catatan perjalanan hiking ke Burangrang bagian 3

Aaahhh.. ini bagian terbaiknya!

Menembus hutan homogen yang ditumbuhi pinus, jalanan masih lumayan datar (Didi bilang bonus track). Begitu memasuki hutan heterogen, jalanan udah mulai naik turun secara signifikan. Jalur pendakian pun dimulai kawan!

Hari ini cuaca mendung, tapi sesekali matahari menampakan sinarnya. Di dalam hutan, angin tidak terlalu terasa berhembus. Kami langsung disambut dengan jalur pendakian dengan kemiringan lebih dari 50 derajat. Pokonya lumayan bikin ngos ngosan (inget cerita jalur ekstrim di 2 bagian sebelumnya?). Tapi kali ini saya tidak lagi merasa ingin pingsan, walau masih ngos ngosan. Barangkali tubuh saya cepat beradapatasi dengan keadaan. Sampailah kami pada satu tanjakan yang kemiringannya 70 derajat. Kami harus melewati tanjakan batu! Tanjakan itu licin dan sulit untuk dilalui. Ah, tapi pantang untuk kembali. Satu satunya jalan, ya hadapi saja! Saya pikir setelah melewati tanjakan batu itu, kami akan menemukan puncak, tapi apa daya, ini baru setengah perjalanan coy! Weeww..

Jalur pendakian dan tanjakan yang sangat ekstrim, sering kali kami temui. Kami harus melewati itu semua supaya bisa menuju puncak Burangrang yang kami tuju. Sampai di puncak pertama, kami bertemu dengan 3 orang pria yang sepertinya habis bermalam di salah satu puncak Burangrang (puncak Burangrang ada 4). Sempat ngobrol sebentar, tapi mereka pamit duluan dan kami memang masih harus menempuh 3 puncak lagi untuk sampai tujuan. Salah satu dari mereka bilang, “setengah jam lagi sampai!” Didi bilang, “setengah jam kali 3!” Secara mereka turun kita naik, ya ga bisa disamain lahhh..

Istirahat sebentar di puncak tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan. Pada satu jalur tanjakan ekstrim lainnya, kami bertemu dengan satu keluarga yang naik ke tadi pagi. Mereka ada 7 orang, dan membawa guide. Salah seorang bapaknya bilang, “Sebentar lagi sampai mba!” Hehehe.. “Tidak tergoda Pa, palingan sejam setengah lagi”, Didi bilang.

Perjalanan menuju puncak 2 dan 3 tidak jauh berbeda dari puncak pertama. Masih diwarnai dengan tanjakan ekstrim nan panjang. Sesekali kami mendapatkan bonus track, lumayan untuk meluruskan lutut dan pergelangan kaki.

Di puncak ketiga, kami memutuskan untuk istirahat makan siang dan sholat karena waktu telah menunjukkan pukul 2 siang. Johan yang tidak suka nasi, bawa bekel roti. Didi bawa bekel nasi bakar dan aneka kue basah dan kering. Saya bawa nasi timbel, ikan teri medan yang di goreng garing, labu siam yang direbus dan sambel terasi. Wuihhh.. mantabsss!! Kami bertiga pun makan dengan lahap dan penuh semangat saking laparnya. Selesai makan kami berwudhu secara tayamum dan kemudian sholat berjamaah. Selesai sholat, kami pun melanjutkan perjalanan.

Menuju puncak keempat, kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Sisi kanan kami jurang dan gunung yang berjejer seperti membuat sabuk satu jalur. Subhanallah! Kami pun bisa melihat Situ Lembang dengan jelas dari kejauhan. Tak lupa kami pun mengabadikan keindahan tersebut, dan teuteup, narsis! Hehehe.. Foto dengan latar belakang pemandangan itu yang saya jadikan foto profil saya sekarang. Kami pun terus berjalan, karena, puncak 4 Burangrang sebentar lagi akan kami capai! tidak sabar lagiii!!!!!

Latar belakang Situ Lembang, tapi ketutup asap 🙁

to be continued..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *