Tukang Palak

Awalnya, saya ingin memberi judul tulisan ini Preman. Tapi ternyata, kata preman tidak sesuai dengan apa yang akan saya tulis berikutnya (silakan baca artikel ini).

Hal ini saya ceritakan bukan untuk menyerang institusi tertentu. Saya hanya ingin membuka mata, apa yang menjadi rahasia umum selama ini ternyata masih saja terus berlangsung dan entah kapan bisa hilang.

Saya dan seorang sahabat sedang berada di angkot sekitar jam 9 malam di Jalan Jakarta, Bandung, ketika tiba – tiba supir angkot kami diberhentikan oleh satu unit mobil patroli sebuah institusi yang berisi dua orang anggota. Salah seorang anggota tersebut turun dan menanyakan SIM supir, lalu membawa SIM tersebut ke dalam mobilnya. Sang supir angkot menurut. Dia sudah hapal alasan mengapa mobilnya harus berhenti, dia akan dipalak.

Setelah meninggalkan angkot dan menuju mobil patroli selama beberapa menit, dia kembali. Dia bilang, “Biasa mba, saya abis dipalak sepuluh ribu”. Saya bengong.

Belum sampai 100 meter angkot melanjutkan perjalanan, mobil patroli tersebut membunyikan klakson dan menyuruh supir angkot untuk berhenti kembali. Sang supir bingung, apa yang salah? Dia merasa dia sudah memberikan apa yang oknum tersebut minta. Dengan percaya diri dia menghampiri mobil patroli tersebut lagi. Terlihat dialog yang sangat alot antara sang supir dengan anggota institusi tersebut selama lebih dari 5 menit. Saya penasaran.

Ketika sang supir kembali dia bercerita. “Tadi, anggota institusi itu marah – marah, karena dia pikir saya hanya ngasih lima ribu (rupiah). Padahal saya yakin, saya kasih sepuluh ribu (rupiah) dalam bentuk pecahan lima ribuan sebanyak dua lembar. Tapi dia mengaku hanya terima satu lembar. Saya dimaki habis habisan. Mereka merasa dipermainkan.” Sang supir kemudian menghela napas sebelum melanjutkan cerita. “Saya ngotot mempertahankan diri, mereka juga demikian. Saya disuruh masuk ke dalam mobilnya, tapi saya menolak.  Saya meminta salah seorang anggota institusi tersebut untuk memeriksa kembali, barangkali uangnya terjatuh. Dia menurut. Ternyata, satu lembar uang lima ribuan tersebut, memang ada, dan terjatuh ke dekat pedal gas mobil. Saya lega. Kedua anggota institusi tersebut kemudian meminta maaf dan langsung pergi.” Mendengar cerita itu, saya lebih bengong lagi. Saya kehilangan kata kata.

Saya langsung kehilangan kepercayaan terhadap institusi yang mottonya “melindungi dan melayani” ini. Sekarang, di depan mata kepala saya sendiri, mereka telah bertransformasi menjadi tukang palak. “Ini cuman oknum”, begitu biasanya mereka berkelit. Jikalau sudah lebih dari separuh anggotanya berkelakuan demikian, apa masih bisa disebut oknum?

Tiba tiba, saya merasa tidak aman berada di negeri saya sendiri. Saya sedih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *