo dewasa gak segan segan membunuh yang kecil saat dia lapar.
  • Kami juga bertemu 2 ekor komodo kecil lainnya di perjalanan short track. Menurut ranger, kami beruntung banget bisa ketemu, biasanya susah banget. Baik, ini keberuntungan kedua yang saya dapatkan selama short trek.
  • Hampir tidak ada kotoran kerbau air yang bisa kami temukan selama short track
  • Rangernya bilang, sebaiknya jangan datang di bulan Juni – Juli, komodo akan susah ditemui. Kenapa? Lagi musim kawin! Mereka (si jantan) akan “hunting” betina sampe blusukan katanya. Betina sama jantan populasinya 1:3 jadi semacam rebutan gitu. Kalo pun beruntung, kita hanya akan ketemu komodo hunting yg buru buru lari aja jadi susah buat foto foto.
  • Menurut rangers, komodo di Loh Liang lebih liar dari pada Loh Buaya karena kontur pulau dan keadaan alamnya.
  • Banyak sekali jenis burung yang saya lihat seliweran di sekitar pohon tepi pantai. Kakaktua dan kepodang sahut sahutan berbunyi saat kami datang, mungkin mencari perhatian. Halah.

Komodo muda kabur takut ketauan ama yang dewasa

Kekeringan melanda akibat sejak April belum turun hujan lagi

Memberanikan diri foto bareng ama kakang komodo sambil berdoa terus karena takut. :))

Setelah semuanya berkumpul, kami melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit menuju Pink Beach. Setelah diperhatikan, hampir semua bagian pantai di pulau ini pasirnya warna pink. Jadi, dimanapun kamu berlabuh gak masalah. Namun tentunya kapten tau spot mana yang paling keren dan disanalah kami merapat.

“Mba, sedang surut ini jadi kapal tak bisa merapat.” Kata sang Kapten.

“Terus gimana dong?” Kata saya.

“Mba renang aja sampai pantai, atau kalo malas renang harus naik taksi (kapal kecil) ongkosnya 20K pp.”

Bhaiiiiique. Tau aja nih saya lagi males basah basahan hari ini. :)) Saya beserta salah satu cewek Jerman pun naik taksi. Bukan apa apa, saya melihat sunset udah mulai muncul dan saya gak mau kehilangan momen ini. Sesampainya di bibir pantai, saya langsung memutuskan untuk naik bukit. Sempet pesimis tapi yasudahlah, momen harus dikejar walaupun turunnya licin dan jempol sempet kesabet duri sampe berdarah.

Pink beach!

Sunset di atas bukit Pink Beach

Pink Beach dari atas bukit

Kapten memanggil kami semua untuk segera masuk kembali ke kapal karena hari sudah mulai gelap. “Kita akan menuju tempat menginap mba.” Wuoh, penasaran saya. Menuju titik tempat kami akan menginap, kami disuguhi sunset yang indah. Sesampainya di lokasi, saya melihat lebih dari satu kapal berlabuh di teluk itu. Alhamdulillah banyak temen.

Sambil menunggu makan malam disiapkan, kami mulai mengobrol lebih akrab satu sama lain. Karena waktu baru aja menunjukkan pukul 18.30 sementara kami biasa tidur diatas pukul 9 malam. Ngalor ngidul kesana kemari, apa aja diobrolin. Saya lihat si cewek Jerman ini pandai membuka obrolan sehingga yang lain merasa terhibur. Insight yang bisa saya dapatkan dari obrolan itu adalah :

  • Kami gak sama sekali menyebutkan nama saat mengobrol. Barangkali, sebuah nama lebih private dibandingkan agama
  • Topik yang dibahas merupakan pengetahuan umum, adu pinter wawasan lah gampangnya mah
  • Gak ada judgement satu sama lain sehingga sama sama merasa nyaman
  • Ini adalah ajang lo promosi tentang kebaikan dan keunggulan negara lo di bandingkan negara lain. Kuasai cara membuat kue dadar gulung dan pisang goreng, karena cowok cowok Perancis dan cowok cowok Spanyol itu ternyata suka banget!
  • Siapa sangka bahwa si cowok cowok Spanyol ini profesinya polisi dan pemadam kebakaran. Ganteng beuuud ya Allaaah.

Setelah habis obrolan, kamipun beranjak untuk bersiap istirahat. Para bule tidurnya di deck atas, saya di deck bawah. Sebelum tidur, saya sempet motret bulan sabit dan taburan bintang di langit sebelum akhirnya terlelap tidur. Besok akan ketemu apa saya gak tahu, yang jelas saya sangat bersyukur hari ini banyak dapet rezeki berupa keberuntungan yang terus menerus digaungkan oleh sang rangers. Saya juga bersyukur bisa bahagia banget ketemu komodo. Merebes mili jadinya saat teringat mimpi lama bertahun tahun lalu perlahan lahan bisa terwujud walaupun dalam bentuk lain.

 

Tulisan selanjutnya adalah cerita lengkap perjalanan di hari kedua, hiking ke Pulau Padar yang terkenal itu lalu ketemu Manta Ray dan paus!

See you soon readers!

Perjalanan Singkat 4 hari 3 Malam Ke Labuan Bajo

Prolog

Gemini adalah zodiak paling impulsif diantara yang lainnya, menurut sebuah artikel yang saya temukan di Google. Dan iya, saya sebagai orang Gemini merasakan hal itu. Termasuk saat memutuskan untuk membeli tiket (sekitar 6 minggu sebelum hari H saat Garuda Indonesia Travel Fair) dan berangkat ke Labuan Bajo kemarin itu (sekitar 4 hari sebelum hari H). Kebanyakan mikir will get you nothing. Perencanaan penting sih, tapi ya gak harus jelimet sampe details juga. Kadang, improve go show aja di lapangan justru akan lebih seru dan lebih memorable. Setidaknya buat saya si Gemini tulen. Dan dari persiapan sampai packing, saya cuman punya waktu efektif 2 hari. Gila ya. Haha.

Tentunya saya banyak browsing dulu sebelum berangkat, karena sesungguhnya saya belum tau di Labuan Bajo itu bisa ngapain aja dalam waktu 4 hari 3 malam. Selain browsing, saya juga tanya temen temen yang sudah pernah ke sana. Seorang teman pernah bilang, jangan takut, di area sekitaran pelabuhan banyak penyedia jasa tour ke Taman Nasional Komodo dan sekitarnya yang bisa dipilih sesuai dengan keinginan. Rangkuman dari rekomendasi mereka adalah :

  • One day tour (ini paling masuk akal)
  • 3d2n tour (ini mepet banget dan kayaknya gak mungkin)
  • lebih dari 5 hari tour sekaligus living on board (ini gak mungkin banget karena waktu saya gak cukup)

Otak saya tetiba ribet aja gitu mikirin pilihannya mau yang mana. Kalo pilih one day tour, terus abis itu kemana lagi? Overland gak mungkin, palingan sewa motor untuk keliling keliling. Sewa motor males soalnya menjelang sore langit mendung dan ramalan cuaca bilang diperkirakan akan turun hujan. Yaudah liat nanti kali ya. Capek mikir dan menimbang nimbang, saya tidur aja deh. :))

Di Hari H, saya kecepetan tiba di bandara Soekarno Hatta terminal 3, tapi memang sudah diprediksi karena saya ingin liburan kali ini santai banget walau short trip aja. Saya baru memutuskan untuk kontak sebuah travel agent atas rekomendasi sebuah blog yg pernah go show one day tour di bandara saat hari keberangkatan. Saat itu saya booked untuk one day tour aja, abis itu entah deh gimana nanti. Mba yang jawab chat saya bilang gini, “Mba, gak pengen 2 days 1 night aja? Udah ada 7 orang yang booking jadi bisa barengan.” Lalu mbanya kasih itinerary untuk 2d1n. Hey, kok saya gak kepikiran ya nginep semalem di kapal? Kayaknya bakal seru nih! Hasil browsing sana sini gak ada tuh yang menyarankan 2d1n. Saya jawab, “Nanti dikabarin deh, saya masih mikir enaknya gimana.”

Gaes, segala keputusan diambil memang harus berdasarkan tujuan dan hal apa yang ingin dicapai kan ya. Nah, mari kembali ke konteks bahwa tujuan keberangkatan saya ini adalah ingin explore sebanyak-banyaknya dan dapat foto sebagus-bagusnya dalam waktu singkat. Oke, maka tawaran 2d1n sepertinya lebih masuk akal. Menjelang boarding, saya langsung mantap bilang, “Mba, saya ambil paket 2d1n deh!” Dibalas mbanya, “Oke, nanti dapet fasilitas antar jemput dari dan ke bandara ya!” Alhamdulillah kagak harus pake mikir lagi sampe sana dan di dalam pesawat saya bisa tidur nyenyak. :))

So, inilah yang akan menjadi itinerary saya dalam trip singkat ini :

  • Day 1  10.50 – 14.20 Jakarta – Labuan Bajo
  • Day 2 Full Day Tour (Taman Nasional Komodo; Pulau Rinca, Pulau Komodo, Pink beach)
  • Day 3 Full Day Tour (Pulau Padar, Manta Point, Pulau Kanawa)
  • Day 4 15.10 – 16.20 Labuan Bajo – Jakarta

Transportasi

Menuju Labuan Bajo dari Jakarta, pesawat yang digunakan adalah jenis CRJ 1000 seatnya 2-2. Waktu tempuhnya sekitar 2 jam 10 menit. Saya gak foto foto saat boarding dan landing karena ribet ngeluarin kamera dan hape saat itu. Kayak gini kurang lebih penampakannya.

Garuda Indonesia CRJ 1000 (photo courtesy routesonline.com)

Kenapa pake pesawat kecil kayak gini? Karena Bandara Komodo adalah tipe perintis dengan landasan pacu pendek sehingga yang memungkinkan untuk mendarat di sini hanyalah pesawat tipe ramping dan pendek seperti CRJ dan ATR. Sepanjang penglihatan saya tipe CRJ sayapnya di bawah dan tanpa baling baling, sementara tipe ATR sayapnya di atas dan ada baling baling di setiap sayapnya. Lion, Wings dan Batik saya lihat menggunakan tipe ATR.

Boarding Pass & Luggage Tag

Pesawat jenis CRJ 1000 ini gak memperbolehkan kita untuk bawa koper kecil masuk ke kabin pesawat karena memang kompartemen bagasinya kecil. Jadilah koper saya dititip ke petugas yang berdiri di samping pintu bagasi sebelum naik tangga masuk pesawat dan memakai tag warna pink kayak di foto. Koper bisa diambil lagi setelah mendarat nanti tepat di sebelah tangga turun penumpang persis kayak waktu naik tadi.

Kabin pesawat CRJ 1000

Bandara Komodo memang berukuran kecil, namun flightnya banyak! Saya mencatat ada kurang lebih 30 penerbangan sehari dari dan ke Labuan Bajo. Jarak antara bandara ke Kampung Ujung tempat saya menginap dan juga tempat pelabuhan berada kurang lebih 5 – 8 Km. Hanya butuh 5 menit perjalanan, sudah sampai. Transportasi dari bandara ke tempat tujuan bisa menggunakan taksi atau ojek. Para pengemudinya nongkrong di pintu keluar dan menawarkan ke setiap penumpang yang telah selesai mengambil bagasi. Taksinya berupa mobil pribadi karena belum ada operator taksi resmi di sana. Tarifnya saya gak tau, namun menurut beberapa blog, untuk mobil sekitar 50K sedangkan motor sekitar 15K.

Bandara Komodo

 

Infrastruktur

Mengejutkan bagi saya bahwa Labuan Bajo sudah rapi tertata. Jalannya lebar dan bertrotoar dan tuna netra friendly. Bahkan saat ini sedang dibangun pelabuhan baru (untuk menggantikan pelabuhan lama) yang ada pertokoannya. Dilihat dari stiker dan signage yang terpampang di sana, St*rbucks dan Sp*rts Station siap meramaikan Labuan Bajo.

Jalan lebar dan trotoar yang tuna netra friendly

 

Pertokoan di Pelabuhan Labuan Bajo baru

 

Pelabuhan Labuan Bajo saat ini

Telekomunikasi

Provider yang sinyalnya paling kuat dengan internet yang paling kencang adalah si merah. Provider lain ada tapi hanya di titik tertentu saja, tapi secara umum sinyalnya kurang stabil. Saran saya sih, dari awal pakai si merah aja, supaya komunikasi dengan hotel/tour provider berjalan lancar. Tapi jikalau kepepet, di pintu keluar bandara sebelah kiri ada kios yang jual kartu simnya dengan beragam paket. Sinyal si merah ini menjangkau hampir ke semua titik di Taman Nasional Komodo. Jadi, jangan takut gak bisa eksis ya selama di sana.

Penginapan

Kerennya, hampir semua penginapan di Labuan Bajo dapat dipesan dan diakses via apps traveling. Mulai dari tipe hostel, bed & breakfast, bungalow/paviliun sampe konsep villa bintang 5 tersedia di sini. Penginapan yang berada di Jl. Soekarno Hatta menawarkan sunset view, so, kalo kamu gak mau kelewatan sunset setiap harinya, pastikan penginapan yang kamu pilih ada di lokasi yang tepat ya.

Makanan

Aneka resto dengan menu nasional sampai internasional tersebar berjajar di Jl. Soekarno Hatta juga mulai dari Pasar Ikan sampai jalan mentok satu arah habis. Jika ingin menikmati ikan bakar, datanglah ke lapangan di belakang area militer sebrang pelabuhan. Setiap malamnya setelah jam 7, berbagai jenis seafood segar tersedia di sana. Sebelum pulang, tak lupa saya pun mencoba sushi dan sashimi di sebuah resto. Kenapa sushi dan sashimi? Karena ini di pinggir laut, sudah pasti ikannya segar!

Sushi dan refreshment juice, sedotannya dari bambu!

Budget

Udah cerita panjang lebar, pasti kamu penasaran kan saya keluarin budget berapa untuk perjalanan ini? Saya coba rekap ya.

  • Tiket pesawat Garuda Indonesia beli di GATF Rp. 1,895,000,- return
  • Paket tour 2 day 1 night Rp. 1,200,000,- (kemarin saya minta diskon, dikasih)
  • Tiket masuk ke Taman Nasional Komodo 2 x Rp. 50.000,- per orang (kalo wisman Rp.150.000,-)
  • Fee per ranger Rp. 80.000,- untuk maks 4 orang pengunjung per pulau
  • Biaya parkir kapal di Taman Nasional Komodo Rp. 100.000,- dibagi jumlah rombongan
  • Biaya ‘taksi’ kapal kecil menuju Pink Beach Rp. 20.000,- per orang
  • Biaya ‘taksi’ kapal kecil menuju Pulau Padar Rp. 20.000,- per orang
  • Tiket masuk Pulau Kanawa Rp. 15.000,- per orang
  • Penginapan 3 malam Rp. 570,000,- (kipas angin dan kamar mandi di dalam tanpa tv tapi dapet breakfast roti, teh & kopi plus wifi kenceng sepanjang hari)
  • Makan malem di lapangan Rp. 85.000,- (ikan kakap merah bakar 1 ekor, cumi goreng tepung 1/2 porsi, nasi putih, es teh manis, lalapan)
  • Makan sushi, sashimi, refreshing juice Rp. 225.000,-
  • Jajan jajan Rp. 50.000,-

Kalo diitung itung, saya menghabiskan +/- Rp. 5.000.000,- untuk perjalanan ini. Oiya, di sepanjang Kampung Ujung – Jl. Soekarno Hatta kamu akan menemukan banyak ATM Bank BUMN kayak BRI, Mandiri dan BNI, sementara atm bank lain belum ada. Sebaiknya siapkan uang cash sesuai budget karena di resto serta hotel hanya menerima pembayaran secara tunai atau transfer.

Oke, so this post will ended up here. Di post berikutnya saya akan cerita soal trip 2 day 1 night secara lengkap. Kalo punya pertanyaan, please poke me at my twitter account here or my instagram account here !

See you soon, readers!

Pengalaman Delay Keberangkatan Penerbangan Sampai 4 jam

Pertama tama, saya ingin mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya bagi korban pesawat JT610 yang dikabarkan mengalami water diving lalu meledak dalam air tanggal 29 Oktober 2018 lalu. Sampai saat ini, semua pihak sedang berupaya mencari black box yang akan menjadi alat bantu informasi bagaimana kecelakaan tersebut bisa terjadi. Mari berdoa sejenak kawan.

foto diambil dari berita.beureum.com

Saya lalu teringat akan pengalaman beberapa bulan lalu, tepatnya awal September 2018, saat harus transit di Doha selama 7 jam sebelum meneruskan perjalanan kembali ke Indonesia setelah menempuh perjalanan dari London. Saya share juga di instastories akun instagram secara singkat. Mari kita mulai ceritanya ya.

Saat itu saya sampai Doha pukul 6 AM dan kami akan melanjutkan penerbangan lagi pukul 9 AM. Saya sempetin untuk cuci muka, seka seka, sikat gigi dan ganti baju. Pukul 8.30an gitu saya udah siap di gate keberangkatan terminal E sesuai petunjuk. Oiya, jangan harap kamu akan denger announcement “Perhatian, perhatian, kepada penumpang pesawat…. nomor… harap segera ke gate ….” karena gak akan pernah ada. Kamu dituntut untuk mandiri ngecek gate nya di layar TV yang tersebar di mana mana. Sesampainya di gate, sudah ada beberapa orang non WNI dan juga serombongan turis asal Indonesia yang sepertinya pulang liburan dari Eropa.

Kami semua lalu dipanggil untuk segera menuju shuttle bus yang akan membawa kami ke pesawat. Setelah semuanya naik, bis tak kunjung berangkat. Asumsinya ada orang ketinggalan, karena saat itu penumpangnya sedikit banget, 1 bis aja cukup. Kami menunggu cukup lama di bis tersebut, perkiraan sih 15-20 menitan. Lalu, seorang petugas menghampiri bis dan menyuruh kami semua turun dan kembali ke gedung terminal. Semua orang heran dan bertanya tanya, petugas belum mau kasih keterangan apa apa. Kamipun kembali ke ruang tunggu keberangkatan. Katanya, keberangkatan delay 1 jam karena kendala teknis. Yah, 1 jam gak ada artinya lah dibandingkan nyawa kami semua.

Gak berapa lama, seorang bapak dari maskapai yang memakai jas gelap menghampiri dan memberi pengumuman bahwa semua penumpang mendapatkan meals voucher karena technical problem pesawat tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Banyak yang menggerutu, banyak pula yang memaklumi. Rombongan turis asal Indonesia termasuk yang pertama. Salah satu anggota rombongan, bapak bapak, protes protes malahan sampe ngajakin temen temennya untuk menolak meals voucher itu. Menurut beliau, ini akal akalan maskapai aja mau nyatuin penumpang dari flight lain agar masuk di flight yang sama dengan kami karena penumpangnya sedikit. Mungkin dia pernah ngalamin gitu ya dengan maskapai asal Indonesia.

Sambil sarapan, kami mendapatkan informasi bahwa penerbangan akan dilanjutkan pukul 1 siang. Wuoh, berarti delaynya 4 jam! Saya pasrah aja sambil info ke driver yang akan jemput bahwa delaynya tambah panjang. Dan, serunya adalah saya bisa eksplor bandara nih sambil cuci cuci mata. Hehe.

Tepat pukul 12 siang, saya sudah standby di gate keberangkatan terminal A. Iya, kami pindah gate sejauh itu. Menurut info petugas maskapai, pesawat yang akan kami gunakan nanti adalah pesawat baru alias ganti pesawat. Mereka bilang, masalah teknis di pesawat sebelumnya belum bisa selesai sampai batas waktu yang ditentukan. Semua bagasi dan tetek bengeknya mereka pindahkan satu persatu sampai mereka yakin itu sudah selesai semua. Dan, tau gak, gak ada satupun tambahan penumpang dari flight lain. Ini murni pemindahan pesawat karena kendala teknis dan bukan kayak di Indonesia yang seenaknya nyatuin beberapa nomor flight. Saya juga lihat petugasnya sangat kooperatif dan helpful. Saya antara deg degan sekaligus bersyukur, karena maskapai sangat bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan penumpangnya.

Alhamdulillah, kami selamat sampai ke Jakarta lewat tengah malam. Para driver yang nungguin udah ngantuk ngantuk. Bagasi aman semua tanpa kurang suatu apapun. Kita gak pernah tau umur kita akan sampai mana kan ya, tapi setidaknya, kita berusaha untuk sebaik mungkin.

Kamu punya pengalaman yang sama?