Rong Genk : Road On Never ending Glory Genk

Apa yang terlintas dalam pikiran temen temen tentang judul di atas? yang jelas, itu bukan judul buku ya, apalagi judul surat cinta. Nama dan kepanjangan judul di atas disahkan sebagai nama geng jalan jalan kami sewaktu trip ke Pulau Tidung, Juli 2010.

Setelah trip ke Tidung itu, kami jadi sering banget ngumpul dan ngobrol-ngobrol untuk merencanakan trip trip selanjutnya. Trip kedua kami ke Jogja, tapi tidak dalam formasi lengkap seperti waktu ke Pulau Tidung. Ke Jogja kemarin yang ikut hanya 5 orang, dari formasi asal 9 orang. Tapi kami punya tambahan teman 3 orang, jadi geng kami ini secara tertulis bertambah jadi 12 orang tambah satu orang anggota lagi yang jarang ikut trip tapi rajin ngumpul jadi total 13 orang.

Geng jalan jalan ini punya latar belakang anggota berbeda-beda dengan rentang umur 17-38 tahun. Secara teori mungkin susah ya menyatukan dalam satu geng? Tapi ternyata, kami bisa. Di geng kami ini, dilarang jaim, dilarang gengsi dan dilarang menyebalkan 😀 harus ikut serta dalam segala macem games yang diadakan sama anggota geng. Game paling favorit adalah gagarudaan, dimana kita wajib menyebutkan satu nama sesuai dengan huruf awal yang keluar di game, sesuai topik. Kalo kita gak bisa jawab, kita bakal kena hukuman. hukumannya macem macem, ada dicepret pake sedotan, ditimpuk pake buah pinus laut sampe gerak tiarap ngelewatin kolong meja.. hahaha..

yak, dari pada penasaran. segera aja saya perkenalkan para anggota Rong Genk. Jeng jreng…

Rong geng formasi Tidung : Dicky, Rhyan, Tedi, Allit, Atha, Ria, Rita, Rini, Dewi

Rong geng formasi nongkrong (maap kecil, soale pake bb) tambah Dinne

Rong geng formasi Jogja – Borobudur tambah Pio, Agung dan Ajuy

Rong geng formasi Malang-Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru
tambah Yuda, Sadriz, Ira, Dido dan Mba Harni

Next trip : Teluk Kiluan dan tempat lainnya yang masih dalam tahap pembicaraan. Dare to challenge us? or do you want join us? feel free to contact us.. 😉

Travelling : Borobudur

Sebuah tawaran datang ke saya dari seorang teman. Dia ngajak pergi ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, mengunjungi tempat tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Saya setuju. Semenjak pulang dari Pulau Tidung bulan Juli lalu, saya belum pernah jalan jalan ke luar kota lagi. Teman saya berencana untuk liat sunrise di Borobudur, tapi batal, karena tiket masuknya dua ratus ribu rupiah aja. Tapi kami tetap memutuskan untuk berangkat ke Borobudur karena terkahir kali kami kesana, sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.

Kami berangkat 8 orang menggunakan mobil A***za. Jam 6 pagi kami sudah sampai di Borobudur dan langsung masuk ke lokasi. Diatas jam 6 pagi harga tiket normal kembali. Hari Senin – Jumat, harga tiket IDR 18.000, weekend IDR 23.000. Pemandangan diatas jam 6 pagi masih sangat indah. Borobudur dikelilingi oleh kabut dan udaranya sangat segar.

Miss you already, Borobudur!!

Wardrobe Job

Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia fashion, saya secara tidak langsung juga terlibat dalam pekerjaan  orang lain. Salah satunya adalah wardrobe di film. Apa itu wardrobe? silakan cek di sini.


Seorang film wardrobe harus menyiapkan busana seluruh pemeran dan asesorisnya yang diperlukan untuk syuting film. Saya kenal beberapa orang. Koq bisa? Karena mereka menggunakan produk dari perusahaan saya untuk keperluan syutingnya. Ada syuting sinetron, iklan, ada pula syuting film. Saya lebih tertarik pada film wardrobe.

Saat ini, sebuah production house sedang syuting film yang naskahnya diambil dari sebuah buku karangan seorang penulis terkenal. Setting film tersebut adalah sekarang atau taun 2010an. Mba wardrobenya, sebut saja Mita (bukan nama sebenarnya) adalah seorang desainer (katanya), terlihat dari cara dia memakai busana yang lain dari biasanya. Tapi bukan jaminan juga sih, banyak desainer yang saya ketahui tidak terlalu stylish. Banyak juga teman saya yang bukan desainer tapi berpakaian sangat stylish. Oke, kembali ke topik, wardrobe.

Mba Mita bekerjasama dengan perusahaan saya untuk mengakomodasi pakaian untuk para pemeran wanita di film yang sedang syuting tersebut. Awalnya, saya pikir memilih pakaian sesuai karakter peran itu ternyata cukup sulit. Tapi kesulitan itu bisa dikurangi dengan adanya sponsorship dari brand busana. Brand tersebut akan menyediakan beberapa busana untuk kemudian dipilih oleh mba Mita yang cocok dengan karakter peran yang diinginkan. Jadi, mba Mita gak perlu krasak krusuk keluar masuk banyak mall untuk mencari busana yang diinginkan. Setelah saya observasi, ternyata, pekerjaannya tidak terlalu sulit (nampaknya).

Tapi kemudian saya melihat film Indonesia yang sudah tayang di bioskop. Film itu mengambil setting akhir tahun 1800an. Wah, ini yang sulit menurut saya. Mencari, mengumpulkan, mencocokan, observasi, membaca referensi wajib dilakukan demi mendapatkan pakaian yang tepat untuk peran yang tepat pada masa yang tepat dan pada adegan yang tepat. Kebanyakan busana yang dibutuhkan tersebut tentunya sudah jarang tersedia dimanapun.

Saya jadi amat sangat tertarik sama pekerjaan sebagai wardrobe ini. Ah, suatu saat saya mau mencobanya. Dare to challenge me?

a pair of red flat shoes

Saya penyuka sepatu merah, marun tepatnya. Bagi saya, merah adalah warna basic yang bisa saya padankan dengan warna apa saja, kecuali ungu -belum pernah saya coba.

Terinspirasi oleh salah seorang pimpinan di perusahaan saya, warna merah menjadi salah satu warna wajib diantara koleksi sepatu saya. Setidaknya, saya harus punya satu pasang.

Sepatu merah pertama yang saya punya jenis open-toe (terbuka dibagian depan, jempol dan telunjuk kaki nongol dikit, cmiiw). Desainnya sporty, bahan kanvas, ada list putih dibagian pinggiran sepatu dan dibagian open-toe nya. Sol sepatunya mirip sama street shoes keluaran merek sport ternama. This shoes is sooooooooooo me.. :). Sepatu ini udah pensiun sejak tahun 2008 (saya beli 2007) karena bagian open-toenya ada yang copot akibat frekuensi pemakaiannya yang tinggi.

Sepatu kedua, modelnya lebih cewek dan terbuat dari kulit imitasi. Agak mengilap dikit, dengan sol tipis dan sedikit licin. Sepatu ini menemani saya sampai 2009.

Sepatu ketiga saya beli akhir 2009. Desain sepatunya mirip sama sepatu Puma yang saya taksir sejak pertengahan 2009. Tapi apa daya, saya gak sanggup beli merk terkenal ituh :(. Sepatu ketiga ini hanya bertahan hingga akhir Agustus kemaren. Bagian dalam solnya copot karena sering keujanan dan kebanjiran.. hehehe..

Note : sebenernya sepatu ketiga gak terlalu mirip ini sih, tapi karena di web Puma udah gak ada foto sepatu yang saya maksud, jadi saya pejeng yang ini.. 😛

Daaaaann.. sepatu merah terakhir yang saya punya adalah studded (gambarnya belon bisa saya uplot). Sepatu  nya dari bahan suede, dengan studed di bagian depan dan belakang sepatu.

So what is your must-have-color shoes? share with me! 😉