Category Archives: Trip to

My experience visiting new place or old place

Work Traveling : Pekanbaru

Here i am, for another work traveling. Pekanbaru it is.

Cerita pake bahasa enggres kurang seru ya. Lets switch ke bahasa Indonesia saja ya 😀

Seperti hal nya Jambi, ini kali kesekian saya mengunjungi kota Pekanbaru. Bandaranya masih sama, jadul. Tapi terlihat disebelahnya ada bangunan baru yang rupanya akan menggantikan fungsi dari bangunan lama sebagai bandara internasional. That’s good is it?

Memasuki daerah kota, rupanya sudah terlihat banyak sekali perubahan di kota ini. Adanya pembangunan flyover, jembatan baru di beberapa titik, bangunan perpustakaannya yang konon merupakan termegah se Asia Tenggara dan hotel hotel baru.

Perpustakaan Pekanbaru
credit photo : erydjava.com

Setelah terbengong – bengong dengan banyaknya perubahan dan pembangunan baru di kota Pekanbaru ini saya menemukan fakta bahwa ternyata dalam waktu dekat akan diselenggarakan Pekan Olah Raga Nasional (PON) di sini. Oalah, pantesan!

Di Pekanbaru juga sudah ada bis trans metro sekarang seperti halnya Jogja, Bandung dan Palembang. Sayang saya gak sempat untuk mencobanya karena keterbatasan waktu.

Trans Metro Pekanbaru
credit : Ferry Aditya

Saya melihat Pekanbaru ini sangat modern sekarang. Beda dengan Jambi yang menurut saya masih nyaman dengan kejadulannya.. Hehe.. No offense ya 😛 Selain upayanya untuk berbenah menyambut acara PON, sepertinya Pekanbaru mempercantik dirinya ya untuk dirinya sendiri sehingga para wisatawan yang berkunjung akan merasa nyaman. Well, it’s a great vision.

Sebelum saya berkunjung ke Pekanbaru, saya sempat bertanya ke seorang teman yg asli sana. “Apa tempat yang wajib di kunjungi di Pekanbaru?” Tanya saya. Seperti yang sudah saya bisa duga, jawaban teman saya tersebut adalah, “Gak ada”.

sunset at Pekanbaru, taken from 5th floor Mutiara Merdeka hotel

Happy weekend! 🙂

Work Traveling : Kuala Lumpur

Premier Lane at imigration with Deden Siswanto

I can’t imagine, my first experience going abroad would be really special.

Bu Irna was told me that she need my help. I didn’t know where we go until the email was received. Never think about it before, i will going to KL in the middle of March.
Indonesia Embassy, Garuda Indonesia and Mandarin Oriental Hotel are collaborate to held this event called Indonesia Food and Cultural Festival. Bu Irna as the designer of Irna La Perle, was invited to show her collection. She asked Deden Siswanto (one of Indonesia famous designer) to join this fashion show and KBRI approved it.
Well, this will be my first time. And, we had a first class facilitation in accomodation, transportation and immigration! See the picture above? 😉
People who working at Indonesia Embassy in Kuala Lumpur was very helpful. They served us just like we are important people. I’m really thankful!.
The show

Gamelan

Petronas Twin Tower

Bu Irna, Pa Deden, Bu Ani, Miss Tourism Indonesia and the models
If you ask me, how is Kuala Lumpur? My answer is, not so different from Jakarta. Big city, working people, foreigner, food, bus, mall, Jakarta has it all. What different? Well, you can find motorcycle in highway at Malaysia, and that was surprise me.. hehe.. 
This work traveling is only 4 days. Lot of laugh, lot of love, lot of food, full covered, hard work with less sleep. But sure, i’ll be back someday 🙂

Work Traveling : Jambi

Kota Jambi, ibukota dari Provinsi Jambi, adalah kota yg terus terang tidak terlalu saya rindukan dibandingkan dengan kota-kota lainnya di pulau Sumatera. Tujuh tahun lalu, saat pertama kali saya menginjakan kaki ke kota ini, kesan yg saya dapatkan adalah, tua. Hehe, no offense ya.

Tanggal 9 – 12 Februari 2012, atas perintah atasan, saya harus ke Jambi. Dulu saya menggunakan travel atau bis dari Palembang/Bengkulu/Padang ke Jambi, kali ini saya menggunakan pesawat. Bandara Sultan Thaha, tempat saya mendarat berukuran kecil, mirip dengan bandara di Bengkulu dan Banjarmasin tahun 2005 – 2007.  
Memasuki Kota Jambi, saya melihat bahwa kota ini tidak banyak berubah. Bangunan – bangunan lama masih banyak, Sungai Batang Hari belum banyak berubah, Mal WTC pun masih seperti dulu dengan penambahan beberapa tenant brand yg sudah cukup familiar, Pasar Angso Duo masih sama, suasananya sama, hawanya sama, kepentingan saya untuk datang ke kota ini pun masih sama.
Kota Jambi tidak sebesar Bandung apalagi Jakarta. Hampir mirip dengan Bandung, banyak jalan yg dibuat satu arah di sini. Kemacetan jarang sekali ditemukan. Angkutan umum di dalam kota, sepanjang pengamatan saya hanya ada 2 dengan 2 warna yg berbeda, kuning dan biru. Di Jambi juga ada taksi, tanpa argo namun ber-AC. Ojek juga banyak terlihat nongkrong di pinggir jalan.
Kota Jambi dari Udara
(source : enjoy-tour-indonesia.blogspot.com )
Biarpun di mata saya Kota Jambi tidak banyak berubah, tapi senang sekali bisa datang lagi ke kota ini. Tujuh tahun lalu saya tidak banyak berinteraksi langsung dengan warga lokal, tahun ini iya. Yang mengejutkan saya, cukup banyak orang Sunda di sini. Bahkan, istri dari wakil walikota Jambi adalah orang Sunda asli! 
Warga Jambi menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa ibu. Bahasa Melayu Jambi, sedikit berbeda dengan bahasa Melayu Padang dan Pekanbaru. Perbedaan yg sangat signifikan adalah : Jambi menyebut angka satu sebagai sikok, Padang menyebutnya ciek. 
Tempat wisata di Jambi tidak banyak saya ketahui. Saya hanya tau Sungai Batang Hari saja :D. Orang lokal menyebut pinggir sungai ini sebagai Ancolnya Jambi. Di sana ada tempat nongkrong, penjual jagung bakar dan muda mudi berpasang-pasangan. Hehe. Oya, Sebelum berangkat ke Jambi, saya membaca informasi mengenai gerakan save situs Muaro Jambi di twitter dan di media. Saya ingin ke sana, tapi sayang waktunya tidak ada. 🙁
Tautan : 
Next time ke Jambi lagi, misi saya bukan lagi untuk bekerja dan gak sempet kemana-mana. Saya pengen ke Kerinci, pegunungan Bukit Barisan dan mengunjungi Suku Anak Dalam. 🙂