Work Traveling : Padang (2)

Yes!

Tulisan bagian 2 ini akan saya isi dengan info kuliner, bukan info kerjaan. Hehe..

Melalui Twitter, saya sempat menanyakan kepada teman-teman saya, “What to do in Padang?” Mereka bilang, wisata KULINER! Ahhaaa.. this is what i like about traveling, bagian icip icipnya ituuu..

Sebetulnya, saya hanya sempat mengunjungi 3 tempat makan yang paling direkomendasikan di Padang. Dua rumah makan yang khusus jualan nasi beserta lauknya dan satu restoran yang menjual light meal beserta es durian yang terkenal itu. Let’s see!

Rumah Makan Bernama

Menu paling enak di sini adalah ikan bakar, sate ayam, ayam pop, gulai kulit/kerecek dan pecel/gado gado. Paling istimewanya, ayam popnya gak berwarna putih seperti di RM. Sederhana dan pecelnya pake jantung pisang.

Lauk yang dihidangkan di RM. Bernama
My Favorite!

Memang betul semua yang saya sebutin tadi luar biasa enak, tapi saya punya penilaian tersendiri. Favorit saya adalah tumis campuran antara kentang, cabe hijau, paria, terong, ikan asin dan jengkol! Yumeeeehh sodara sodara! Menu ini baru pertama kalinya saya temuin dan sumpah, luar biasa enak. Saya sampe ngeces pas nulis ini dan liat gambarnya 😀
Rumah Makan Pagi Sore
Gak usah ditanya, ini rekomendasi dari banyak orang. Ayam gorengnya itu katanya paling uenak se-Padang. Saya jadi merasa tertantang.
ayam goreng
aneka lauk

Ayam goreng yang kami pesan sudah tersaji. Dan… Hooo? Ukurannya kecil bangeett… Ayam macam apa ini? Ini sih buat ngemil doang kayaknya. Ehtapi pas dimakan, enak! Bumbunya meresap banget itu ke dalam daging si ayam kecil itu. Gurih dan renyah.

Selain ayam goreng, saya nyoba sayur paku, tapi bukan paku beton atau paku kayu ya! Ini maksudnya tumbuhan jenis paku pakuan atau Pteridophyta. Gak susah nyari paku-pakuan di sini, kiri kanan dikelilingi gunung koq. Sayurannya direbus sampe empuk, trus pake kuah santan. Pas saya coba, rasanya dingin, plain, kurang garem dikit kayaknya. 
Sudah dua rumah makan yang saya kunjungi dan dua duanya terkenal dengan masakan enaknya. Satu pertanyaan menggelitik, kenapa saya gak nemu rendang daging sapi di situ ya?
        

Es Durian Ganti Nan Lamo

Beruntunglah Ira yang gak suka durian kali ini gak ikut. Pertama kali masuk restoran ini, bau duriannya langsung menyengat hidung. Saat itu baru pukul 10 pagi dan pengunjungnya hanya kami saja. 
Di buku menu tercantum banyak macam dari es durian yang ada di restoran itu. Daripada bingung milih, saya langsung tanya saja sama pramusajinya, “Mana menu favorit di sini?” Dia pun menunjuk ke salah satu gambar. Deal.
Es Durian
Buku Menu

Sebetulnya, rasa duriannya sih biasa aja ya.. Ya gimana sih rasa durian.. Hehe.. mungkin yang menjadikannya very popular adalah perpaduan yang ada di dalamnya. Macam es teler or es campur tapi versi Ganti Nan Lamo. Interesting dan enaaaaakkk.. Sluurrpphh..

Next time ke Padang lagi, makanan apa yang wajib saya coba?
To be continued…

Work Traveling : Padang (1)

Rumah Gadang

Flight menuju Padang pagi itu dipenuhi drama dan hujan yang deras saat itu melengkapinya. Saya hampir saja ketinggalan pesawat, akibat kebodohan tidak mendengar pengumuman yang disampaikan pihak maskapai. Saya dan tiga orang lainnya berlari-lari naik ke pesawat memakai payung. Sebelnya, payung punya saya gak bisa nyangkut dan menahan kanopi payung agar tetap pada tempatnya. Alhasil, saat masuk pesawat, badan saya basah dan dingin.

Pesawat yang full board membuat kopor kecil saya harus ditaruh di bagasi. “Sudah penuh tempat bagasi di kabinnya”, ujar petugas dari maskapai tersebut. Saya mengangguk dan segera mencari tempat duduk. Nomor kursi 22 sebetulnya kurang saya sukai karena tepat berada di sayap pesawat dan pemandangan indah saat akan landing nanti tidak bisa saya nikmati. Tapi tak apa, rasa kantuk yang mendera rasanya sudah tak bisa dihindarkan. Selamat tinggal pemandangan indah!

Perjalanan Jakarta – Padang ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit. Selama itu pula saya tidur. Flight attendant kemudian mengumumkan bahwa dalam waktu beberapa saat lagi, pesawat ini akan mendarat. Saya membuka mata dan mendapati seorang ibu disebelah saya tersenyum. Saya membalas senyumnya dan kemudian mengajaknya ngobrol. “Ibu sendirian?” tanya saya. “Tidak, saya sama anak saya, dia duduk di depan”, jawab sang Ibu. Kami pun kemudian asyik ngobrol.

Ibu itu berumur 85 tahun asal Silungkang. Saya mengenal Silungkang sebagai nama toko suvenir di sekitar Pasaraya, Padang. Ternyata, Silungkang adalah nama sebuah nagari di Sawahlunto berjarak dua jam ke utara kota Padang. Menurut beliau, pada tahun 1945, listrik dan telepon sudah masuk ke desa itu berkat Bung Hatta. Sambil ibu itu terus bercerita, saya jadi semakin ingin berkunjung ke sana. Di Silungkang, kabarnya banyak perajin sulam dan bordir khas Padang. Ah, semakin menarik! Sayang, pesawat keburu mendarat dan kami harus berpisah. Ibu itu kemudian dihampiri oleh anaknya saat sudah sampai gedung terminal dan saya pun pamit.

Di Padang, saya hanya akan tinggal 2 hari saja. Sepertinya tidak cukup waktu untuk mengunjungi Silungkang. Saya lupa tidak menanyakan nama Ibu itu, tapi jika saya berkesempatan untuk bertemu lagi, saya pasti masing mengingat wajahnya.

To be continued….

Show Off, Me Style!

Got nothing to share in words.

Better show off some pictures of ME and my kerudung style.. hehe…

4 women with 4 different style
Bandung, 2012

3 women and a baby.
Ponyo Restaurant, 2012

me + ira at kondangan
Ujung Harapan Bekasi, 2012

me + mba mila. This is my daily style
Skenoo Exhibition Hall, 2012

used to be my favorite.
PPTK Gambung, 2011

traveling meet hijab
KLCC Park, 2012

stylish enough? :p
Masjid Al Haram, 2012

Let’s go!
Mecca Al Mukaramah, 2012

Show off!
International Embroidery Festival, 2012