Monthly Archives: November 2018

Trip Taman Nasional Komodo 2 Hari 1 Malam, Hari Pertama

Kamu udah baca kan postingan saya tentang trip Labuan Bajo 4 hari 3 malam di sini? Nah, saya akan cerita lebih dalam lagi mengenai trip ke Taman Nasional Komodo selama 2 hari 1 malam dan menginap di kapal.

Tahukah kamu, Taman Nasional Komodo adalah sebuah kawasan yang terdiri atas beberapa pulau dan termasuk laut serta pantainya? Tiga besar pulau berdasarkan luasannya adalah Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar (lihat gambar). Kenapa membutuhkan waktu lama untuk bisa mencapai antar pulau? Karena kita harus mengelilinginya sebelum sampai ke pintu masuk Taman Nasional di setiap pulau. Pink Beach dan Manta Point juga termasuk dalam satu kawasan Taman Nasional Komodo

Titik biru kapal itu kami yang akan menjelajah TN Komodo

“Mba, nanti menginapnya sharing pakai matras dan kapalnya open deck ya!” Itu pesan mbanya semalam sebelum saya terlelap tidur. Gak pernah berharap yang muluk muluk, sayapun sudah membebaskan pikiran untuk terima aja apa adanya dan berjanji akan menikmati trip ini dengan penuh sukacita.

Itinerary yang dikasih oleh kakak di tour adalah sebagai berikut :

Day 1 : Pulau Rinca, Pulau Komodo, Pink Beach

Day 2 : Pulau Padar, Manta Point, Pulau Kanawa.

Besok paginya saya diminta sudah stand by jam 7 pagi di penginapan karena akan dijemput sama mba nya pake motor. Sambil terburu buru ngoles ngoles mentega dan menaburkan meises ke roti tawar saya pun siap di jam yang telah ditentukan. “Kita berangkat jam 7.25 dari pelabuhan ya!” Gitu pesannya. Saya mengangguk. Sesampainya di pelabuhan, Mbanya menunjuk sebuah kapal, “Itu yang akan jadi kapal mba nanti ya barengan ama bule bule 7 orang. Jangan takut, ada ceweknya kok 2 orang.” Katanya. Saya senyum aja, udah bodo amat mau kapalnya kayak gimana dan temen ngetripnya siapa aja. Apapun itu, saya mau menikmati setiap detiknya, setiap momennya dan setiap prosesnya.

Pukul 8 kurang, semua peserta tur sudah lengkap 8 orang, kru kapal 2 orang juga sudah stand by tapi kapten kapalnya belum nongol, lagi urus administrasi di kantor pelabuhan katanya. Selain kami, ada beberapa rombongan turis mancanegara yang sama sama mau ngetrip juga dengan kapal yang berbeda. Saya mencatat ada 3 rombongan yang berangkat. Pukul 8 lewat beberapa menit, kaptennya tergepoh-gepoh masuk kapal sambil bilang, “Maaf ya mba, tadi urus administrasi dulu agak lama. Kita langsung berangkat ya!” Iyaaa pak, kata saya dalam hati, hayuk capcuuuss..! Tak berapa lama jalan, kapten nanya, “Mba guidenya ya?” Saya dengan halus jawab, “Bukan pak, saya juga peserta tur.” Kaptennya ngangguk ngangguk.

Deck kapal yang akan membawa kami menjelajahi Taman Nasional Komodo

Hhhh, sayangnya saya lupa mengabadikan seperti apa kapal yang kami tumpangi. Saya coba deskripsikan ya. Kapal terdiri atas 2 deck. Deck atas diisi oleh matras anti air, bantal dan atapnya hanya setengah. Sekeliling bawah atap ada plastik bening yang berguna untuk melindungi penumpang dari angin dan hujan. Di deck bawah paling belakang berturut turut ada genset, dapur kecil, toilet, ruang kapten kapal, kursi dan meja makan untuk 6 – 8 orang dan kontainer yang isinya sepatu kami serta alat alat snorkeling. Di atas meja makan terdapat gelas kaca bening, termos air panas, wadah gula dan kopi serta sesisir pisang ambon. Di bawah meja terdapat kontainer dengan es yang isinya air mineral dalam botol, ada juga bir punyanya bule bule yang mereka beli di minimarket sekitaran Labuan Bajo.

Para bule bule mulai ngobrol dan mencairkan suasana satu sama lain sementara saya belum kepengen. Saya melipir sendiri aja ke deck depan sambil nikmatin pemandangan yang indah. Beberapa orang naik ke deck atas buat sunbathing, yang lainnya tetap di bawah dan ngobrol. Saya sempet buka google maps untuk lihat rute perjalanan kami hari ini. Iya, seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, jangan takut mati gaya gegara sulit eksis karena sinyal si merah cukup kuat di area Taman Nasional Komodo ini. “Kita akan sampai dalam 3 jam mba ke Pulau Rinca!” Kapten kapal berseru pada saya. Wuoooh, lama juga ya. Tapi seperti tekad dalam hati, mari nikmati saja. 🙂

Setelah berjemur lama, kami pun tiba di Pulau Rinca pukul 11 siang. Sayapun bersiap memakai kaos kaki dan sepatu. Yang lucu, bule bule cowok bertiga yang belakangan saya tau ternyata asalnya dari Spanyol dan diem di deck bawah udah saling oleh olesin sunscreen satu sama lain dan bersiap untuk nyebur. Pas liat dermaga mereka bingung, kita nyebur di mana nih? Gitu kali pikirnya. Haha.. Akhirnya si cewek cewek yang ternyata orang Jerman ngasih tau, “Guys, kita jelajah Pulau Rinca dulu buat liat komodo sekarang, nyeburnya masih lama.” Para cowok Spanyol pun maklum, kayaknya agak kecewa juga, karena harapan mereka ke laut itu buat nyebur, bukan buat trekking. :)) Sambil teriak, kru kapal memberi tahu saya bahwa waktu yang kami punya di Pulau Rinca ini hanyalah 1 jam saja yang artinya short trek.

Perahu kami bersandar di dermaga Pulau Rinca

Selepas dermaga, kami disambut oleh para pria berseragam hijau lengkap dengan name tag dan topi. Di bagian punggungnya ada tulisan dalam bordiran “Naturalist Guide”. Rupanya namanya bukan ranger lagi sekarang. “Berapa orang rombongannya mba?” tanya bapaknya. “Delapan orang, pak.” jawab saya. “Mba guidenya ya?” tanya rangernya. Saya nyengir kuda. Kamipun berjalan bersama menuju tempat tiket. Saya colongan tanya sama bapaknya, “Kita bisa ketemu sama komodonya gak pak hari ini?”. Sambil senyum bapaknya bilang, “Kita lihat nanti aja ya mba.” Iiiiiiiih, kan kita penasaran ya. Yamasa udah jauh jauh ke sini kagak ketemu komodo. Rugilaaah.

Tempat Rangers ngumpul di dermaga Loh Buaya

Gerbang selamat datang di Loh Buaya

Kamipun diarahkan ke seorang bapak bagian tiket. Semua bule tertib ngantri untuk bayar dan mengisi buku tamu. Setelah selesai, bapaknya menginformasikan pada kami semua agar menyimpan dengan baik tiketnya karena tiket tersebut berlaku untuk seharian menjelajah seluruh kawasan Taman Nasional Komodo. Jika mengacu pada itinerary, artinya besok di Pulau Padar kami harus bayar tiket lagi. Bapak petugas tiket melirik saya lalu nanya, “Mba guidenya ya?” Saya nyengir lagi. Hari ini udah 3 orang yang menyangka bahwa saya guide dari para bule itu, padahal saya juga bayar full paketnya! :))

Selesai urusan administrasi, kami berkumpul di dekat papan pengumuman untuk briefing do & don’ts selama trekking. Para rangers yang kesemuanya adalah penduduk asli Taman Nasional ini fasih banget berbahasa Inggris. “Please stay in group and keep distance from the dragon. If you have any question, please ask me and i’ll try to answer it.” Gitu katanya. Keren ya! Oke, singkat cerita, ini poin poin yang saya rangkum mengenai Pulau Rinca dan komodonya :

Pulau Rinca (Loh Buaya)

  • Disebut juga Loh Buaya karena terdapat mangrove di sekeliling pulau yang konon masih banyak buayanya.
  • Di dermaga kamu langsung disambut oleh para ranger yg akan menjadi guidemu selama track. Ranger akan mengarahkanmu ke loket masuk.
  • Komodo banyak berkumpul di dapur pada pagi hari. Di Pulau Rinca, dapurnya para ranger mudah terjangkau oleh komodo sehingga mereka berkumpul dalam jumlah besar di sana.
  • Kita akan melihat sarang komodo dimana terdapat telur telur yg dijaga oleh komodo betina.
  • Kami ketemu tokek gede di atas pohon tapi bunyinya aneh. Kata ranger kami sangat beruntung bisa lihat tokek, biasanya mereka susah dicari. Baik, ini keberuntungan pertama yang saya dapatkan selama short trek.
  • Banyak kotoran kerbau air di sepanjang jalan.
  • Kita akan naik bukit dimana terlihat pemandangan dermaga Pulau Rinca dari atas
  • Short trek durasinya kurang lebih 1 jam.

Komodo show. :))

Komodo ngumpul di deket dapur

geng sekapal trekking menuju puncak Pulau Rinca

Puncak Pulau Rinca

Setelah satu jam, kamipun kembali ke kapal. Tak disangka, rupanya makan siang udah siap! “Mba, makan siangnya sambil kita jalan ke Pulau Komodo ya. Takutnya kesorean sampe sana.” Kata kapten. Aye aye capt! Udah kelaperan nih! Jadilah kami makan siang di perjalanan. Menu siang itu adalah : goreng tempe pake tepung, goreng terong ungu, ikan tongkol bumbu kecap, sayur labu dan mie goreng. Chefnya adalah sang kapten beserta krunya. Nyam nyam. Saya gak banyak ambil foto soal kegiatan di kapal karena mencoba untuk sopan dan menjaga privasi. Orang bule suka keberatan kalo wajahnya diabadikan trus diposting tanpa seijin dia.

Sekitar pukul 15.40 kami tiba di Pulau Komodo. “Mba, di sini sejam juga ya berhentinya!” Kata sang kapten saat kami bersiap memakai sepatu. Keadaan sungguh berbeda. Terlihat lebih liar, dingin dan gersang. Di Pulau Komodo ini saya gak melihat adanya mangrove seperti di Rinca.

Gerbang masuk (Taman Nasional) Pulau Komodo

Pulau Komodo (Loh Liang)

  • Disebut Loh Liang karena merupakan sarang/rumah utama dari komodo. Populasi komodo terbesar memang ada di pulau ini.
  • Dari dermaga, ada gapura selamat datang, namun setelah itu kami kebingungan harus kemana karena tak ada satupun orang yg bisa kami tanyai. Lantas kami belok kiri dan ada seorang bapak yg mengarahkan kami untuk lurus terus sampai bangunan besar tempat para ranger berkumpul dan loket berada
  • Terdapat kolam kecil buatan untuk membantu hewan hewan minum saat musim kemarau berkepanjangan tiba. Kami bertemu 2 ekor komodo besar yg sedang bermalasan dan 1 ekor komodo kecil yg langsung kabur begitu tahu ada seniornya di sana. Komodo dewasa gak segan segan membunuh yang kecil saat dia lapar.
  • Kami juga bertemu 2 ekor komodo kecil lainnya di perjalanan short track. Menurut ranger, kami beruntung banget bisa ketemu, biasanya susah banget. Baik, ini keberuntungan kedua yang saya dapatkan selama short trek.
  • Hampir tidak ada kotoran kerbau air yang bisa kami temukan selama short track
  • Rangernya bilang, sebaiknya jangan datang di bulan Juni – Juli, komodo akan susah ditemui. Kenapa? Lagi musim kawin! Mereka (si jantan) akan “hunting” betina sampe blusukan katanya. Betina sama jantan populasinya 1:3 jadi semacam rebutan gitu. Kalo pun beruntung, kita hanya akan ketemu komodo hunting yg buru buru lari aja jadi susah buat foto foto.
  • Menurut rangers, komodo di Loh Liang lebih liar dari pada Loh Buaya karena kontur pulau dan keadaan alamnya.
  • Banyak sekali jenis burung yang saya lihat seliweran di sekitar pohon tepi pantai. Kakaktua dan kepodang sahut sahutan berbunyi saat kami datang, mungkin mencari perhatian. Halah.

Komodo muda kabur takut ketauan ama yang dewasa

Kekeringan melanda akibat sejak April belum turun hujan lagi

Memberanikan diri foto bareng ama kakang komodo sambil berdoa terus karena takut. :))

Setelah semuanya berkumpul, kami melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit menuju Pink Beach. Setelah diperhatikan, hampir semua bagian pantai di pulau ini pasirnya warna pink. Jadi, dimanapun kamu berlabuh gak masalah. Namun tentunya kapten tau spot mana yang paling keren dan disanalah kami merapat.

“Mba, sedang surut ini jadi kapal tak bisa merapat.” Kata sang Kapten.

“Terus gimana dong?” Kata saya.

“Mba renang aja sampai pantai, atau kalo malas renang harus naik taksi (kapal kecil) ongkosnya 20K pp.”

Bhaiiiiique. Tau aja nih saya lagi males basah basahan hari ini. :)) Saya beserta salah satu cewek Jerman pun naik taksi. Bukan apa apa, saya melihat sunset udah mulai muncul dan saya gak mau kehilangan momen ini. Sesampainya di bibir pantai, saya langsung memutuskan untuk naik bukit. Sempet pesimis tapi yasudahlah, momen harus dikejar walaupun turunnya licin dan jempol sempet kesabet duri sampe berdarah.

Pink beach!

Sunset di atas bukit Pink Beach

Pink Beach dari atas bukit

Kapten memanggil kami semua untuk segera masuk kembali ke kapal karena hari sudah mulai gelap. “Kita akan menuju tempat menginap mba.” Wuoh, penasaran saya. Menuju titik tempat kami akan menginap, kami disuguhi sunset yang indah. Sesampainya di lokasi, saya melihat lebih dari satu kapal berlabuh di teluk itu. Alhamdulillah banyak temen.

Sambil menunggu makan malam disiapkan, kami mulai mengobrol lebih akrab satu sama lain. Karena waktu baru aja menunjukkan pukul 18.30 sementara kami biasa tidur diatas pukul 9 malam. Ngalor ngidul kesana kemari, apa aja diobrolin. Saya lihat si cewek Jerman ini pandai membuka obrolan sehingga yang lain merasa terhibur. Insight yang bisa saya dapatkan dari obrolan itu adalah :

  • Kami gak sama sekali menyebutkan nama saat mengobrol. Barangkali, sebuah nama lebih private dibandingkan agama
  • Topik yang dibahas merupakan pengetahuan umum, adu pinter wawasan lah gampangnya mah
  • Gak ada judgement satu sama lain sehingga sama sama merasa nyaman
  • Ini adalah ajang lo promosi tentang kebaikan dan keunggulan negara lo di bandingkan negara lain. Kuasai cara membuat kue dadar gulung dan pisang goreng, karena cowok cowok Perancis dan cowok cowok Spanyol itu ternyata suka banget!
  • Siapa sangka bahwa si cowok cowok Spanyol ini profesinya polisi dan pemadam kebakaran. Ganteng beuuud ya Allaaah.

Setelah habis obrolan, kamipun beranjak untuk bersiap istirahat. Para bule tidurnya di deck atas, saya di deck bawah. Sebelum tidur, saya sempet motret bulan sabit dan taburan bintang di langit sebelum akhirnya terlelap tidur. Besok akan ketemu apa saya gak tahu, yang jelas saya sangat bersyukur hari ini banyak dapet rezeki berupa keberuntungan yang terus menerus digaungkan oleh sang rangers. Saya juga bersyukur bisa bahagia banget ketemu komodo. Merebes mili jadinya saat teringat mimpi lama bertahun tahun lalu perlahan lahan bisa terwujud walaupun dalam bentuk lain.

 

Tulisan selanjutnya adalah cerita lengkap perjalanan di hari kedua, hiking ke Pulau Padar yang terkenal itu lalu ketemu Manta Ray dan paus!

See you soon readers!

Perjalanan Singkat 4 hari 3 Malam Ke Labuan Bajo

Prolog

Gemini adalah zodiak paling impulsif diantara yang lainnya, menurut sebuah artikel yang saya temukan di Google. Dan iya, saya sebagai orang Gemini merasakan hal itu. Termasuk saat memutuskan untuk membeli tiket (sekitar 6 minggu sebelum hari H saat Garuda Indonesia Travel Fair) dan berangkat ke Labuan Bajo kemarin itu (sekitar 4 hari sebelum hari H). Kebanyakan mikir will get you nothing. Perencanaan penting sih, tapi ya gak harus jelimet sampe details juga. Kadang, improve go show aja di lapangan justru akan lebih seru dan lebih memorable. Setidaknya buat saya si Gemini tulen. Dan dari persiapan sampai packing, saya cuman punya waktu efektif 2 hari. Gila ya. Haha.

Tentunya saya banyak browsing dulu sebelum berangkat, karena sesungguhnya saya belum tau di Labuan Bajo itu bisa ngapain aja dalam waktu 4 hari 3 malam. Selain browsing, saya juga tanya temen temen yang sudah pernah ke sana. Seorang teman pernah bilang, jangan takut, di area sekitaran pelabuhan banyak penyedia jasa tour ke Taman Nasional Komodo dan sekitarnya yang bisa dipilih sesuai dengan keinginan. Rangkuman dari rekomendasi mereka adalah :

  • One day tour (ini paling masuk akal)
  • 3d2n tour (ini mepet banget dan kayaknya gak mungkin)
  • lebih dari 5 hari tour sekaligus living on board (ini gak mungkin banget karena waktu saya gak cukup)

Otak saya tetiba ribet aja gitu mikirin pilihannya mau yang mana. Kalo pilih one day tour, terus abis itu kemana lagi? Overland gak mungkin, palingan sewa motor untuk keliling keliling. Sewa motor males soalnya menjelang sore langit mendung dan ramalan cuaca bilang diperkirakan akan turun hujan. Yaudah liat nanti kali ya. Capek mikir dan menimbang nimbang, saya tidur aja deh. :))

Di Hari H, saya kecepetan tiba di bandara Soekarno Hatta terminal 3, tapi memang sudah diprediksi karena saya ingin liburan kali ini santai banget walau short trip aja. Saya baru memutuskan untuk kontak sebuah travel agent atas rekomendasi sebuah blog yg pernah go show one day tour di bandara saat hari keberangkatan. Saat itu saya booked untuk one day tour aja, abis itu entah deh gimana nanti. Mba yang jawab chat saya bilang gini, “Mba, gak pengen 2 days 1 night aja? Udah ada 7 orang yang booking jadi bisa barengan.” Lalu mbanya kasih itinerary untuk 2d1n. Hey, kok saya gak kepikiran ya nginep semalem di kapal? Kayaknya bakal seru nih! Hasil browsing sana sini gak ada tuh yang menyarankan 2d1n. Saya jawab, “Nanti dikabarin deh, saya masih mikir enaknya gimana.”

Gaes, segala keputusan diambil memang harus berdasarkan tujuan dan hal apa yang ingin dicapai kan ya. Nah, mari kembali ke konteks bahwa tujuan keberangkatan saya ini adalah ingin explore sebanyak-banyaknya dan dapat foto sebagus-bagusnya dalam waktu singkat. Oke, maka tawaran 2d1n sepertinya lebih masuk akal. Menjelang boarding, saya langsung mantap bilang, “Mba, saya ambil paket 2d1n deh!” Dibalas mbanya, “Oke, nanti dapet fasilitas antar jemput dari dan ke bandara ya!” Alhamdulillah kagak harus pake mikir lagi sampe sana dan di dalam pesawat saya bisa tidur nyenyak. :))

So, inilah yang akan menjadi itinerary saya dalam trip singkat ini :

  • Day 1  10.50 – 14.20 Jakarta – Labuan Bajo
  • Day 2 Full Day Tour (Taman Nasional Komodo; Pulau Rinca, Pulau Komodo, Pink beach)
  • Day 3 Full Day Tour (Pulau Padar, Manta Point, Pulau Kanawa)
  • Day 4 15.10 – 16.20 Labuan Bajo – Jakarta

Transportasi

Menuju Labuan Bajo dari Jakarta, pesawat yang digunakan adalah jenis CRJ 1000 seatnya 2-2. Waktu tempuhnya sekitar 2 jam 10 menit. Saya gak foto foto saat boarding dan landing karena ribet ngeluarin kamera dan hape saat itu. Kayak gini kurang lebih penampakannya.

Garuda Indonesia CRJ 1000 (photo courtesy routesonline.com)

Kenapa pake pesawat kecil kayak gini? Karena Bandara Komodo adalah tipe perintis dengan landasan pacu pendek sehingga yang memungkinkan untuk mendarat di sini hanyalah pesawat tipe ramping dan pendek seperti CRJ dan ATR. Sepanjang penglihatan saya tipe CRJ sayapnya di bawah dan tanpa baling baling, sementara tipe ATR sayapnya di atas dan ada baling baling di setiap sayapnya. Lion, Wings dan Batik saya lihat menggunakan tipe ATR.

Boarding Pass & Luggage Tag

Pesawat jenis CRJ 1000 ini gak memperbolehkan kita untuk bawa koper kecil masuk ke kabin pesawat karena memang kompartemen bagasinya kecil. Jadilah koper saya dititip ke petugas yang berdiri di samping pintu bagasi sebelum naik tangga masuk pesawat dan memakai tag warna pink kayak di foto. Koper bisa diambil lagi setelah mendarat nanti tepat di sebelah tangga turun penumpang persis kayak waktu naik tadi.

Kabin pesawat CRJ 1000

Bandara Komodo memang berukuran kecil, namun flightnya banyak! Saya mencatat ada kurang lebih 30 penerbangan sehari dari dan ke Labuan Bajo. Jarak antara bandara ke Kampung Ujung tempat saya menginap dan juga tempat pelabuhan berada kurang lebih 5 – 8 Km. Hanya butuh 5 menit perjalanan, sudah sampai. Transportasi dari bandara ke tempat tujuan bisa menggunakan taksi atau ojek. Para pengemudinya nongkrong di pintu keluar dan menawarkan ke setiap penumpang yang telah selesai mengambil bagasi. Taksinya berupa mobil pribadi karena belum ada operator taksi resmi di sana. Tarifnya saya gak tau, namun menurut beberapa blog, untuk mobil sekitar 50K sedangkan motor sekitar 15K.

Bandara Komodo

 

Infrastruktur

Mengejutkan bagi saya bahwa Labuan Bajo sudah rapi tertata. Jalannya lebar dan bertrotoar dan tuna netra friendly. Bahkan saat ini sedang dibangun pelabuhan baru (untuk menggantikan pelabuhan lama) yang ada pertokoannya. Dilihat dari stiker dan signage yang terpampang di sana, St*rbucks dan Sp*rts Station siap meramaikan Labuan Bajo.

Jalan lebar dan trotoar yang tuna netra friendly

 

Pertokoan di Pelabuhan Labuan Bajo baru

 

Pelabuhan Labuan Bajo saat ini

Telekomunikasi

Provider yang sinyalnya paling kuat dengan internet yang paling kencang adalah si merah. Provider lain ada tapi hanya di titik tertentu saja, tapi secara umum sinyalnya kurang stabil. Saran saya sih, dari awal pakai si merah aja, supaya komunikasi dengan hotel/tour provider berjalan lancar. Tapi jikalau kepepet, di pintu keluar bandara sebelah kiri ada kios yang jual kartu simnya dengan beragam paket. Sinyal si merah ini menjangkau hampir ke semua titik di Taman Nasional Komodo. Jadi, jangan takut gak bisa eksis ya selama di sana.

Penginapan

Kerennya, hampir semua penginapan di Labuan Bajo dapat dipesan dan diakses via apps traveling. Mulai dari tipe hostel, bed & breakfast, bungalow/paviliun sampe konsep villa bintang 5 tersedia di sini. Penginapan yang berada di Jl. Soekarno Hatta menawarkan sunset view, so, kalo kamu gak mau kelewatan sunset setiap harinya, pastikan penginapan yang kamu pilih ada di lokasi yang tepat ya.

Makanan

Aneka resto dengan menu nasional sampai internasional tersebar berjajar di Jl. Soekarno Hatta juga mulai dari Pasar Ikan sampai jalan mentok satu arah habis. Jika ingin menikmati ikan bakar, datanglah ke lapangan di belakang area militer sebrang pelabuhan. Setiap malamnya setelah jam 7, berbagai jenis seafood segar tersedia di sana. Sebelum pulang, tak lupa saya pun mencoba sushi dan sashimi di sebuah resto. Kenapa sushi dan sashimi? Karena ini di pinggir laut, sudah pasti ikannya segar!

Sushi dan refreshment juice, sedotannya dari bambu!

Budget

Udah cerita panjang lebar, pasti kamu penasaran kan saya keluarin budget berapa untuk perjalanan ini? Saya coba rekap ya.

  • Tiket pesawat Garuda Indonesia beli di GATF Rp. 1,895,000,- return
  • Paket tour 2 day 1 night Rp. 1,200,000,- (kemarin saya minta diskon, dikasih)
  • Tiket masuk ke Taman Nasional Komodo 2 x Rp. 50.000,- per orang (kalo wisman Rp.150.000,-)
  • Fee per ranger Rp. 80.000,- untuk maks 4 orang pengunjung per pulau
  • Biaya parkir kapal di Taman Nasional Komodo Rp. 100.000,- dibagi jumlah rombongan
  • Biaya ‘taksi’ kapal kecil menuju Pink Beach Rp. 20.000,- per orang
  • Biaya ‘taksi’ kapal kecil menuju Pulau Padar Rp. 20.000,- per orang
  • Tiket masuk Pulau Kanawa Rp. 15.000,- per orang
  • Penginapan 3 malam Rp. 570,000,- (kipas angin dan kamar mandi di dalam tanpa tv tapi dapet breakfast roti, teh & kopi plus wifi kenceng sepanjang hari)
  • Makan malem di lapangan Rp. 85.000,- (ikan kakap merah bakar 1 ekor, cumi goreng tepung 1/2 porsi, nasi putih, es teh manis, lalapan)
  • Makan sushi, sashimi, refreshing juice Rp. 225.000,-
  • Jajan jajan Rp. 50.000,-

Kalo diitung itung, saya menghabiskan +/- Rp. 5.000.000,- untuk perjalanan ini. Oiya, di sepanjang Kampung Ujung – Jl. Soekarno Hatta kamu akan menemukan banyak ATM Bank BUMN kayak BRI, Mandiri dan BNI, sementara atm bank lain belum ada. Sebaiknya siapkan uang cash sesuai budget karena di resto serta hotel hanya menerima pembayaran secara tunai atau transfer.

Oke, so this post will ended up here. Di post berikutnya saya akan cerita soal trip 2 day 1 night secara lengkap. Kalo punya pertanyaan, please poke me at my twitter account here or my instagram account here !

See you soon, readers!