Ribuan Purnama Mencari Perawatan Kulit Terbaik

Buat kamu yang punya kulit indah, bagus dan cerah, mungkin hidup terasa lebih mudah karena nyaris tidak ada kesulitan berarti untuk meluangkan waktu merawat wajah. Buat saya, perjuangan ngurusin yang namanya kulit wajah adalah hampir seluruh hidup. Iya, kulit saya kusam, pori pori besar, berminyak, warna kulit tidak merata dan mudah berjerawat. 

Saya ingat pertama kali merasakan wajah yg ‘bermasalah’ yaitu saat kelas 6 SD. Dahi saya bruntusan dan tidak hilang hanya dengan sekedar mencuci muka pakai sabun. Perjuangan berikutnya datang saat haid pertama kali. Wajah saya tetiba berjerawat di dahi dan disekitar pipi. Ditambah saat itu haid saya tidak lancar. Mamah ngajakin ke dokter kandungan dan juga ke dokter kulit. Oleh dokter kandungan, saya diberi obat (lupa lagi namanya) untuk memperlancar haid yang setelahnya saya merasakan nyeri hebat setiap haid datang. Setelah itu kami ke dokter kulit di Jalan Veteran. Dokternya udah senior, spesialis pulak. Beliau bilang, “Jerawat itu biasa kok buat perempuan. Yang penting kamu jangan stress dan harus tetap percaya diri ya.” Kata kata yang sangat powerful bagi remaja kayak saya dulu. Memang betul, saat itu saya betul betul gak pede. Saat teman teman cewek saya mulai dandan dan pakai kosmetik ringan, saya gak ikutan. Saat temen temen pada punya pacar, saya jomblo, sampe sekarang.. loh.. 😂😂😂

Lanjut ke masa SMA awal, jerawat hampir gak pernah absen nangkring di wajah. Ukurannya besar, merah, perih dan ada nanahnya. Tempatnya selalu beda beda, suka suka dia aja gitu mau nemplok dimana. Kadang deket bibir, kadang deket idung, kadang di tengah tengah pipi, gede banget, dan sampe sekarang masih ada bekasnya. 🙁

Di masa SMA ini saya mulai kenalan dengan krim yang diklaim dapat menghilangkan jerawat dengan cepat. Belakangan baru tahu bahwa krim itu kandungan logam beratnya sangat besar dan akan merusak organ tubuh lainnya jika digunakan secara permanen. Saya menggunakan krim itu cukup lama, sampai kuliah tingkat akhir tapi belang betong. Jika saya absen lama pakai krim itu muka saya langsung kering dan bruntusan sewajah wajah. Saya panik dan akhirnya selalu balik lagi ke krim itu. Saya dulu gak ngerti sama urusan skin care dan mungkin gak care juga sih sama sekali sehingga membawa saya ke keadaan kulit saya saat ini.

Tahun 2008 – 2009 temen kakak saya yang dokter kulit sedang eksperimen bikin skin care utk wajah berjerawat, saya jadi salah satu pencobanya. Saat itu positif thinking aja, bismillah semoga ini bisa membawa saya ke arah yg lebih baik. Saya nurut akan cara pakai dari rangkaian skin care itu. Sebulan pertama breakout parah! Jerawat gede gede dan merah bernanah muncul di seluruh wajah. Saya tapi tetap pede, karena hal ini sudah diinformasikan sebelumnya. Saya harus pakai terus sampai habis. Bulan kedua kondisi kulit semakin membaik dan tekstur semakin halus. Wajah saya pun tak berminyak lagi padahal seharian ribet di kantor. Saya optimis ini akan jadi pencarian terakhir saya. Ternyata, sang dokter harus sekolah lagi ke luar kota sehingga tidak sempat untuk membuat rangkaian skin care tersebut. Saya patah hati, ditinggal pas lagi sayang sayangnya 🙁 akhirnya, saya kembali lagi ke krim krim kecantikan gak jelas.

Perjalanan on off pakai krim krim gak jelas itu berakhir di tahun 2012. Saya udah capek ketergantungan, saya ingin “merdeka”. Alhamdulillah saat itu saya dapat rezeki untuk berangkat umroh di bulan Mei. Di Tanah Suci, sebaiknya tidak menggunakan kosmetik berlebihan dan sederet larangan lainnya. Saya pun bertekad, gak akan bawa krim krim yang bikin ribet itu, saya hanya mau pakai pelembab olive oil saja yg kita tahu berlimpah jumlahnya di Arab Saudi. Walaupun olive oil pertama yang saya aplikasikan ke wajah bawa dari Indonesia.

Saat itu media sosial lagi seru serunya, internet sudah mulai stabil di akses dari mana mana. Saya pun mendapatkan cukup informasi bahwa khasiat olive oil bagi kulit itu cukup banyak. Saya berdoa dalam hati, “Ya Allah, saya udah capek sama yang namanya gonta ganti krim wajah, sekarang terima aja deh apapun yang Allah kasih.” Dan salah satu titipan doa dari seorang bocah anak bubos bernama Nares pun mengkonfirmasi doa saya. Dia nulis gini :

Sweetest “titipan doa” that i ever had

Nangis haru banget pas baca ini. Saya peluk Nares sambil bisikin, Aamiiin Nares, makasih banyak ya :’). 

Di Tanah Suci saya betul betul hanya menggunakan olive oil sebagai pelembab wajah. Dan, alhamdulillah ini jerawat satu persatu kempes dan menghilang dari wajah saya. Efek sampingnya jerawat memang hilang namun wajah saya jadi amat sangat berminyak dan pori pori semakin besar dan nyata terlihat. Ya gak apa apa, toh doanya kan biar jerawatnya gak numbuh lagi. Dan itu yang dikabulkan oleh Allah. 

And the rest is history. Saya memang udah gak pake lagi krim jahat itu, saya beralih ke krim yang dijual bebas aja tapi tentunya terdaftar di BPOM supaya ngerasa aman. Iya, saya gak punya budget sebesar itu untuk konsultasi ke dokter secara rutin. Capek. Gak terhitung berapa banyak merk yang saya coba agar kulit saya bisa sedikit saja lebih baik dari sebelumnya.

Sampai saat ini pun saya masih berjuang untuk perbaikan yang sedikit saja itu. Bedanya, saya sekarang sudah menerima total akan kondisi kulit yang memang sudah takdirnya seperti ini. Serunya, saya jadi semakin eksplor pengetahuan soal istilah istilah yang dipakai oleh beauty influencers dan juga mulai sedikit sedikit mengaplikasikannya. Ilmu gak ada manfaatnya kalo gak digunakan bukan?

So readers, tetaplah penasaran tapi tetap menerima kondisi kulit kamu apa adanya ya.  Karena gak ada hal yang lebih membahagiakan daripada bersyukur atas ciptaan Yang Maha Kuasa. Kalo kamu punya pengalaman lebih seru, please share!

Trip Taman Nasional Komodo 2 Hari 1 Malam, Hari Pertama

Kamu udah baca kan postingan saya tentang trip Labuan Bajo 4 hari 3 malam di sini? Nah, saya akan cerita lebih dalam lagi mengenai trip ke Taman Nasional Komodo selama 2 hari 1 malam dan menginap di kapal.

Tahukah kamu, Taman Nasional Komodo adalah sebuah kawasan yang terdiri atas beberapa pulau dan termasuk laut serta pantainya? Tiga besar pulau berdasarkan luasannya adalah Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar (lihat gambar). Kenapa membutuhkan waktu lama untuk bisa mencapai antar pulau? Karena kita harus mengelilinginya sebelum sampai ke pintu masuk Taman Nasional di setiap pulau. Pink Beach dan Manta Point juga termasuk dalam satu kawasan Taman Nasional Komodo

Titik biru kapal itu kami yang akan menjelajah TN Komodo

“Mba, nanti menginapnya sharing pakai matras dan kapalnya open deck ya!” Itu pesan mbanya semalam sebelum saya terlelap tidur. Gak pernah berharap yang muluk muluk, sayapun sudah membebaskan pikiran untuk terima aja apa adanya dan berjanji akan menikmati trip ini dengan penuh sukacita.

Itinerary yang dikasih oleh kakak di tour adalah sebagai berikut :

Day 1 : Pulau Rinca, Pulau Komodo, Pink Beach

Day 2 : Pulau Padar, Manta Point, Pulau Kanawa.

Besok paginya saya diminta sudah stand by jam 7 pagi di penginapan karena akan dijemput sama mba nya pake motor. Sambil terburu buru ngoles ngoles mentega dan menaburkan meises ke roti tawar saya pun siap di jam yang telah ditentukan. “Kita berangkat jam 7.25 dari pelabuhan ya!” Gitu pesannya. Saya mengangguk. Sesampainya di pelabuhan, Mbanya menunjuk sebuah kapal, “Itu yang akan jadi kapal mba nanti ya barengan ama bule bule 7 orang. Jangan takut, ada ceweknya kok 2 orang.” Katanya. Saya senyum aja, udah bodo amat mau kapalnya kayak gimana dan temen ngetripnya siapa aja. Apapun itu, saya mau menikmati setiap detiknya, setiap momennya dan setiap prosesnya.

Pukul 8 kurang, semua peserta tur sudah lengkap 8 orang, kru kapal 2 orang juga sudah stand by tapi kapten kapalnya belum nongol, lagi urus administrasi di kantor pelabuhan katanya. Selain kami, ada beberapa rombongan turis mancanegara yang sama sama mau ngetrip juga dengan kapal yang berbeda. Saya mencatat ada 3 rombongan yang berangkat. Pukul 8 lewat beberapa menit, kaptennya tergepoh-gepoh masuk kapal sambil bilang, “Maaf ya mba, tadi urus administrasi dulu agak lama. Kita langsung berangkat ya!” Iyaaa pak, kata saya dalam hati, hayuk capcuuuss..! Tak berapa lama jalan, kapten nanya, “Mba guidenya ya?” Saya dengan halus jawab, “Bukan pak, saya juga peserta tur.” Kaptennya ngangguk ngangguk.

Deck kapal yang akan membawa kami menjelajahi Taman Nasional Komodo

Hhhh, sayangnya saya lupa mengabadikan seperti apa kapal yang kami tumpangi. Saya coba deskripsikan ya. Kapal terdiri atas 2 deck. Deck atas diisi oleh matras anti air, bantal dan atapnya hanya setengah. Sekeliling bawah atap ada plastik bening yang berguna untuk melindungi penumpang dari angin dan hujan. Di deck bawah paling belakang berturut turut ada genset, dapur kecil, toilet, ruang kapten kapal, kursi dan meja makan untuk 6 – 8 orang dan kontainer yang isinya sepatu kami serta alat alat snorkeling. Di atas meja makan terdapat gelas kaca bening, termos air panas, wadah gula dan kopi serta sesisir pisang ambon. Di bawah meja terdapat kontainer dengan es yang isinya air mineral dalam botol, ada juga bir punyanya bule bule yang mereka beli di minimarket sekitaran Labuan Bajo.

Para bule bule mulai ngobrol dan mencairkan suasana satu sama lain sementara saya belum kepengen. Saya melipir sendiri aja ke deck depan sambil nikmatin pemandangan yang indah. Beberapa orang naik ke deck atas buat sunbathing, yang lainnya tetap di bawah dan ngobrol. Saya sempet buka google maps untuk lihat rute perjalanan kami hari ini. Iya, seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, jangan takut mati gaya gegara sulit eksis karena sinyal si merah cukup kuat di area Taman Nasional Komodo ini. “Kita akan sampai dalam 3 jam mba ke Pulau Rinca!” Kapten kapal berseru pada saya. Wuoooh, lama juga ya. Tapi seperti tekad dalam hati, mari nikmati saja. 🙂

Setelah berjemur lama, kami pun tiba di Pulau Rinca pukul 11 siang. Sayapun bersiap memakai kaos kaki dan sepatu. Yang lucu, bule bule cowok bertiga yang belakangan saya tau ternyata asalnya dari Spanyol dan diem di deck bawah udah saling oleh olesin sunscreen satu sama lain dan bersiap untuk nyebur. Pas liat dermaga mereka bingung, kita nyebur di mana nih? Gitu kali pikirnya. Haha.. Akhirnya si cewek cewek yang ternyata orang Jerman ngasih tau, “Guys, kita jelajah Pulau Rinca dulu buat liat komodo sekarang, nyeburnya masih lama.” Para cowok Spanyol pun maklum, kayaknya agak kecewa juga, karena harapan mereka ke laut itu buat nyebur, bukan buat trekking. :)) Sambil teriak, kru kapal memberi tahu saya bahwa waktu yang kami punya di Pulau Rinca ini hanyalah 1 jam saja yang artinya short trek.

Perahu kami bersandar di dermaga Pulau Rinca

Selepas dermaga, kami disambut oleh para pria berseragam hijau lengkap dengan name tag dan topi. Di bagian punggungnya ada tulisan dalam bordiran “Naturalist Guide”. Rupanya namanya bukan ranger lagi sekarang. “Berapa orang rombongannya mba?” tanya bapaknya. “Delapan orang, pak.” jawab saya. “Mba guidenya ya?” tanya rangernya. Saya nyengir kuda. Kamipun berjalan bersama menuju tempat tiket. Saya colongan tanya sama bapaknya, “Kita bisa ketemu sama komodonya gak pak hari ini?”. Sambil senyum bapaknya bilang, “Kita lihat nanti aja ya mba.” Iiiiiiiih, kan kita penasaran ya. Yamasa udah jauh jauh ke sini kagak ketemu komodo. Rugilaaah.

Tempat Rangers ngumpul di dermaga Loh Buaya

Gerbang selamat datang di Loh Buaya

Kamipun diarahkan ke seorang bapak bagian tiket. Semua bule tertib ngantri untuk bayar dan mengisi buku tamu. Setelah selesai, bapaknya menginformasikan pada kami semua agar menyimpan dengan baik tiketnya karena tiket tersebut berlaku untuk seharian menjelajah seluruh kawasan Taman Nasional Komodo. Jika mengacu pada itinerary, artinya besok di Pulau Padar kami harus bayar tiket lagi. Bapak petugas tiket melirik saya lalu nanya, “Mba guidenya ya?” Saya nyengir lagi. Hari ini udah 3 orang yang menyangka bahwa saya guide dari para bule itu, padahal saya juga bayar full paketnya! :))

Selesai urusan administrasi, kami berkumpul di dekat papan pengumuman untuk briefing do & don’ts selama trekking. Para rangers yang kesemuanya adalah penduduk asli Taman Nasional ini fasih banget berbahasa Inggris. “Please stay in group and keep distance from the dragon. If you have any question, please ask me and i’ll try to answer it.” Gitu katanya. Keren ya! Oke, singkat cerita, ini poin poin yang saya rangkum mengenai Pulau Rinca dan komodonya :

Pulau Rinca (Loh Buaya)

  • Disebut juga Loh Buaya karena terdapat mangrove di sekeliling pulau yang konon masih banyak buayanya.
  • Di dermaga kamu langsung disambut oleh para ranger yg akan menjadi guidemu selama track. Ranger akan mengarahkanmu ke loket masuk.
  • Komodo banyak berkumpul di dapur pada pagi hari. Di Pulau Rinca, dapurnya para ranger mudah terjangkau oleh komodo sehingga mereka berkumpul dalam jumlah besar di sana.
  • Kita akan melihat sarang komodo dimana terdapat telur telur yg dijaga oleh komodo betina.
  • Kami ketemu tokek gede di atas pohon tapi bunyinya aneh. Kata ranger kami sangat beruntung bisa lihat tokek, biasanya mereka susah dicari. Baik, ini keberuntungan pertama yang saya dapatkan selama short trek.
  • Banyak kotoran kerbau air di sepanjang jalan.
  • Kita akan naik bukit dimana terlihat pemandangan dermaga Pulau Rinca dari atas
  • Short trek durasinya kurang lebih 1 jam.

Komodo show. :))

Komodo ngumpul di deket dapur

geng sekapal trekking menuju puncak Pulau Rinca

Puncak Pulau Rinca

Setelah satu jam, kamipun kembali ke kapal. Tak disangka, rupanya makan siang udah siap! “Mba, makan siangnya sambil kita jalan ke Pulau Komodo ya. Takutnya kesorean sampe sana.” Kata kapten. Aye aye capt! Udah kelaperan nih! Jadilah kami makan siang di perjalanan. Menu siang itu adalah : goreng tempe pake tepung, goreng terong ungu, ikan tongkol bumbu kecap, sayur labu dan mie goreng. Chefnya adalah sang kapten beserta krunya. Nyam nyam. Saya gak banyak ambil foto soal kegiatan di kapal karena mencoba untuk sopan dan menjaga privasi. Orang bule suka keberatan kalo wajahnya diabadikan trus diposting tanpa seijin dia.

Sekitar pukul 15.40 kami tiba di Pulau Komodo. “Mba, di sini sejam juga ya berhentinya!” Kata sang kapten saat kami bersiap memakai sepatu. Keadaan sungguh berbeda. Terlihat lebih liar, dingin dan gersang. Di Pulau Komodo ini saya gak melihat adanya mangrove seperti di Rinca.

Gerbang masuk (Taman Nasional) Pulau Komodo

Pulau Komodo (Loh Liang)

  • Disebut Loh Liang karena merupakan sarang/rumah utama dari komodo. Populasi komodo terbesar memang ada di pulau ini.
  • Dari dermaga, ada gapura selamat datang, namun setelah itu kami kebingungan harus kemana karena tak ada satupun orang yg bisa kami tanyai. Lantas kami belok kiri dan ada seorang bapak yg mengarahkan kami untuk lurus terus sampai bangunan besar tempat para ranger berkumpul dan loket berada
  • Terdapat kolam kecil buatan untuk membantu hewan hewan minum saat musim kemarau berkepanjangan tiba. Kami bertemu 2 ekor komodo besar yg sedang bermalasan dan 1 ekor komodo kecil yg langsung kabur begitu tahu ada seniornya di sana. Komodo dewasa gak segan segan membunuh yang kecil saat dia lapar.
  • Kami juga bertemu 2 ekor komodo kecil lainnya di perjalanan short track. Menurut ranger, kami beruntung banget bisa ketemu, biasanya susah banget. Baik, ini keberuntungan kedua yang saya dapatkan selama short trek.
  • Hampir tidak ada kotoran kerbau air yang bisa kami temukan selama short track
  • Rangernya bilang, sebaiknya jangan datang di bulan Juni – Juli, komodo akan susah ditemui. Kenapa? Lagi musim kawin! Mereka (si jantan) akan “hunting” betina sampe blusukan katanya. Betina sama jantan populasinya 1:3 jadi semacam rebutan gitu. Kalo pun beruntung, kita hanya akan ketemu komodo hunting yg buru buru lari aja jadi susah buat foto foto.
  • Menurut rangers, komodo di Loh Liang lebih liar dari pada Loh Buaya karena kontur pulau dan keadaan alamnya.
  • Banyak sekali jenis burung yang saya lihat seliweran di sekitar pohon tepi pantai. Kakaktua dan kepodang sahut sahutan berbunyi saat kami datang, mungkin mencari perhatian. Halah.

Komodo muda kabur takut ketauan ama yang dewasa

Kekeringan melanda akibat sejak April belum turun hujan lagi

Memberanikan diri foto bareng ama kakang komodo sambil berdoa terus karena takut. :))

Setelah semuanya berkumpul, kami melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit menuju Pink Beach. Setelah diperhatikan, hampir semua bagian pantai di pulau ini pasirnya warna pink. Jadi, dimanapun kamu berlabuh gak masalah. Namun tentunya kapten tau spot mana yang paling keren dan disanalah kami merapat.

“Mba, sedang surut ini jadi kapal tak bisa merapat.” Kata sang Kapten.

“Terus gimana dong?” Kata saya.

“Mba renang aja sampai pantai, atau kalo malas renang harus naik taksi (kapal kecil) ongkosnya 20K pp.”

Bhaiiiiique. Tau aja nih saya lagi males basah basahan hari ini. :)) Saya beserta salah satu cewek Jerman pun naik taksi. Bukan apa apa, saya melihat sunset udah mulai muncul dan saya gak mau kehilangan momen ini. Sesampainya di bibir pantai, saya langsung memutuskan untuk naik bukit. Sempet pesimis tapi yasudahlah, momen harus dikejar walaupun turunnya licin dan jempol sempet kesabet duri sampe berdarah.

Pink beach!

Sunset di atas bukit Pink Beach

Pink Beach dari atas bukit

Kapten memanggil kami semua untuk segera masuk kembali ke kapal karena hari sudah mulai gelap. “Kita akan menuju tempat menginap mba.” Wuoh, penasaran saya. Menuju titik tempat kami akan menginap, kami disuguhi sunset yang indah. Sesampainya di lokasi, saya melihat lebih dari satu kapal berlabuh di teluk itu. Alhamdulillah banyak temen.

Sambil menunggu makan malam disiapkan, kami mulai mengobrol lebih akrab satu sama lain. Karena waktu baru aja menunjukkan pukul 18.30 sementara kami biasa tidur diatas pukul 9 malam. Ngalor ngidul kesana kemari, apa aja diobrolin. Saya lihat si cewek Jerman ini pandai membuka obrolan sehingga yang lain merasa terhibur. Insight yang bisa saya dapatkan dari obrolan itu adalah :

  • Kami gak sama sekali menyebutkan nama saat mengobrol. Barangkali, sebuah nama lebih private dibandingkan agama
  • Topik yang dibahas merupakan pengetahuan umum, adu pinter wawasan lah gampangnya mah
  • Gak ada judgement satu sama lain sehingga sama sama merasa nyaman
  • Ini adalah ajang lo promosi tentang kebaikan dan keunggulan negara lo di bandingkan negara lain. Kuasai cara membuat kue dadar gulung dan pisang goreng, karena cowok cowok Perancis dan cowok cowok Spanyol itu ternyata suka banget!
  • Siapa sangka bahwa si cowok cowok Spanyol ini profesinya polisi dan pemadam kebakaran. Ganteng beuuud ya Allaaah.

Setelah habis obrolan, kamipun beranjak untuk bersiap istirahat. Para bule tidurnya di deck atas, saya di deck bawah. Sebelum tidur, saya sempet motret bulan sabit dan taburan bintang di langit sebelum akhirnya terlelap tidur. Besok akan ketemu apa saya gak tahu, yang jelas saya sangat bersyukur hari ini banyak dapet rezeki berupa keberuntungan yang terus menerus digaungkan oleh sang rangers. Saya juga bersyukur bisa bahagia banget ketemu komodo. Merebes mili jadinya saat teringat mimpi lama bertahun tahun lalu perlahan lahan bisa terwujud walaupun dalam bentuk lain.

 

Tulisan selanjutnya adalah cerita lengkap perjalanan di hari kedua, hiking ke Pulau Padar yang terkenal itu lalu ketemu Manta Ray dan paus!

See you soon readers!

Pengalaman Perpanjang SIM Keliling di Bandung

Hai readers!

Mumpung masih anget, saya pengin berbagi pengalaman perpanjang Surat Ijin Mengemudi (SIM) di Kota Bandung yang saya share di instastories tadi sore. Barusan aja saya perpanjang SIM C karena masa berlakunya akan habis beberapa hari lagi. Keep reading ya :).

Sejak lebih dari 5 tahun lalu, Kepolisian RI membuat inovasi layanan perpanjangan SIM keliling. Setiap harinya, mobil layanan SIM keliling ini berpindah dari 1 tempat ke tempat lainnya. Selain itu, ada juga kantor layanan perpanjangan SIM tetap di luar Polrestabes Bandung, yakni di Bandung Trade Centre alias BTC. 

Sebagai anak early millenial, saya cari cari info dulu lokasi layanan SIM keliling hari ini melalui twitter. Ya, buat saya, twitter masih sangat dibutuhkan untuk mencari informasi tercepat. Caranya? Saya ketik di kolom search lalu klik di latest tweet dan voilaaaa, info itu terpampang nyata di akun @PRFMnews. Katanya, hari ini akan beroperasi 2x sehari, pagi di Yogya Kepatihan dan sore di BRI tower alun alun Bandung. Selain itu, PRFM juga menyertakan link informasi persyaratan perpanjangan SIM, klik ini ya. Yang ingin saya garisbawahi adalah, elo jangan 100% telen bulet bulet informasi apapun dari akun kredibel sekalipun. Harus double check agar supaya informasinya lengkap dan menyeluruh. Kok gitu, Wie? Lha iya, barusan aja kejadian karena ke sok tau-an saya dan kagak double check akhirnya malahan rugi waktu dan uang.

Nomor 6 di link itu tidak dicantumkan bahwa pemeriksaan kesehatan itu WAJIB dilakukan oleh dokter kepolisian. Dan gue menganggap bahwa periksa di puskesmas & klinik akan mempersingkat tahapan. Ternyata eh ternyata, udah keluar duit dan waktu untuk antri di puskesmas dan klinik untuk dapat surat keterangan, ternyata kagak berlaku dan harus periksa ulang di tempat layanan SIM keliling. Menurut dokter kepolisian yang bertugas, hal itu wajib karena sudah ada undang undang tertulisnya. Nah lhoooo! Zonk abis! :)))

link dari PRFM News

Selain itu, nomor 5 juga agak kurang sinkron sama info petugas yang menyatakan bahwa gak semua Polres bisa melakukan proses perpanjangan SIM, Polres Bandung Timur misalnya. 

Yaudah lah ya, kesel saat puasa itu kan justru bikin lo semakin teruji kesabarannya. Pahalaa lalala lalala.. So, here it is saya tuliskan tahapan perpanjang SIM di layanan SIM Keliling.

  1. Siapkan SIM asli, KTP asli dan fotokopi KTP dari rumah. Pastikan data yang tercantum di SIM dan KTP sama persis. Jika ada perbedaan maka lo harus buat surat pernyataan di kertas folio bermaterai bahwa data di keduanya adalah orang yang sama. Contoh : beda huruf di nama, beda alamat domisili dll. Nanti akan diarahkan oleh petugas saat pendaftaran. Oiya, KTPnya harus eKTP ya, karena sistemnya sudah terintegrasi dan akan otomatis menolak jika data tidak ditemukan. Keren ya?
  2. Antri untuk pemeriksaan kesehatan oleh dokter kepolisian. Apa aja yang diperiksa? Tekanan darah, tinggi badan, berat badan, tes buta warna dan tes visus mata alias jarak pandang. Dokter akan memberikan form yang telah diisi beserta fotokopi KTP dan SIM asli dijepret alias dihekter agar tidak tercecer. Di sini, kamu akan dikenakan biaya Rp. 40.000,-, siapkan uang pas ya.
  3. Berikan form dari dokter tadi kepada petugas pendaftaran. Petugas akan mengecek kesesuaian data, menyiapkan form utk diisi oleh pemohon dan tanda terima pembayaran. Jika ada data yang tak sesuai, pemohon diwajibkan membuat surat pernyataan seperti yang saya sebutkan diatas. Jika data sudah sesuai, pemohon menunggu dipanggil untuk melakukan pembayaran. SIM C Rp. 125.000,- dan SIM A Rp. 130.000,-. Kalo bikin 2 sim sekaligus ada harga paket gak Wie? Ya kagaklaaahh.. Fasfood kali paketan. Sekali lagi diingatkan siapkan uang pas yaaa kakak.
  4. Selesai pembayaran, pemohon akan mendapatkan 1 buah kartu asuransi dan 1 pax berkas yang didalamnya ada formulir untuk diisi. Siapkan bolpen ya jika gak mau rebutan sama pemohon lain. Pastikan data yang dicantumkan di formulir sesuai dengan KTP, agar aman saat diinput oleh petugas nanti. Berkas yang telah diisi diberikan kepada petugas di dalam mobil melalui jendela kecil atau jendela besar, tergantung jenis mobilnya. Hehe.
  5. Petugas akan memanggil nama kita dengan pengeras suara untuk foto dan tanda tangan digital. Pintu masuknya ada di sisi lain jendela tadi. Begitu masuk, saya langsung duduk di kursi yang telah disediakan yang di belakangnya ada gorden biru dan di depannya ada kamera serta pad untuk tanda tangan digital. “Nyender yaaaa..” Kata petugasnya. 1, 2, 3 cekrek. Lalu kita diminta untuk rekam sidik jari (jempol kanan doang sih) dan tanda tangan di pad di atas nama kita. Lalu kita keluar mobil dan menunggu SIM selesai dicetak.
  6. Nama kita akan dipanggil petugas lagi untuk menerima SIM yang telah jadi. VOILA! Selesai sudaaahh! Dapat SIM dengan masa berlaku 5 tahun!

seperangkat berkas pemohon SIM

 

Asuransi SIM C. Kirain AKDP itu antar kota dalam propinsi, taunya.. hehe

Nah, tadi itu sembari nunggu dipanggil, saya dengerin FAQ dari petugas. Berikut beberapa diantaranya :

  1. Perpanjangan SIM bisa dilakukan DI MANA SAJA yang ada layanan SIMnya, tidak harus mengikuti kota domisili KTP/SIM nya. Sistemnya sudah online jadi memudahkan kita untuk proses ini.
  2. Jika tinta SIM pudar, wajib untuk perpanjangan SIM dengan kategori rusak dan akan mendapatkan masa berlaku 5 tahun sejak dikeluarkannya SIM perpanjangan tersebut.
  3. Jika lo mau perpanjang tapi sebetulnya masih sebulan lagi habis masa berlakunya, itu boleh banget! Masa berlaku SIM baru tetap sesuai dengan tanggal dan bulan lahir di KTP.

Udah ah, berisik Wie. Mana SIM baru lo? Oke, ini dipamerin SIM barunyaaa.. Tadaaaa.. 

SIM baru dengan          foto horor! :)))

Fotonya mengerikaaaan ya? Hahahaha. Sekarang gue paham kenapa kalo kita foto SIM/KTP/paspor jarang bisa keliatan sempurna. Lo bayangin aja kudu antri di setiap prosesnya yang bisa jadi kurang nyaman. Pas akan di foto, wajah udah kucel gak bisa diapa-apain lagi karena waktunya singkat banget. Di meja depan kursi foto hanya disediain sisir untuk para pria yang merasa perlu merapikan rambutnya. Nah, kalo buat perempuan mah dandan sendiri aja lah ya. Pastikan dandanannya paripurna, sis!

Semoga tulisan saya ini berfaedah dan bermanfaat untuk umat manusia se-Bandung Raya. Aamiiiin!

Elo punya pengalaman seru saat perpanjang SIM? Share di kolom komen yaaa. 🙂

Thank you!

Belajar Dari Ucok Durian

Sebagai penggemar durian, saya tentunya tak mau melewatkan peluang untuk menikmatinya di kota kota yang saya kunjungi. Sumatera adalah pulau dimana buah tersebut tersedia melimpah. Sebut saja, Lampung, Bengkulu, Pekanbaru, Jambi, Padang, Bukittinggi dan Medan, kota kota yang pernah saya cicipi duriannya dan selalu nagih.

Durian (Durio zibethinus)

Paling fenomenal adalah Ucok Durian di Medan. Walaupun kota kota lain di Sumatera tak kalah nikmat tapi Ucok Durian selalu menjadi nomor 1 jika kita berbicara mengenai destinasi. Saya belum pernah ke Medan lagi sejak tahun 2007. Ucok Durian saat itu tentunya masih belum sekeren sekarang. Tapi namanya masih terus saya dengar sebagai tempat yang wajib dikunjungi saat kita berkunjung ke Medan. Sebelas tahun kemudian, 2018, akhirnya saya bisa menikmati lagi Ucok Durian, bukan di kota asalnya melainkan sekian ratus kilometer jauhnya, dari Bandung!

Saya ingat beberapa tahun sebelumnya, pancake durian sempat booming juga di kota Bandung. Langsung dibeli dari Medan, dikirim melalui pesawat dan kita bisa terima produknya di hari yang sama di lain pulau! Rupanya Ucok Durian juga mencium hal ini sebagai sebuah peluang ekspansi pasar yang menjanjikan. Bandung sebagai salah satu kota kuliner dan juga banyak penggemar duriannya, menjadikan Ucok Durian tergiur untuk penetrasi. Daging durian dimasukan ke dalam wadah wadah plastik bening, ditutup rapat, lalu disebar ke agen di luar Sumatera. Sebuah janji kualitas yang mumpuni.

Durian kupas dalam wadah plastik

Di Instagram, banyak sekali bertebaran akun yang menggunakan nama Ucok Durian. Ada dari Jakarta, Bandung dan kota lain di Jawa yang ada direct flight dari Medan. Saya sempat menjadi ‘sasaran tembak’ dari iklan Instagramnya Ucok Durian Bandung. Lalu saya penasaran ingin beli. Ternyata di Bandung, agen Ucok Durian tidak hanya 1 saja melainkan ada 2 (setahu saya). Saya mampir ke tempat pertama, katanya stoknya sedang habis dan restok jam 5 sore nanti karena sedang diproses di Bandara Husein Sastranegara. Karena saya ogah nunggu, akhirnya saya pergi ke tempat kedua. Di sana stoknya banyaaaak, dan numpuk di freezer. Di tempat kedua ini juga terima delivery serta wholesale alias beli banyak lebih murah.

Orang rumah tanya, “ini emang duriannya udah pasti enak ya?”

“Kalo udah jauh jauh dateng dari Medan trus gak enak, mereka gak akan selaku ini lah”, kata saya.

Dengan harga yang lumayan kompetitif (dengan durian dari Rajagaluh Majalengka, hehe), saya beli yang wadahnya besar. Sepertinya, dalam 1 wadah ini berasal dari 4 – 5 buah durian, terlihat dari warna daging buahnya yang berbeda beda. Karena dibeli dalam keadaan beku, maka harus di-thawing terlebih dahulu. Dan, sesuai ekspektasi, gak ada satupun yang rasanya gagal, ENAK SEMUA!

Lalu apa yang bisa diambil pelajarannya dari sini?

  1. Bahwa pengembangan dan ekspansi pasar itu wajib dilakukan setiap brand agar semakin pesat bisnisnya.
  2. Peluang di depan mata harus dimanfaatkan sebaik baiknya tentu dengan perhitungan yang matang. Dikaji setiap titiknya dan eksekusi segera. Padahal flight Bandung – Medan PP sudah ada sejak AirAsia ekspansi, namun rupanya hal ini baru bisa dirasakan manfaatnya sekarang.
  3. Amati, tiru dan modifikasi. Pembelian oleh oleh asal kota tertentu diawali dengan adanya jastip alias jasa titipan. Ini yang awalnya dikembangkan oleh pancake durian, bolu meranti dan lainnya. Rupanya Ucok Durian juga ingin ikut ambil bagian namun langsung dalam skala besar dengan membuka agen agen penjualannya di kota yang tersedia direct flight dari Medan.
  4. Pastikan kualitas terus terjaga agar pelanggan tidak kabur dan new customer tetep mau balik lagi. Ucok Durian berhasil membuktikannya. Word of mouth berperan besar di sini.

Seperti prediksi para pakar marketing, 2018 ini adalah waktunya para brand untuk fokus pada leisure dan kuliner adalah salah satunya. Jika kita bisa memanfaatkan peluang dengan baik, maka inshaaallah kesuksesan pun akan mendatangi kita.

*ditulis sambil sibuk ngunyah durian dan ini bukan posting berbayar

Pengalaman Apply Visa US

Mitosnya, bikin visa US susah. Itu bener, untuk yang persyaratannya kurang lengkap dan kurang meyakinkan. Ditambah lagi record perjalanan kamu ke luar negeri yang agak absurd di mata mereka, akan tambah susah. Pernah ke UK atau Australia pun gak ngejamin akan mudah diapproved visanya. Malah ada seorang beauty youtubers cerita kalo dia juga ditolak permohonan visa USnya padahal dia dibayarin full trip sama salah satu perusahaan kosmetik. Ada juga yang visanya ditolak karena gak meyakinkan akan pulang lagi ke Indonesia. Saya pernah ditolak sekali dan itu cukup bikin bete, soalnya depan mata banget dan dikasih ‘surat cinta’ warna pink, pertanda bahwa permohonan visa ditolak. Hiks.

Pembuatan visa US memang masih mengharuskan pemohon datang ke kedutaannya. Beda sama UK, Canada, beberapa negara Eropa dan Asia lain yang sudah menggunakan jasa agen walaupun prosedurnya kurang lebih sama.

Bulan November 2017 lalu, mitra perusahaan tempat saya kerja rame rame bikin visa untuk trip ke US. Saya gak mau menyianyiakan kesempatan ini, mau ikutan bikin! Pengalaman sebelumnya saat apply visa UK, grup lebih ‘mudah’ dapatnya dibandingkan dengan perorangan. Apalagi purposenya untuk holiday dan dibayarin kantor, semakin menguatkan alasan agar tidak ditolak (finger crossed). Trus, gimana nih tahapannya?

Diawali dengan buka situs persyaratan visa US ini, trus ikutin aja tahapannya. Inget ya, data yang kamu masukin di sini harus konsisten dengan jawaban kamu pas diverifikasi sama interviewernya. Saya waktu itu dibantuin sama agen untuk pengisian form sampai dapat email notifikasi bahwa pendaftaran berhasil dan dapat jadwal interview. Setelah itu, saya harus berjuang sendiri. 

  • Sebelum jam 7 pagi, kamu harus sudah siap ngantri di depan US Embassy dengan membawa serta email konfirmasi interview berisi barcode yang sudah di print out, foto 5×5 color dengan latar belakang putih dan persyaratan lainnya jika diminta dibuktikan oleh interviewer nanti. Semua alat elektronik dan komunikasi sudah harus dalam posisi OFF di sini untuk alasan keamanan.
  • Per 10 orang kita akan diminta masuk melewati metal detector. Alat elektronik dan komunikasi harus dititip di security sini. Selebihnya, boleh dibawa masuk kecuali air mineral dan makanan. Pastikan udah sarapan ya biar gak semaput. Hehe.
  • Kita akan diarahkan menuju tempat verifikasi awal bahwa kita sudah terjadwal akan interview hari itu. Setelah print out barcode di cek sesuai, kita akan mendapatkan 2 lembar nomor antrian yang sama dan akan dipanggil ke loket. Di loket itu, kita diminta menyerahkan 1 copy nomor dan juga finger print pertama. Paspor kita akan diambil petugas utk diserahkan ke interviewer. Petugas akan mempersilakan kita duduk kembali hingga ada panggilan berikutnya. Oya, di sini ada yang jual minuman dan  makanan, so, kamu jangan takut kelaparan dan kehausan kalo belum sempat sarapan.
  • Pemohon dipanggil kembali per 5 nomor untuk masuk ke ruang interviewer. Tahun 2015 saat saya ditolak pertama kali, sambil menunggu proses interview kita diminta untuk finger print kedua, tapi kali ini tidak ada tahap itu. Rupanya, finger print kedua berlangsung di loket interview.
  • Nomor antrian kita akan dipanggil untuk langsung menuju loket interview. Loketnya ada 4 dan Petugasnya orang US asli, yang jika beruntung dia sedikit bisa berbahasa Indonesia. Di sini semua data kita akan diverifikasi dan juga akan ditanya hal standar, “Ngapain ke US?” kalo lo bisa jawab dengan tenang, percaya diri dan dilengkapi dengan bukti bukti meyakinkan, inshaallah amaan. Kalo visa lo approve akan dapet kertas putih, jika gak approve maka dapat kertas pink, kalo kurang persyaratan maka akan dapat kertas warna lain (saya lupa, biru apa kuning ya?).

Alhamdulillah, saya dapet kertas putih yang artinya visa saya approved! Tapi sebelumnya, interviewer kayak yang gak yakin gitu sama saya. Dia bolak balik baca catatan traveling saya ke luar negeri sampe bermenit menit. Dia tanya, “Ngapain kamu ke UK sampe 2 kali? Ngapain ke Australia? Ngapain ke Hongkong?” Saya jawab dengan sejujurnya dan setulusnya. Trus dia konsultasi gitu sama temen sebelahnya, “Nih orang dikasih visa gak ya? Saya agak ragu gitu liat catatannya.” Temennya yang luar biasa baik itu (ehm) bilang gini, “Menurut saya sih kamu kasih aja, it’s OK kok..” dan kemudian dia ngangguk, “Oh, ok, dia pantas dapat visa.” Lalu dia kasih saya kertas putih yang saat itu terlihat lebih indah dari salju di Swiss (halaaah).

Ibu yang ngantri di belakang saya, interviewnya cepet. Pertanyaannya sama persis trus gak sampe 5 menit approved aja gitu. Temen sekantor juga sama, gak nyampe 5 menit langsung approved aja. Lah sayaaaa, kudu keluar keringet dingin dulu baru petugasnya approved.

Di kertas putih itu ada keterangan kapan paspor yang udah ada stiker visanya bisa diambil dan dimana akan diambil. Pfuiiihh, sebuah perjalanan panjang dan pengalaman yang bikin degdegan parah. Pulang dari US Embassy saya langsung merasa butuh asupan karbohidrat, lapar! Haha.

It’s a wrap. Kalo pengalaman kamu, gimana? Share yuk!