Author Archives: dailydewi

Halaman Satu Google

Ini info yang gak penting banget sebenernya. Tapi, berada di halaman satu Google untuk pencarian kata Pundung merupakan sesuatu bagi blog saya. Posting dengan judul Pundung ini paling banyak page viewsnya diantara postingan saya yang lain.

Penyebab nongkrongnya blog saya di halaman satu Google dengan kata Pundung ini mungkin disebabkan oleh :

  1. Tulisan saya memuat info yang dicari oleh para pencari
  2. Tulisan yang lainnya tidak terlalu menarik dibaca
  3. Belum ada tulisan lain yang serius membahas tentang kata ini. Ataaaauuuu….
  4. Tulisan saya emang keren! 
Hehe.. No Offense 😛
Tips biar nongkrong di halaman satu Google sederhana aja : Be yourself! Tulislah apa yang ingin kamu tulis, dengan gaya bahasa kamu sendiri, dari sudut pandang kamu sendiri, pokonya tumpahkan apa yang ada di dalam diri deh.

Klo sudah berhasil, kabarin saya ya! 🙂

Work Traveling : Jambi

Kota Jambi, ibukota dari Provinsi Jambi, adalah kota yg terus terang tidak terlalu saya rindukan dibandingkan dengan kota-kota lainnya di pulau Sumatera. Tujuh tahun lalu, saat pertama kali saya menginjakan kaki ke kota ini, kesan yg saya dapatkan adalah, tua. Hehe, no offense ya.

Tanggal 9 – 12 Februari 2012, atas perintah atasan, saya harus ke Jambi. Dulu saya menggunakan travel atau bis dari Palembang/Bengkulu/Padang ke Jambi, kali ini saya menggunakan pesawat. Bandara Sultan Thaha, tempat saya mendarat berukuran kecil, mirip dengan bandara di Bengkulu dan Banjarmasin tahun 2005 – 2007.  
Memasuki Kota Jambi, saya melihat bahwa kota ini tidak banyak berubah. Bangunan – bangunan lama masih banyak, Sungai Batang Hari belum banyak berubah, Mal WTC pun masih seperti dulu dengan penambahan beberapa tenant brand yg sudah cukup familiar, Pasar Angso Duo masih sama, suasananya sama, hawanya sama, kepentingan saya untuk datang ke kota ini pun masih sama.
Kota Jambi tidak sebesar Bandung apalagi Jakarta. Hampir mirip dengan Bandung, banyak jalan yg dibuat satu arah di sini. Kemacetan jarang sekali ditemukan. Angkutan umum di dalam kota, sepanjang pengamatan saya hanya ada 2 dengan 2 warna yg berbeda, kuning dan biru. Di Jambi juga ada taksi, tanpa argo namun ber-AC. Ojek juga banyak terlihat nongkrong di pinggir jalan.
Kota Jambi dari Udara
(source : enjoy-tour-indonesia.blogspot.com )
Biarpun di mata saya Kota Jambi tidak banyak berubah, tapi senang sekali bisa datang lagi ke kota ini. Tujuh tahun lalu saya tidak banyak berinteraksi langsung dengan warga lokal, tahun ini iya. Yang mengejutkan saya, cukup banyak orang Sunda di sini. Bahkan, istri dari wakil walikota Jambi adalah orang Sunda asli! 
Warga Jambi menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa ibu. Bahasa Melayu Jambi, sedikit berbeda dengan bahasa Melayu Padang dan Pekanbaru. Perbedaan yg sangat signifikan adalah : Jambi menyebut angka satu sebagai sikok, Padang menyebutnya ciek. 
Tempat wisata di Jambi tidak banyak saya ketahui. Saya hanya tau Sungai Batang Hari saja :D. Orang lokal menyebut pinggir sungai ini sebagai Ancolnya Jambi. Di sana ada tempat nongkrong, penjual jagung bakar dan muda mudi berpasang-pasangan. Hehe. Oya, Sebelum berangkat ke Jambi, saya membaca informasi mengenai gerakan save situs Muaro Jambi di twitter dan di media. Saya ingin ke sana, tapi sayang waktunya tidak ada. 🙁
Tautan : 
Next time ke Jambi lagi, misi saya bukan lagi untuk bekerja dan gak sempet kemana-mana. Saya pengen ke Kerinci, pegunungan Bukit Barisan dan mengunjungi Suku Anak Dalam. 🙂

Hiking : Talaga Bodas, Garut

Sebelumnya, saya gak tau kalo di Garut ada yg namanya Talaga Bodas. Saya malah taunya Talaga Bodas itu salah satu nama jalan di Bandung, rupanya tempat bernama Talaga Bodas itu beneran ada! Hehe..

Talaga Bodas mirip sama Kawah Putih, Ciwidey, yaitu kawah yg memiliki air berwarna putih. Mencapai Talaga Bodas tidak mudah, karena jalannya berbatu dan sulit dilalui kendaraan. Jaraknya dari Wanaraja jika ditempuh dengan kendaraan bermotor mungkin sekitar 1-2 jam.

Setelah lama tertunda dan banyak ngobrol sama temen saya, akhirnya pergi ke Talaga Bodas pun terwujud. Minggu, 22 Januari 2012 kami berenam pergi kesana. Saya, Rita, Yuda, Dian dan Dicky janjian di terminal Cicaheum, Bandung, sementara Agung menunggu di terminal Guntur Garut.

Dari terminal Guntur, kami naik angkot jurusan Wanaraja dan turun di pasar. Kami melanjutkan perjalanan menggunakan ojek sampai titik desa tertinggi (namanya lupa) sebelum mencapai Talaga Bodas. Dari situ, kami harus berjalan kaki sekitar 2 jam lagi.

Ada gerbang Opalin sebelum kita memasuki kawasan Talaga Bodas ini. Disitu, kita harus bayar retribusi sebesar dua ribu rupiah. Oya, kalo kehabisan perbekalan, kita bisa beli di warung yg letaknya persis di gerbang Opalin ini.

Talaga Bodas
Talaga Bodas
Selain Talaga Bodasnya itu sendiri, disini juga ada pemandian air panas gratis dan kawah saat. Kawah saat ini gak ada airnya, dan masih aktif. Tanahnya gak padat dan asap berbau belerang masih keluar dari sela sela batu dan tanah di sekitar kawah.
Kawah Saat

Kawah Saat

Perjalanan hiking ditutup dengan pegel pegel kaki. Yaeyalah.. Hehe.. Ketika turun, kami mengambil jalur utama utk kendaraan yg berbatu. Jalurnya lumayan panjang dan membosankan. Namun, karena diiringi dengan celetukan dan candaan dari semua anggota rombongan, perjalanan pun terasa cukup menyenangkan. 
Next destination : Keliling Kawah Di Gunung Tangkuban Perahu. Anyone? 🙂