Hiking : Gunung Papandayan (Pondok Salada + Tegal Alun) 3

Gunung Papandayan, 16.30 WIB

Intensitas hujan berkurang. Saya, Mba Mila, Atha, Ira dan Dicky segera menuju sungai untuk membersihkan diri. Sungai di Pondok Saladah berada di bawah camping ground. Airnya super dingin! Kami bergegas naik kembali menuju tenda untuk berganti pakaian karena udara mulai dingin dan kami tidak ingin masuk angin.

Beberapa menit kemudian, hujan kembali turun dan tidak berhenti hingga malam hari. Tenda yang kami bawa ternyata ada yang rembes dan tidak dapat menahan gempuran air hujan yang kian menit kian deras saja. Api unggun yang dibuat oleh Kang Ferry hanya tahan tidak lebih dari 2 jam. Sambil menggigil kedinginan, kami berkumpul di tenda atas (total kami mendirikan 4 tenda) sementara tenda bawah diperbaiki letaknya oleh Kang Ilet dan Kang Roby.

Sambil menunggu perbaikan tenda, kami makan malam. Menu kali ini adalah nasi + sarden. Sayangnya, Agung beli sarden jenis balado yang sudah pasti pedas, sementara saya kurang suka pedas. Namun apa mau dikata, jika saya tidak makan sudah pasti saya akan kedinginan bahkan mungkin hipotermia. Saya pun makan sambil berdoa semoga perut saya kali ini dapat diajak kerjasama. Tenda dan makan selesai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kami pun memasuki tenda masing – masing untuk beristirahat. Mba Mila, Ira dan Atha berada dalam satu tenda. Agung dan Fauzi hanya berdua dalam tenda mereka. Saya, Dicky dan Kang Agung menempati tenda paling atas. Kang Roby dan Kang Ilet punya tenda sendiri sementara Kang Feri sibuk dengan kayu bakarnya :D.

Hujan berhenti turun sekitar pukul 10 malam. Udara dingin menusuk tulang mulai terasa. Api unggun dibuat oleh Kang Feri. Cuaca cerah membuat langit tampak bersih dan dipenuhi bintang. Untuk mengusir dingin, saya dan teman teman mengobrol dan bercanda – canda. Semakin malam ternyata rasa kantuk semakin menyerang. Saya menyerah, saya mau istirahat saja, mengingat agenda besok pagi adalah mengejar sunrise. Jam 1 saya kembali ke tenda dan beristirahat.

Pukul 4.30 saya terbangun. Saya membangunkan teman teman yang lain untuk melihat sunrise. Saat itu langit luar biasa indahnya. Cerah dan penuh bintang! Semburat sinar matahari sudah mulai terlihat dari balik Pondok Saladah. Kami harus bergegas! Ternyata spot untuk melihat sunrise tidak jauh dari camping ground. Mulailah kami mengambil gambar sekaligus menikmati indahnya sunrise pagi itu.

Unforgetable moment. Breath taking. Subhanallah.

Agenda selanjutnya setelah menikmati sunrise adalah membersihkan badan lanjut packing dan sarapan pagi. Setelah sarapan pagi, kami akan ke Tegal Alun, track terpendek namun terberat di perjalanan kali ini.

Silakaaannn… 🙂

To be continued…

Hiking : Gunung Papandayan (Pondok Salada + Tegal Alun) 2

Pendakian pun dimulai!

Saat itu cuaca mendung, jarum jam sudah beranjak hampir ke pukul 3 sore. Kami harus bergegas, karena sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.

Di awal pendakian, kami langsung bertemu dengan kawah setelah melewati jalan lebar yang berbatu. Asap tebal menyambut kami saat perjalanan. Bau belerang tercium kuat. Menurut Kang Agung, kami dilarang berada terlalu lama di sana. Asap dan bau belerang dapat menyebabkan keracunan jika terlalu banyak dihirup.

Baru sampai kawah dan area berbatu, nafas saya sudah habis. Ternyata penyebabnya adalah tas yg saya bawa itu luar biasa beraaaaaaaattt.. :D. Saya minta tolong Dicky buat bantu bawa, ternyata Dicky juga sama sama gak kuat bawanya. Akhirnya setelah menghilangkan gengsi dan rasa gak enak, saya minta tolong sama Kang Ilet untuk tukeran tas, karena tasnya beliau kecil. Belakangan baru saya nyadar, biar kecil, tapi tasnya berat banget!

Masih di area kawah, hujan turun lumayan deras. Kami tetap meneruskan perjalanan karena kawasan kawah yang berbatu ini akan berakhir sebentar lagi. Isitilahnya, kagok kalo harus berhenti dulu untuk pake jas hujan. Sesampainya di akhir kawah, kami pun buru buru mengunakan jas hujan, berharap pakaian yg kami kenakan tidak terlalu basah. Sempat beristirahat sebentar sebelum meneruskan perjalanan, kami memakan bekal yang kami bawa agar gula darah tidak terlampau turun drastis.

Melihat jalur yang akan kami lewati menuju tempat perkemahan Pondok Saladah nyali sudah ciut. Sehabis diguyur hujan, pastinya jalan akan lebih sukar dilalui karena licin. Berbekal doa, tekad dan rasa percaya diri, kami semua melanjutkan perjalanan.

Di tengah jalan, Dicky merasakan kakinya kram. Kakinya tidak mampu untuk digerakan. Agung yang pernah mengalami hal serupa turun tangan membantu Dicky. Tak lama kemudian, Dicky pun bisa berjalan lagi. Trek selanjutnya lebih berat lagi, licin dan minim pohon atau setidaknya akarnya untuk dapat dijadikan pegangan. Dicky sempat jatuh dua kali di sana.

 

Setelah melewati trek licin itu, sampailah kami ke persimpangan antara ke Pondok Saladah dan Tegal Panjang. Mengambil arah ke Pondok Saladah mengharuskan kami melewati hutan homogen Cantigi (Vacsinium faringifolium) selama kurang lebih 15 menit, barulah sampai. Para pria langsung mendirikan tenda karena hari mulai gelap dan hujan belum mau berhenti.

Pondok Saladah
(foto diambil keesokan harinya)

To be continued….