Category Archives: Reviews

My things & thoughts about anything!

Traveling : Curug Malela

Saya sudah mendengar cerita tentang Curug Malela sejak tahun 2008. Setelah browsing sana sini, saya tertarik banget pengen liat langsung keindahannya.
Rencana pergi ke Curug Malela beberapa kali batal. Awalnya saya akan berangkat dengan rekan rekan majelis ta’lim pertengahan 2008, batal. Akhir 2008 dengan teman teman kantor, batal. Pertengahan 2009 dengan teman teman kuliah, batal. Sehabis lebaran dengan rong geng, batal. Baru kesampaian hari Minggu kemaren bisa berangkat, itu pun dadakan atas ajakan Agung, salah satu anggota rong geng juga. Rencana ini hampir batal juga karena beberapa rekan rong geng ternyata gak bisa ikut (hmmm.. saya baru tau alasan kenapa mereka gak bisa ikut.. damn! :P). Kami berangkat bertujuh dengan formasi empat orang pria dan tiga orang wanita.
Seperti biasa, setiap saya akan berangkat menuju suatu tempat, saya pasti akan banyak cari referensi. Kebanyakan sih browsing dan blogwalking. Google maps tetep jadi andelan. Modal penting untuk berangkat ke Curug Malela gak cukup dengan insting dan informasi hasil browsing tapi juga tetep harus rajin tanya-ing. Banyaknya simpangan dan pertigaan akan bikin kita bingung, pada beberapa tempat gak tersedia petunjuk jalan.
So, how to get there?
Saya hanya akan kasih petunjuk arah. Curug Malela adanya di Kampung Manglid, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Kira-kira rutenya begini : Pintu tol Padalarang – Batujajar – Cililin – Sindangkerta – Gununghalu – Bunijaya – Rongga – Manglid. Perjalanan dari BTC Pasteur sampai ke Curug Malela menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan menggunakan mobil.

Tips dari Agung sang pengendara Landrover di daerah ini adalah :
  1. Hati hati jalan sempit. Banyak motor lalu lalang
  2. Sering sering liat spion sebelum pindah jalur, karena sering kali pas kita mau susul kendaraan di depan kita, motor di belakang ikut ikutan nyusul.
  3. Bunyikan klakson kalo nemu belokan tajam sebelum belok, karena motornya ga pernah minggir, sukanya ambil jalur tengah. Bahaya kan?
Kami sempat tersesat di daerah Sindangkerta – Gununghalu. Seharusnya, untuk mencapai Bunijaya, kami belok di pertigaan yang ada Bank BRI Gununghalu. Pertigaan lainnya yang menjadi patokan adalah pertigaan Bunijaya-Rongga, tepat sesudah Alfamart Bunijaya. Di pertigaan Bunijaya – Rongga itu banyak tukang ojek mangkal sebelah kanan ke arah Rongga. Di tempat mangkal tukang ojek itu ada petunjuk jalan nempel, tulisannya : à RONGGA 1000 Meter. Pastikan kita awas membaca tanda, atau, kalo gak mau repot, tinggal tanya sana sini aja.

Setelah masuk pertigaan menuju Kecamatan Rongga, kita akan menemukan perkebunan teh Montaya. Jalan di sini cukup membingungkan, banyak pertigaan yang bikin kita harus terus menerus tanya sama penduduk sekitar, lagi lagi, akibat ketiadaan petunjuk jalan yang memadai. Petunjuk jalan kecil  ada di depan pertigaan sebelum belok kanan dengan tulisan MARELA –> . Hmmm, jadi yang bener tuh Marela apa Malela yak? Jalan rusak dan berbatu akan kita temukan sepanjang perkebunan teh dan setelahnya.
Patokan terakhir bagi kendaraan selain jip atau kendaraan offroad lainnya dan motor adalah SD CICADAS dan SMPN Terpadu. Disinilah kendaraan harus diparkir, karena setelah patokan ini, jalannya luar biasa berbatu. Jarak ke Curug Malela dari patokan ini kurang lebih 3 kilometer. Karena kami menggunakan Landrover, kami bisa sampai ke tempat pemberhentian dengan jarak kurang lebih satu kilometer lagi menuju Curug. Lumayan, buat menghemat tenaga J.

Kami pikir, kami tak akan menemukan pertigaan lagi setelah pemberhentian mobil paling terakhir ini. Ternyata salah sodara sodara! Baru jalan sekitar 50 meter, kami sudah menemukan pertigaan dan kami gak ketemu satu orang pun untuk kami mintai informasi. Phew! Alhamdulillah, setelah beberapa menit menunggu, datanglah seorang Bapak yang baik hati mau memberi info arah. Siap siap ya kawan, perjuangan menaklukan medan menuju curug baru saja dimulai! Yang suka merokok tapi jarang olahraga, siap siap aja berasa mau pingsan.

Curug Malela terlihat dari kejauhan

Tips dari saya :
  1. Aturlah pernapasan anda dengan menarik napas dari hidung dan mengeluarkannya lewat mulut. Lumayan menambah oksigen loooh 😉
  2. Sebelum berangkat, perut jangan sampai kosong, karena medan yang sulit dan perjalanan panjang akan menghabiskan energi anda.
  3. Gunakan alas kaki yang nyaman dan memiliki sol dengan gerigi untuk mencengkram tanah. Tanah menuju curug licin dan berbatu.

Penting untuk diingat, jangan terlena untuk terlalu bahagia ketika sudah sampai curug, karena perjalanan pulangnya itu sungguh luar biasa capek! Terutama untuk anda yang kurang memperhatikan daerah lutut.. hahaha..
Well, it’s a wrap! Happy traveling!

Sampai Jumpa!

Hari ini, seorang teman telah pergi. Keluar dari tempat kerja kami setelah lebih dari dua tahun mengabdi.

Tentunya, saya dan teman teman yang lain, ingin tau alasan kepergiannya.

Jawaban sama yang saya dapatkan dari seseorang yang memutuskan untuk pindah kerja. GAJI diperusahaan yang lain lebih tinggi dan hari kerja hanya LIMA dalam seminggu. Dua hal ini yang memang tidak didapatkan di sini, sampai hari ini.

Sampai jumpa kawan! Semoga di tempat baru, kau mendapatkan hal yang tidak kau dapatkan di sini.

Ciao!

Nongkrong : Yuky Penkeik



Saya suka ngobrol ngalor ngidul sama sahabat tercinta. Topik apa aja bisa jadi bahan obrolan dalam durasi yang gak sebentar. Hal itu harus dapat diakomodir oleh tempat nongkrong yang asik, boleh lama lama stay di situ dan harga produknya gak terlalu mahal.

Dulu ampe sekarang, tempat nongkrong favorit anak Bandung selalu di Ngopi Doeloe begitu pula saya. Tapi terus karena udah over crowd, penuh terus, spertinya mesti nyari tempat nongkrong baru yang bisa mengakomodir keinginan saya dan sahabat. Sampai pada suatu ketika, seorang sahabat ngajak ketemu di tempat yang namanya masih asing bagi saya, Yuky Penkeik.

Yuky Penkeik adanya di belokan persimpangan jalan Teuku Umar dan Teuku Angkasa, tepatnya di  Jln Teuku Angkasa 28 b BandungTempatnya tidak terlalu besar, dilengkapi bangku kayu panjang yang ergonomis dan meja yang sepadan dengan kursinya dan diiringi musik jazz lounge. Rasanya belum pernah nemuin tempat seperti ini.

Menu utama yang ditawarkan di sini tentu saja penkeik (pancake dalam bahasa Inggris-red) dalam aneka rasa dan rupa. Favorit saya? Semuanya! Semua menu selalu saya coba dan rasanya semua oke banget rasanya. Minuman yang tersedia juga gak kalah seru, mulai jus buah, aneka teh dan kopi sampe minuman yang mereka racik sendiri. Harganya? Tentu saja sangat terjangkau!

Kang Yuky sang pemilik tempat -begitu dia biasa disapa, sangat bersahabat pada kami. Saking seringnya kami nongkrong di sana kali ya? Bahkan ketika ada kenaikan harga sedikit pada penkeiknya, Kang Yuky sampe minta maaf segala loh sama kami! Sejak sebelum keberangkatan ke Tidung, hampir selalu nongkrong di sana tiap minggunya. Bahkan sahabat di Bandung bisa sampe 3 kali seminggu ketemuan di Yuky Penkeik.

Saya belum bisa uplot foto produknya Yuky Penkeik, karena saya dan sahabat belum ada kesempatan untuk itu. Saya juga janji akan interview Kang Yuky untuk ditampilkan di blog saya ini. Doakan secepatnya ya!

Belum ke Bandung kalo belum mampir ke Yuky Peinkeik.

Masih penasaran sama Yuky Penkeik? Follow aja twitternya di sini