Sampai Maut Memisahkan

Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un..
photo : easyvectors.com

Hari Kamis lalu, tepat pukul 04.00 WIB, saya mendapatkan kabar bahwa nini saya dari pihak Ibu meninggal dunia. Nini saya saat itu berumur 80 tahun menurut catatan di secarik kertas bertuliskan Kenal Lahir.

Nini dan aki memiliki 6 orang anak, 3 lelaki dan 3 perempuan. Ibu saya adalah anak kedua mereka. Aki dulunya seorang guru yg mengajar di pelosok Jawa Barat dan Banten. Saat aki dan nini harus tugas mengajar di Banten, ibu saya dititipkan ke uwa nya (kakaknya nini) dan hingga sekarang dianggap anak oleh beliau. Adik – adiknya ibu lahir di Banten, Indramayu dan Sumedang mengikuti tempat kerja aki. 
Sementara aki mendedikasikan diri menjadi guru, nini lebih suka menjadi pedagang. Bakat dagangnya nini diturunkan ke anak anak perempuannya termasuk ibu saya. Sementara kakak kakaknya nini lebih suka menginvestasikan uangnya ke sawah dan kolam (balong), nini tetap pada pendiriannya utk menekuni dunia jual beli.
Dimasa pensiunnya, aki memutuskan untuk menetap di kampung halamannya, Situraja, Sumedang. Aki menikmati istirahat, sementara nini tetap berdagang. Dimata para tetangga, keluarga dan sahabat, nini dan aki udah kayak dua sejoli yang tak terpisahkan. Seringkali bercanda berdua, saling ledek, saling colek, ujungnya ketawa sama sama. Nini orangnya senang ngobrol, bercerita apa aja sampe yg denger jadi bosen atau ngantuk. Tapi aki gak pernah bosen denger cerita nini, aki tetap setia mendengarkan sampe nini selesai cerita.
Belasan tahun terakhir, fungsi pendengaran aki mulai berkurang. Aki jadi gak bisa dengerin cerita nini lagi sampai tuntas. Nini pun kalo ngajak aki ngobrol harus dengan suara yg agak kencang. Kadang kalo lagi ngobrol dengan suara kenceng, aki suka protes, “Tong tarik tarik teuing, gandeng!” (jangan kenceng kenceng, berisik!) 😀 Sayangnya, beberapa tahun kemudian, nini mengalami hal yang sama dengan aki, jadi mereka kalo ngobrol suka teriak teriak gitu di rumah.
Saat ini, aki pasti sangat merindukan masa masa itu. Nini belahan jiwa aki yang keras kepala dan cerewet itu sudah pergi. Kini rumah itu sepi. Sepanjang malam saya menginap di rumah aki, aki selalu memandangi foto nini, dan kemudian menangis… Saya, juga larut… 
Nini, saya memang tidak menangis saat berita itu sampai ke telinga saya. Saat itu saya menahan diri, karena harus menyelesaikan tanggung jawab yg lumayan besar. Nini pasti tau saya sangat menyayangi dan menghormati nini. Doa nini untuk saya, selalu minta kepada Allah untuk segera mempertemukan saya dengan sang jodoh. Sayang, saat itu tiba, nini tak bisa melihatnya. Saya mau seperti nini dan aki, yg tetap bersama, sampai maut memisahkan.
in memoriam
Nini Esih
Wafat : 15 Desember 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *