Life is about to choose

Hidup adalah tentang memilih. Tidak memilih adalah sebuah pilihan – anonymous

Tanpa sadar, kita selalu berada dalam situasi yang mengharuskan kita untuk memilih. Ketika alarm menyala dipagi hari, akan terus tidur atau bangun? Langsung mandi atau minum kopi dulu? Pake baju apa ya hari ini? Begitu pola hidup kita seterusnya.

Bagi saya, memilih itu penting.

Ini mungkin terdengar absurd, tidak penting, remeh temeh atau apapun lah sebutannya, tapi bagi saya ini penting. Saya, hampir setiap minggu pulang ke Bandung. Saya harus memilih akan memakai moda transportasi apa, karena ini berkaitan dengan hal yang ingin saya tuju di Bandung. Jika saya langsung pulang ke rumah, maka saya akan memilih menggunakan bis jurusan Tasik atau Garut dari Lebakbulus dan turun di Cileunyi, lebih dekat dan murah. Jika saya ingin menghadiri acara kumpul-kumpul bersama teman teman di Yuky, maka saya akan memilih travel Baraya agar bisa langsung turun di Gasibu, lebih dekat dan praktis. Jika mau langsung jalan ke daerah Kings, Pasar Baru atau Alun Alun, maka saya akan memilih bis yang ke Terminal Leuwi Panjang.

Begitu pun sebaliknya jika saya dari Bandung menuju Jakarta. Saya harus dapat cermat membaca situasi dan kondisi. Di Jakarta, salah memilih jalur, akibatnya bisa menghabiskan banyak waktu untuk memutar balik dan kena macet. Hal hal seremeh itu, sekecil itu, sangat penting buat saya.

Memilih bukan hanya tentang PEMILU, bukan hanya tentang UMPTN (jaman saya dulu), bukan hanya tentang merk dan tipe kendaraan yang ingin anda beli, tapi segala hal dalam hidup anda. Karena hidup adalah untuk memilih!

Memilih bukan mengenai benar atau salah, tapi berani atau tidak. Setiap pilihan yang diambil, selalu ada resiko yang harus ditanggung, sekecil apapun itu. No regrets! Jangan pernah menyesali apa yang telah menjadi pilihan anda. Kita tidak pernah tau pilihan yang kita ambil itu sesuai atau tidak dengan yang kita inginkan, kita harus berani mencobanya!

Bagaimana dengan anda?

bye bye Blackberry (for now)

it was my handset, Red Blackberry Curve 8310
Ah, apa apaan ini? Mengapa saya menulis judul demikian? Saya hanya mau share dampak positif dan negatif yang saya rasakan ketika saya menggunakan bb. 
Kenapa mesti repot repot nulis yang kayak gini? Karena, saya sudah memutuskan untuk tidak menggunakan bb lagi selama saya bekerja di perusahaan yang sekarang, kecuali kalo saya pindah kerja. πŸ˜‰
Dampak positif yang saya rasakan :
  • tidur saya lebih nyenyak
  • pikiran saya lebih tenang
  • saya bekerja “sesuai” dengan jam kerja yang telah ditetapkan oleh Depnakertrans
  • bisa berlibur dengan santai
  • terhindar dari pikiran negatif
  • beban tas saya berkurang
  • punya waktu banyak untuk bersosialisasi dengan keluarga dan sahabat
  • telapak tangan gak pegel – pegel lagi
  • radar telinga saya bisa beristirahat diwaktu malam
Dampak negatif yang saya rasakan :
  • pulsa agak membengkak
  • gak bisa curhat dan gosip “gratis” ke sahabat via bbm/ym/gtalk
  • gak terlalu eksis lagi di twitter dan facebook
  • gak bisa pake google maps lagi kalo nyasar
Oh, sudah? Dampak negatifnya hanya empat? Berarti keputusan saya sudah tepat kan? πŸ˜‰

menjadi stylish adalah pilihan?



Sebagai salah seorang pekerja di industri fashion, saya dituntut harus mengerti dan memahami dunia fashion itu sendiri. Dunia fashion itu sangat dinamis. Perubahannya bisa secepat dan semudah membalikan telapak tangan. Setiap tahunnya selalu ada pencanangan mengenai tren, baik itu pada pakaian, sepatu, asesoris, tas dan lain sebagainya. Saya perhatikan, umumnya, tren itu selalu berulang.






Saya bukan penyuka tren, tapi saya suka fashion dan sedang berusaha untuk menjadi stylish. Apa itu stylish? Silakan baca ulasan Hanzky dari Fashionese Daily tentang stylish di sini. Saya kutip sebagian dari tulisannya Hanzky.

 …….. To have a style, you have to know what works and looks best on you, your shape, your skin color and what fits your personality. Style is usually influenced by things like culture, nationality, music, arts, age and a myriad of other factors. It’s something that is so you. Being stylish is about looking good and dressing according to the occasion, whether or not the clothes are from the current trend is irrelevant. You can be stylish without being fashionable.” 


Saya setuju dengan pendapat Hanzky di atas. Menurut saya, stylish tidak diukur dari bagaimana dia selalu mengikuti tren dengan langsung diaplikasikan pada gaya berpakaiannya sehari-hari, tapi bagaimana dia dapat mengaplikasikan model pakaian yang tepat bagi bentuk tubuhnya pada saat yang tepat di tempat yang tepat pula. Being stylish is truly being your self and its comforting you. Semuanya berpulang pada rasa percaya diri masing masing.

Sebelumnya, saya sangat jauh dari dunia fashion apalagi punya keinginan untuk terlihat stylish. Saya jadi ingat, jaman saya SMP – SMA dulu, saya sering mengamati cara teman teman saya memakai baju. Saya tidak terlalu memikirkan apa kekurangan dan kelebihan dari tubuh saya. Apa yang happening saat itu pasti saya ikutan beli dan ikutan pakai, padahal belum tentu cocok buat saya. Jaman SMA dulu, brand is number one! Gak peduli bentuknya kayak apa, cocok apa engga, yang penting branded! Gengsi sangat penting banget waktu itu. Baju saya pun terbatas, karena urusan brand yang mahal bikin orang tua membatasi saya untuk gak menghabiskan uang hanya untuk pakaian. “Masih banyak yang lebih penting!” gitu kata orang tua saya.

Memasuki kuliah yang notabene gak pake seragam, mewajibkan saya untuk mulai berpikir keras bagaimana agar terlihat keren dan stylish setiap hari dengan pakaian yang berbeda tapi dengan budget terbatas. Saya dan teman sering kali hunting ke Cimol (tempat jual baju baju bekas pakai impor) karena harganya yang murah meriah. Saya pun mulai bisa bernapas lega. Sedihnya, saya harus bangun lebih pagi untuk mikirin hari ini pake baju apa ya? what a classic story, huh? πŸ˜€ Menjadi suatu kebanggaan bagi saya ketika ada seorang teman yang memuji saya dengan bilang, “Dewi pake baju apa aja pasti keliatan keren dan enak diliat”. Sekarang saya jadi tau apa maksud perkataannya, i’m stylish!! hehehe…

Saya banyak mengamati teman teman disekitar saya sejak dulu sampe sekarang. Dan, menurut saya, menjadi stylish itu pilihan. Banyak teman yang ogah ribet seperti saya, yang mau pake baju apa hari ini energi mikirnya sama dengan mikirin ujian tengah semester. Teman saya kebanyakan anak kost yang bajunya gak banyak. Kadang, baju yang sama dipake dua hari berturut-turut. Wuih, bukan gue banget itu mah! πŸ˜› Banyak juga teman saya yang punya satu model baju tapi bisa dibikin sampe dengan 10 motif yang berbeda.. Niat banget! hahaha.. Tapi bisa jadi, dia udah nyaman dan cocok dengan model baju seperti itu, makanya dia bikin lebih dari satu.

Ada juga sahabat saya yang menurut saya amat sangat stylish. Saya banyak mendapat inspirasi dari dia. Ya jelas, karena profesi dia desainer. Eh, tapi, teman saya yang lain, sama sama desainer juga ada yang tidak terlihat stylish. Tapi saya akui, saya sangat moody. Pada suatu saat saya terlihat stylish, pada saat yang lain saya terlihat sangat tidak stylish. 


Oya, saya juga pernah sedikit berpikir tentang korelasi antara stylish dengan ketersediaan dana yang cukup untuk mendukung itu. Stylish kemungkinan besar lebih didominasi oleh para wanita dan atau pria yang berdaya beli tinggi. Untuk golongan ekonomi lemah, punya baju lebih dari satu saja sepertinya sudah sangat bersyukur. Tapi pemikiran saya itu kemudian dipatahkan oleh mata saya sendiri. Ada beberapa orang teman yang termasuk kalangan the haves, tidak terlalu stylish. Entah karena alasan berhemat, memang tidak terlalu interest utk menjadi stylish, jarang mencari informasi atau kelewat pelit? hehehe… 


Nah, seperti saya bilang tadi, menjadi stylish itu pilihan. What do you think?



Traveling : Curug Malela

Saya sudah mendengar cerita tentang Curug Malela sejak tahun 2008. Setelah browsing sana sini, saya tertarik banget pengen liat langsung keindahannya.
Rencana pergi ke Curug Malela beberapa kali batal. Awalnya saya akan berangkat dengan rekan rekan majelis ta’lim pertengahan 2008, batal. Akhir 2008 dengan teman teman kantor, batal. Pertengahan 2009 dengan teman teman kuliah, batal. Sehabis lebaran dengan rong geng, batal. Baru kesampaian hari Minggu kemaren bisa berangkat, itu pun dadakan atas ajakan Agung, salah satu anggota rong geng juga. Rencana ini hampir batal juga karena beberapa rekan rong geng ternyata gak bisa ikut (hmmm.. saya baru tau alasan kenapa mereka gak bisa ikut.. damn! :P). Kami berangkat bertujuh dengan formasi empat orang pria dan tiga orang wanita.
Seperti biasa, setiap saya akan berangkat menuju suatu tempat, saya pasti akan banyak cari referensi. Kebanyakan sih browsing dan blogwalking. Google maps tetep jadi andelan. Modal penting untuk berangkat ke Curug Malela gak cukup dengan insting dan informasi hasil browsing tapi juga tetep harus rajin tanya-ing. Banyaknya simpangan dan pertigaan akan bikin kita bingung, pada beberapa tempat gak tersedia petunjuk jalan.
So, how to get there?
Saya hanya akan kasih petunjuk arah. Curug Malela adanya di Kampung Manglid, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Kira-kira rutenya begini : Pintu tol Padalarang – Batujajar – Cililin – Sindangkerta – Gununghalu – Bunijaya – Rongga – Manglid. Perjalanan dari BTC Pasteur sampai ke Curug Malela menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan menggunakan mobil.

Tips dari Agung sang pengendara Landrover di daerah ini adalah :
  1. Hati hati jalan sempit. Banyak motor lalu lalang
  2. Sering sering liat spion sebelum pindah jalur, karena sering kali pas kita mau susul kendaraan di depan kita, motor di belakang ikut ikutan nyusul.
  3. Bunyikan klakson kalo nemu belokan tajam sebelum belok, karena motornya ga pernah minggir, sukanya ambil jalur tengah. Bahaya kan?
Kami sempat tersesat di daerah Sindangkerta – Gununghalu. Seharusnya, untuk mencapai Bunijaya, kami belok di pertigaan yang ada Bank BRI Gununghalu. Pertigaan lainnya yang menjadi patokan adalah pertigaan Bunijaya-Rongga, tepat sesudah Alfamart Bunijaya. Di pertigaan Bunijaya – Rongga itu banyak tukang ojek mangkal sebelah kanan ke arah Rongga. Di tempat mangkal tukang ojek itu ada petunjuk jalan nempel, tulisannya : Γ  RONGGA 1000 Meter. Pastikan kita awas membaca tanda, atau, kalo gak mau repot, tinggal tanya sana sini aja.

Setelah masuk pertigaan menuju Kecamatan Rongga, kita akan menemukan perkebunan teh Montaya. Jalan di sini cukup membingungkan, banyak pertigaan yang bikin kita harus terus menerus tanya sama penduduk sekitar, lagi lagi, akibat ketiadaan petunjuk jalan yang memadai. Petunjuk jalan kecil  ada di depan pertigaan sebelum belok kanan dengan tulisan MARELA –> . Hmmm, jadi yang bener tuh Marela apa Malela yak? Jalan rusak dan berbatu akan kita temukan sepanjang perkebunan teh dan setelahnya.
Patokan terakhir bagi kendaraan selain jip atau kendaraan offroad lainnya dan motor adalah SD CICADAS dan SMPN Terpadu. Disinilah kendaraan harus diparkir, karena setelah patokan ini, jalannya luar biasa berbatu. Jarak ke Curug Malela dari patokan ini kurang lebih 3 kilometer. Karena kami menggunakan Landrover, kami bisa sampai ke tempat pemberhentian dengan jarak kurang lebih satu kilometer lagi menuju Curug. Lumayan, buat menghemat tenaga J.

Kami pikir, kami tak akan menemukan pertigaan lagi setelah pemberhentian mobil paling terakhir ini. Ternyata salah sodara sodara! Baru jalan sekitar 50 meter, kami sudah menemukan pertigaan dan kami gak ketemu satu orang pun untuk kami mintai informasi. Phew! Alhamdulillah, setelah beberapa menit menunggu, datanglah seorang Bapak yang baik hati mau memberi info arah. Siap siap ya kawan, perjuangan menaklukan medan menuju curug baru saja dimulai! Yang suka merokok tapi jarang olahraga, siap siap aja berasa mau pingsan.

Curug Malela terlihat dari kejauhan

Tips dari saya :
  1. Aturlah pernapasan anda dengan menarik napas dari hidung dan mengeluarkannya lewat mulut. Lumayan menambah oksigen loooh πŸ˜‰
  2. Sebelum berangkat, perut jangan sampai kosong, karena medan yang sulit dan perjalanan panjang akan menghabiskan energi anda.
  3. Gunakan alas kaki yang nyaman dan memiliki sol dengan gerigi untuk mencengkram tanah. Tanah menuju curug licin dan berbatu.

Penting untuk diingat, jangan terlena untuk terlalu bahagia ketika sudah sampai curug, karena perjalanan pulangnya itu sungguh luar biasa capek! Terutama untuk anda yang kurang memperhatikan daerah lutut.. hahaha..
Well, it’s a wrap! Happy traveling!

Sampai Jumpa!

Hari ini, seorang teman telah pergi. Keluar dari tempat kerja kami setelah lebih dari dua tahun mengabdi.

Tentunya, saya dan teman teman yang lain, ingin tau alasan kepergiannya.

Jawaban sama yang saya dapatkan dari seseorang yang memutuskan untuk pindah kerja. GAJI diperusahaan yang lain lebih tinggi dan hari kerja hanya LIMA dalam seminggu. Dua hal ini yang memang tidak didapatkan di sini, sampai hari ini.

Sampai jumpa kawan! Semoga di tempat baru, kau mendapatkan hal yang tidak kau dapatkan di sini.

Ciao!