Work Traveling : Padang (1)

Rumah Gadang

Flight menuju Padang pagi itu dipenuhi drama dan hujan yang deras saat itu melengkapinya. Saya hampir saja ketinggalan pesawat, akibat kebodohan tidak mendengar pengumuman yang disampaikan pihak maskapai. Saya dan tiga orang lainnya berlari-lari naik ke pesawat memakai payung. Sebelnya, payung punya saya gak bisa nyangkut dan menahan kanopi payung agar tetap pada tempatnya. Alhasil, saat masuk pesawat, badan saya basah dan dingin.

Pesawat yang full board membuat kopor kecil saya harus ditaruh di bagasi. “Sudah penuh tempat bagasi di kabinnya”, ujar petugas dari maskapai tersebut. Saya mengangguk dan segera mencari tempat duduk. Nomor kursi 22 sebetulnya kurang saya sukai karena tepat berada di sayap pesawat dan pemandangan indah saat akan landing nanti tidak bisa saya nikmati. Tapi tak apa, rasa kantuk yang mendera rasanya sudah tak bisa dihindarkan. Selamat tinggal pemandangan indah!

Perjalanan Jakarta – Padang ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit. Selama itu pula saya tidur. Flight attendant kemudian mengumumkan bahwa dalam waktu beberapa saat lagi, pesawat ini akan mendarat. Saya membuka mata dan mendapati seorang ibu disebelah saya tersenyum. Saya membalas senyumnya dan kemudian mengajaknya ngobrol. “Ibu sendirian?” tanya saya. “Tidak, saya sama anak saya, dia duduk di depan”, jawab sang Ibu. Kami pun kemudian asyik ngobrol.

Ibu itu berumur 85 tahun asal Silungkang. Saya mengenal Silungkang sebagai nama toko suvenir di sekitar Pasaraya, Padang. Ternyata, Silungkang adalah nama sebuah nagari di Sawahlunto berjarak dua jam ke utara kota Padang. Menurut beliau, pada tahun 1945, listrik dan telepon sudah masuk ke desa itu berkat Bung Hatta. Sambil ibu itu terus bercerita, saya jadi semakin ingin berkunjung ke sana. Di Silungkang, kabarnya banyak perajin sulam dan bordir khas Padang. Ah, semakin menarik! Sayang, pesawat keburu mendarat dan kami harus berpisah. Ibu itu kemudian dihampiri oleh anaknya saat sudah sampai gedung terminal dan saya pun pamit.

Di Padang, saya hanya akan tinggal 2 hari saja. Sepertinya tidak cukup waktu untuk mengunjungi Silungkang. Saya lupa tidak menanyakan nama Ibu itu, tapi jika saya berkesempatan untuk bertemu lagi, saya pasti masing mengingat wajahnya.

To be continued….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *