Tentang Nama Baik

Seorang teman berkata, “Gue mau resign, tapi gue ingin membuatnya dramatis. Gue akan setting meeting, trus adu argumen dan BLAR gue pergi.” Saya hanya senyum mendengarnya, lalu saya katakan, “Kenapa harus kayak gitu? Gak bisa ya baik baik aja?”. Lalu dia bercerita panjang lebar soal alasan kenapa dia ingin membuatnya sedramatis mungkin.

Buat saya, nama baik itu adalah soal integritas dan track record di kehidupan dan tempat kerja. Bukan gaya saya meninggalkan tempat kerja sebelumnya dengan meninggalkan cerita buruk yang akan diingat semua orang dalam jangka waktu lama. Saya datang baik baik, saya juga akan meninggalkannya dengan cara yang baik pula. Sebelum resign, saya memotivasi diri saya untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaan semampu saya.

Bukan piagam atau piala tujuan saya. Nama baik adalah soal perilaku dan cara kita bersosialisasi dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, klien dan bos. Walau awalnya saya juga sulit mengendalikan emosi, tapi kemudian saya belajar dan mengubah diri saya menjadi sedikit lebih baik. Menurut saya, prestasi kerja itu penting sementara integritas dan nama baik itu lebih penting.

Bahagia rasanya saat mendengar orang lain berkata :
“Wi, kalo gak sama lo, gue gak mau ah kerjasama lagi ama mereka kayak event sebelumnya.”
“Cuman lo wi yang bisa kayak gitu..”
“Gila lo ya Wi, keluar kerja banyak yang nawarin gitu, tinggal milih aja..”
“Sepeninggalan lo nih Wi, berantakan di sini..”
dan lain lain..

I believe it’s earned, not given.

Review-ing Me

It’s December already, i’m still the same old me..

Melihat postingan 10 bulan kebelakang di tahun 2013, saya mendapati blog saya sepi. Jauh dari keriuhan yang biasanya saya bagi kepada para pembaca setia. Saya mohon maaf, tahun 2013 ini saya sangat tidak produktif menulis. Padahal di tahun ini, pertama kalinya saya bisa melaksanakan event di tempat sekelas Jakarta Convention Centre. Bagi orang yang lama berkecimpung di dunia EO, hal ini biasa. Buat saya ini luar biasa. Kemudian saya merasa diri saya keren! Hehehe..

Kemarin, saya menyempatkan diri ke toko buku, untuk melihat apa yang sudah saya lewatkan selama ini. Saya melihat rak buku “Recomended” tidak lagi diisi dengan buku buku bertemakan hijab. Sepertinya tren itu sudah lewat. Ya iyalah, berhijab itu bukan tren, tapi kewajiban. Dan publik juga sepertinya sedikit bosan dan merasa buku buku tentang hijab itu sudah overrated, terlalu mainstream. Belum ada terobosan baru sampai saat ini.

Kemudian saya mampir di sebuah rak yang memajang buku buku tentang pengembangan diri. Tertarik dengan nama penulis yang terpampang di sampul buku, saya pun kemudian memboyongnya pulang ke rumah. Membaca isinya kemudian membuat saya mikir dan termenung lama. OH, ternyata saya sudah melewatkan banyak waktu dan belum berkontribusi apapun! Saya sedih, merasa hidup ini tidak ada artinya. Lebay.. Hahaha..

Saya lalu membaca timeline di semua akun social media yang saya punya. Tahun ini sebetulnya penuh warna, hanya saya saja yang tidak bersyukur dan kurang menikmatinya. Sepertinya saya terlalu tegang dan serius menghadapi tahun ini, terlihat dari wajah saya yang selalu nampak jelek setiap saya menatap cermin.

Tahun 2014 memang kurang dari 30 hari lagi, tapi saya sudah punya resolusi yang ingin segera saya realisasikan. Target di 2014 harus saya tuliskan dengan jelas, agar saya bersemangat untuk mencapainya. Semoga anda juga begitu.

Dailydewi had a Fanpage!

the iconic letter d
Sebetulnya, saya udah punya fanpage dengan nama Dailydewi ini sejak Januari 2011, namun baru akan saya aktifkan sekarang. Klo banyak yang tanya buat apa? Saya jawab, saya harus bersiap-siap untuk jadi terkenal. 
Hehe.. Ini mimpi. Namun saya ingin membawa Dailydewi sebagai sebuah brand. Dimulai dengan membuat huruf “d” sebagai icon, sebagai simbol dan sebagai logo atas Dailydewi itu sendiri.

Dailydewi lahir bersamaan dengan account saya di blogger ini. Saya sebelumnya iseng iseng saja membuat nama Dailydewi. Banyak teman membuat account dengan nama pribadinya, atau dengan embel embel “Cerita” di depannya. Kalo saya sih sederhana, pengennya sesuatu yang mudah diingat dengan nama saya menempel disana. Arti harfiah dari Dailydewi : Daily adalah sehari – hari, keseharian dan Dewi adalah wanita, dewa wanita.

Tanggal 28 Februari 2008, lahirlah nama Dailydewi. Harapannya pada saat itu, blog ini akan bercerita tentang kehidupan saya sehari – hari. Harapan saya sekarang, nama Dailydewi adalah brand bagi perempuan urban yang memiliki ceritanya masing – masing dalam kesehariannya. Perempuan urban yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri dan menjadi diri sendiri disaat yang bersamaan. Perempuan urban yang berani menyuarakan pendapatnya. Perempuan urban yang memiliki passions, antusiasme dan mimpi yang besar untuk menjadi seseorang yang memiliki kontribusi positif bagi hidup disekitarnya dan terutama untuk dirinya sendiri.
Well, kalo kamu merasa memang memiliki spirit yang sama dengan Dailydewi, kamu bisa bergabung di fanpagenya www.facebook.com/dailydewipage. Yuk sharing dan mengeluarkan pendapat tentang apapun di sana. See you there!

Halaman Satu Google

Ini info yang gak penting banget sebenernya. Tapi, berada di halaman satu Google untuk pencarian kata Pundung merupakan sesuatu bagi blog saya. Posting dengan judul Pundung ini paling banyak page viewsnya diantara postingan saya yang lain.

Penyebab nongkrongnya blog saya di halaman satu Google dengan kata Pundung ini mungkin disebabkan oleh :

  1. Tulisan saya memuat info yang dicari oleh para pencari
  2. Tulisan yang lainnya tidak terlalu menarik dibaca
  3. Belum ada tulisan lain yang serius membahas tentang kata ini. Ataaaauuuu….
  4. Tulisan saya emang keren! 
Hehe.. No Offense 😛
Tips biar nongkrong di halaman satu Google sederhana aja : Be yourself! Tulislah apa yang ingin kamu tulis, dengan gaya bahasa kamu sendiri, dari sudut pandang kamu sendiri, pokonya tumpahkan apa yang ada di dalam diri deh.

Klo sudah berhasil, kabarin saya ya! 🙂

Efisiensi energi ala Dewi : Nyetrika

Kegiatan rumah tangga yg paling malas dilakukan oleh saya adalah nyetrika. Buat saya, nyetrika itu semacam sindrom yg sebaiknya tidak terlalu banyak didekati. Saya hanya melakukan kegiatan menyetrika ini jika sedang terserang rasa bosan atau justru ketika sedang bersemangat, tergantung cuaca. Hehehe..

Aktivitas nyetrika biasanya dilakukan dengan posisi :

  1. Berdiri, jika mejanya tinggi 
  2. Duduk di jojodog atau dinglik (bangku pendek yg terbuat dari kayu atau plastik-red), jika mejanya rendah, atau justru,
  3. Duduk dilantai, jika tak memakai meja atau mejanya amat sangat rendah.
Saya lebih suka nyetrika sambil duduk dikursi pendek bernama jojodog atau dingklik. Nyetrika sambil berdiri, bikin pegel, begitu juga duduk di lantai. Lha, emang duduk di jojodog gak pegel? Ya, sama aja pegel, tapi kan saya harus memilih! :p
Kegiatan menyetrika itu menghabiskan daya listrik yg lumayan besar. Saat ini konsumsi listrik di rumah saya setiap bulannya selalu diatas angka dua ratus ribu rupiah. Usut punya usut, hampir 30% konsumsi listrik di rumah saya adalah dari menyetrika. Kenapa? Karena setiap hari, mba yg bantu bantu itu nyetrika selama 2 jam! Iya, itu di rumah orang tua saya, di Bandung, klo saya kan ngekos, jadi biaya listrik sudah dibebankan pada uang sewa kos yg saya bayar setiap bulan. 
Biarpun saya nun jauh dari rumah orang tua, saya tetap concern sama urusan hemat energi ini. Cieeee… Makanya, saya memutuskan untuk tidak menyetrika hampir semua baju saya selama ngekos. Lha, tapi kan kalo gak nyetrika, baju kita bakalan kusut dan gak enak dilihat? Hey, jangan protes dulu, mari kita ikuti beberapa tip dari saya.
  1. Jangan menyetrika pakaian dalam anda. Karetnya bisa mulur dan membuatnya tidak nyaman lagi digunakan.
  2. Sebaiknya baju baju anda tidak diperas terlalu kuat sebelum dijemur karena akan sangat kusut saat kering nanti. Kusut menyebabkan energi yg dibutuhkan utk menyetrika akan lebih besar.
  3. Menjemur kerudung berbahan katun paris sebaiknya dalam posisi dilipat, atau digantung ujungnya. Saat kering nanti, anda tak perlu menyetrikanya karena tidak terlalu kusut. 
  4. Celana jins, celana katun dan jaket jins anda akan baik baik saja sampai pemakaian ke 10 kecuali terkena noda. Jadi tak usah lah sering sering dicuci, jemur dan setrika! Hehe..
  5. …………… (silakan isi sendiri)
Selain dari tip diatas, saya tetep nyetrika baju baju yg menumpuk di lemari itu. Tapi nyetrikanya gak sekaligus, kalo mau dipake aja. Hey, ini bukan males, tapi efisiensi energi! *ngeles*
XOXO