Category Archives: Reviews

My things & thoughts about anything!

Saya & Efek Rumah Kaca, sebuah kisah norak



Efek Rumah Kaca. Istilah yang seringkali saya dengar sejak SMA dimata pelajaran Biologi. Karena kuliah saya di jurusan Biologi pula, semakin seringlah saya mendengar istilah itu.

Kali ini saya bukan ingin cerita tentang Efek Rumah Kaca (ERK) sebagai istilah yang berhubungan dengan pemanasan global atau Biologi. Saya ingin cerita kalo saya sangat nge-fans sama grup band indie ini. Grup band?

…….

Belum pernah saya senorak kemarin. Norak senorak-noraknya. Waktu @america mengumumkan kalo ERK akan tampil di sana hari Jumat, 14 Januari 2010 diacara Music Environment bareng sama Glenn Fredly, saya langsung mengosongkan jadwal saya. Pokonya hari itu, saya harus nonton performance live mereka, gak boleh sampe kelewat.

Hari Jumat yang ditunggu, saya bingung mau pake baju apa. Pokonya gak boleh saltum! Walaupun akhirnya saya pake baju seadanya (seadanya tapi mikir semalem suntuk :D), at least saya pede. Dengan penuh sukacita, saya berangkat ke @America Pacific Place dan bertekad gak boleh telat. Alhamdulillah saya datang tepat waktu. Saya sempet nge-tweet beberapa kali, menyatakan kalo saya gak sabar pengen liat penampilan ERK secara langsung. Pasti keren banget, begitu ekspektasi saya.

Pas show akan dimulai, saya senyum senyum sendiri. Hey, this is my first time watch they performance, and i’m excited! Saya ngaku penggemar berat band indie ini tapi setiap mereka manggung saya selalu gak berkesempatan hadir. Saya baru bisa nonton aksi panggung mereka SEKARANG! Gak sabaaaaaarrrr…. 

Masuklah ketiga personil Efek Rumah Kaca ke atas panggung ketika dipanggil MC, yang satu lagi berhalangan hadir karena sakit. Uuuuuggghhh… Saya seneeeeeng bangeeeettt… Mereka gak banyak bicara, langsung aja mainin lagu dari album pertama dan kedua mereka sebanyak 8 lagu yang awalnya direncanakan 7 lagu. Lagu yang dinyanyikan adalah (sesuai urutan yang sebenarnya) :
  • Debu Debu Beterbangan
  • Insomnia
  • Jangan Bakar Buku
  • Hujan Jangan Marah
  • Banyak Asap Di Sana
  • Di Udara
  • Kenakalan Remaja di Era Informatika, daaaaaaannn…
  • Desember (my favorite song)
Hampir semua lagu ERK saya hafal, ya iyalah, kan ceritanya nge-fans! Pas mereka bawain lagu, saya ikut bersenandung. Sebelah saya, anak abege, ternyata lebih nge-fans sama ERK dibandingkan saya. Dia selalu nonton kemanapun ERK manggung. Wuihhh… Saya sebenernya gak berharap Desember bakal dinyanyiin, karena sampai lagu ketujuh masih belum ada tanda-tanda akan dinyanyikan. Ternyata oh ternyata, lagunya dijadiin bonus diakhir!!! YAYYY!!! Saya seneeeeeeeeeenggg!!! 



Sebuah akhir yang manis bagi saya hari itu. Semua orang malam itu nunggu Glenn Fredly, tapi saya, saya nunggu ERK. Sebelum tidur, saya nge-tweet, “rasa senengnya hari ini mengalahkan senengnya digombalin cowok”. 

NORAK. BANGET. CUIH

Biarin, yang penting saya seneng! Itu udah cukup.

 …………….



Prolog

Pernah gak kalian ngerasa sangat dekat dan attached dengan sebuah grup band hanya karena sebuah lagu?  Begitulah cerita saya dengan Efek Rumah Kaca (ERK).

Saya pertama kali tau ada band yang namanya ERK saat beli henpon. Iya, henpon. Waktu pas beli henpon, sekalian beli memory card yang udah berisi lagu. Nah, salah satu lagu yang ada di memory card tersebut adalah Cinta Melulu-nya ERK. Saat itu saya gak langsung nge-fans, saya hanya sekedar tau.

Suatu hari, seorang pria di belahan Bandung yang lain menelepon saya di malam hari. Pria 
itu sahabat saya.  Sumpah, jujur, sahabat, gak lebih. *grin*. Sempat ngobrol sebentar, tiba-tiba dia bilang dia ingin menyanyikan sebuah lagu untuk saya, pakai gitar akustik dan sengaja minjem handsfree dulu ama tantenya. Saya bengong. Teman saya itu nyanyi lagu judulnya “Desember” by ERK. Saya baru pertama kali denger lagu itu dan saya belum ngeh, itu lagu enak sebelah mananya ya? Tapi melodi lagu itu terngiang-ngiang terus di telinga saya.

Besoknya, di kantor, saya langsung buka search engine dan ketik Desember Efek Rumah Kaca. Voila! Langsung nemu link akun myspace-nya dan disitu juga ada video klip Desember. Setelah klik play, saya langsung jatuh cinta, jatuh cinta sama Efek Rumah Kaca dan Desember. Saya coba nyari link lagu lainnya dari album pertama dan kedua. Setelah didengarkan, saya suka semuanya!!! 

Ok, masih ada 10 paragraf lagi sebenernya. But, that’s enough and it’s a wrap.
*EVILGRIN*


Lihat event lain yang diselenggarakan oleh @america di sini



Diskusi oleh WWF – “Choose Your Seafood Right”

Saya mendapat kesempatan untuk hadir pada diskusi yang diselenggarakan WWF-Indonesia dengan judul “Choose Your Seafood Right”. Informasi saya dapat dari milis Nature-Trekker. Saya hanya perlu registrasi melalui email, dan voila! Undanganpun saya dapatkan.


Diskusi ini berlangsung pada hari Selasa, 11 Januari 2011 pukul 16.30 – 18.30 WIB, bertempat di @America, Pacific Place, Jakarta. Moderator acara oleh Riyanni Djangkaru (editor in chief Dive Mag Indonesia), guest speaker Ringgo Agus dan keynote speaker oleh Imam dari WWF-Indonesia.

Riyanni (Dive Mag Indonesia), Mas Imam (WWF)
dan Ringgo Agus (guest speaker)

Riyanni Djangkaru as moderator

Makanan (seafood) mu adalah tanggung jawabmu. Mengapa?

    1. Tahukah kamu bahwa konsumsi seafood yang tidak bijak berdampak pada rusaknya ekosistem laut?
    2. Tahukah kamu bahwa terdapat kaitan antara popularitas hidangansushi dengan semakin menurunnya jumlah populasi sejumlah spesies laut?
    3. Tahukah kamu bahwa kerapu dan kakap seringkali ditangkap menggunakan bom dan sianida?
    4. Tahukah kamu bahwa sebagian besar budidaya udang sangat merusak berhektar-hektar lahan mangrove?
*Pertanyaan di atas tadi dijawab dengan taktis, singkat, padat dan jelas oleh Mas Imam dari WWF Indonesia. Saya berasa kuliah ekologi kelautan nih! Pembahasan lebih lanjut dijudul yang lain ya 🙂


Pada diskusi ini, WWF memberi penekanan pada kita selaku konsumen yang ada di kota besar di Indonesia. Bukan melalui pelarangan makan seafood, melainkan untuk memilih. Memilih seafood dengan bijak,  yang aman dan layak dikonsumsi serta sudah melalui proses yang tidak membahayakan ekosistem. Seperti pada saat proses penangkapannya, pemeliharaannya (jika di tambak), pembeliannya sampai proses pengepakannya (jika makanan kaleng). Karena dalam hukum ekonomi, supply dan demand itu berlaku. Dimana masih banyak permintaan, maka harus dipenuhi dengan pengadaan.

Menurut WWF, kondisi laut kita saat ini sudah kritis, dalam arti sudah sangat jarang lagi ikan dalam jumlah besar bisa ditemui di sini, padahal permintaan masih tinggi. Nelayan Indonesia sudah kesulitan mencari ikan di laut sendiri. Banyak nelayan Indonesia berlayar hingga ke Afrika untuk mencari ikan. Laut Indonesia yang masih tergolong memiliki ikan yang “banyak” (baca : cukup untuk konsumsi sehari-hari bagi masyarakat yang makanan utamanya adalah ikan) untuk ditangkap adalah sekitar Maluku, Maluku Utara dan Papua, karena laut Jawa sudah tidak memiliki ikan dalam jumlah yang memadai untuk ditangkap.

Berdasarkan hal tersebut di atas, WWF membuat seafood guide yang berisi daftar nama dan jenis biota laut yang sering kita konsumsi.  Seafood Guide merupakan panduan konsumen untuk hidangan laut ramah lingkungan  yang terintegrasi dalam Blue Lifestyle atau gaya hidup yang peduli laut beserta isinya.

seafood guide


Ada tiga kelompok seafood yang terdapat dalam seafood guide yang dikeluarkan oleh WWF yaitu : 
  • HINDARI  :  Seafood dari daftar ini mengalami penurunan populasi yang serius di alam dan proses penangkapannya mungkin terjadi tangkapan sampingan (by-catch) terhadap satwa yang dilindungi
  • KURANGI : Produk ini seringkali diperoleh dengan cara penangkapan yang tidak lestari atau tidak ramah lingkungan
  • AMAN : seafood yang jumlahnya masih berlimpah dan aman untuk dikonsumsi.

Dari tiga kelompok tadi, setiap jenisnya dikelompokan lagi menjadi empat, yaitu :

  1. Spesies dilindungi secara hukum
  2. Perkembangbiakannya lambat dan sedikit, dan rentan terhadap overfishing atau tangkapan berlebihan
  3. Cara penangkapannya sangat merusak habitat
  4. Berbahaya bagi kesehatan karena mengandung ciguatera atau memiliki kandungan logam berat yang terakumulasi dalam tubuhnya, contoh ikan karang/coral. 
Lihat informasi selengkapnya di sini


Diskusi ini diselingi dengan tanya jawab, tukar pendapat dan cerita dan tentu saja kuis.  Seru banget! Menambah ilmu dan menjadi trigger atau pemicu bagi saya untuk kembali mendalami dunia pantai dan laut yang dulu pernah menjadi bahan skripsi saat kuliah. Saya juga jadi kepikiran untuk sekolah lagi, ngambil ilmu yang ada hubungannya dengan ekologi laut.

goodies from WWF


Terima kasih untuk WWF.


Nonton Bola di Big Screen


Ini seharusnya menjadi tiket saya dan teman teman saat laga semifinal timnas sepakbola Indonesia – Filipina leg-2 AFF-Suzuki Cup. Tapi apa mau dikata, nasib berkata lain. Dompet teman saya kecopetan saat sedang mengantri di loket penukaran tiket sektor 14 pintu VII Gelora Bung Karno. Barang yang hilang berupa 1 unit Blackberry, ponsel CDMA, uang tunai 1.4 juta, resi tiket utk 38 buah, kartu atm, kartu identitas dan kunci apartement.

Tapi kami tidak kecewa, kami masih bisa nonton di big screen yang disediakan panitia di luar stadion. Ternyata yang tidak bisa masuk karena masalah tiket bukan hanya kami. Hampir semua pendukung timnas Indonesia yang menonton bersama kami sama sama tidak dapat tiket karena satu dan lain hal.
Saya, baru kali ini nonton bareng pertandingan sepakbola di big screen, outdoor dan masih dalam kompleks GBK. Alhamdulillah cuaca cerah, bulan hampir purnama tepat di atas kepala kami. Bersama saya saat itu bukan hanya para pria, para wanita pun ternyata banyak! Ah, saya jadi merasa aman. 🙂
Ketika pertandingan akan dimulai, kami sudah siap posisi enak. Kiri kanan kami lapang dan bisa selonjoran kaki. Wah, nyaman banget ya ternyata, pikir saya. Lagu Indonesia Raya mulai berkumandang dan diakhiri dengan saling berjabat tangan antar pemain dari kedua kesebelasan. Tapi ada yang aneh! Saya hanya belum ngeh, apa yang bikin aneh?
Babak pertama pun dimulai. Yel yel dan lagu Garuda di Dadaku mulai kami nyanyikan bersama sama. Tapi saya mengerutkan dahi, ini semakin aneh! Mengapa Zulkifli berubah posisi menjadi bek kanan ya? Usut punya usut, selidik punya selidik, ternyata kami nonton di permukaan screen yang salah sodara sodara!! Semua yang kami tonton jadi terbalik!! Hahaha… 
Kami pun pindah tempat ke permukaan screen yang benar dan tempatnya sudah penuh! Kami harus mencari spot terbaik, yang layarnya bisa terlihat secara utuh. Tapi semua tempat di tengah sudah tak bisa menampung kami. Akhirnya kami nonton di pinggir, bersebelahan dengan penjual bakpao, minuman dingin botolan dan siomay. Nontonnya penuh perjuangan, karena celah yang kami dapat sempit, diantara kepala banyak orang. 
Seorang penonton sempat mencela, “Waah.. offside!! Bakpaonya offside!!” Maksudnya, gerobak bakpaonya menghalangi penglihatan mereka. Yang lain menimpali, “Kok bolanya berubah jadi siomay yaaa??”. Penonton yang lain ikut berteriak :
“Kayaknya nonton bola gak perlu pake helm deh!”
“Duduk lebih cakep deh, Mas!”
“Pohon ngalangin mata mending ditebang aja kali ya?”
Komentar komentar dari para penonton di samping, depan dan belakang saya lucu dan kocak. Saya ngakak ngikik sampe sakit pipi dan kulit perut sepanjang pertandingan.
Pertandingan malam ini berakhir dengar skor 1-0 untuk Indonesia. Kami semua senang dan lega. Tapi, saya gak mau nonton bola di outdoor lagi ah, masuk angin! 😛
**Pada saat Christian Gonzales membuat gol spektakuler dengan kaki kirinya, semua penonton berdiri dan loncat loncat, ekspresi dari kepuasan dan kebahagiaan! Jujur, saya gak bisa melihat proses terjadinya gol pada saat itu karena pandangan terhalang, jadi pas semua orang teriak GOL, saya hanya ikut-ikutan aja. 😀