kesadaran berlalu lintas

Baru aja saya turun dari angkot jurusan Ciledug – Kebayoran.

Sebelumnya seorang ibu turun terlebih dahulu di pertigaan Cipadu. Sopir udah bilang “Kreo, Kreo, Kreo” (pertigaan Cipadu disebut juga Kreo) tapi sang Ibu tidak merespon. Ketika angkot sudah jalan kira kira 10 meter, sang Ibu berteriak minta turun saat itu juga. Sopir tidak menggubris karena daerah tersebut dilarang berhenti (ada tandanya). Ibu tersebut sedikit emosi karena keinginannya tidak dituruti. Sopir tidak merasa bersalah karena memang tidak boleh berhenti di daerah tersebut.

Saya hanya bisa merasa miris. Saya pikir kesadaran atas rambu rambu lalu lintas bukan hanya bagi pengendara roda dua atau lebih, melainkan bagi seluruh lapisan masyarakat. Seringkali kita emosi kepada supir angkot karena berhenti tidak pada tempatnya. Sopir angkot mau berhenti karena permintaan dari pengguna jasa, baik itu yang minta turun atau yang minta naik. Kalau sudah begini, susah mau menyalahkan siapa.

Kemacetan di Jakarta sudah sangat tidak masuk akal. Bagaimana jika kita mulai dari sekarang untuk lebih patuh pada rambu rambu lalu lintas? Gerakan satu orang mungkin takkan terlihat, tapi jika kita SEMUA memulainya dari sekarang, pastinya akan ada perubahan.

you name it. just go, let’s go!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *