suatu hari di kantor imigrasi

pagi itu saya niat banget ke kantor imigrasi dandan yang cantik, karena mu wawancara dan foto. setelah menunggu selama hampir satu jam, saya pun dipanggil masuk untuk foto dan wawancara.

Petugas Imigrasi : “nama, alamat seudah sesuai?” sambil ngeliatin berkas.
Saya : “cocok pa”
Petugas Imigrasi : “tempat, tanggal lahir cocok?”
Saya : “iya pa”
Petugas Imigrasi : “jenis kelamin?”
Saya : “perempuan pa”
Petugas Imigrasi : “yakin?”
Saya : “MAKSUD LOOOOOOOO….??” *nepsong*
eh, si petugas imigrasi cuman senyum senyum doang.

Petugas Imigrasi : “sudah menikah?”
Saya : “belum”
Petugas Imigrasi : “kenapa?”
Saya : “ggggrrrgggghh…terserah saya lah pa. emang penting ya?”
eh, dia senyum senyum lagi..

Petugas Imigrasi : “mu kemana?”
Saya : “singapore”
Petugas Imigrasi : “ngapain?”
Saya : “jalan jalan”
Petugas Imigrasi : “ooooo”
*pletaaaaakkk*

Petugas Imigrasi : “oke, persyaratan anda sudah lengkap”
Saya : “oke, makasih pa!” *kedipsebelahmatasambilsenyummanis*
eehh.. dia senyum lagiii, manis pula.. hahaha.. flirting ceritanyaaa..!!

Alangkah Lucunya (negeri ini) –bukan sebuah review

Kemarin, saya nonton film Alangkah Lucunya (negeri ini), sendirian. Karena sahabat saya ga terlalu suka film Indonesia, dia lebih memilih Hachiko, jadilah kita berpisah teater.

Kursi bioskop tidak terisi penuh, setengahnya pun tidak. Saya maklum, karena hari itu weekdays, dan saya nonton yang jam tayangnya 19.15.

Saya tidak terlalu banyak berekspetasi pada film ini, yang jelas jika ada Deddy Mizwar terlibat di dalamnya, pasti film itu banyak pesan moralnya. Itu yang saya cari. Itu yang saya suka.

Filmnya bercerita tentang niat seorang Sarjana Manajemen bernama Muluk yang ingin memberikan pendidikan bagi para pencopet cilik agar mereka tidak mencopet lagi. Muluk bersama dua orang temannya, Syamsul dan Pipit, saling membantu untuk mengajarkan para pencopet cilik itu membaca dan pengetahuan agama. Muluk, Syamsul dan Pipit digaji dari hasil mencopet. Dilema. Konflik mulai meruncing saat ayahnya Muluk mengetahui bahwa Muluk dan dua orang temannya digaji dari hasil mencopet. Ayahnya, merasa bahwa gaji Muluk tersebut haram, dan Muluk pun tak tau harus menyikapinya seperti apa. Seperti sudah saya duga, isi film itu penuh dengan pesan moral.

Setelah nonton film itu, saya jadi teringat sebuah percakapan dan diskusi dengan bos. Saat itu, kami menghadapi dilema, apakah ingin syiar/dakwah di “mesjid/lingkungan pesantren”, atau syiar/dakwah di “gang Dolly”? Mana yang lebih baik?

Isi film dengan diskusi saya dan bos, persis sama keadaannya. Di film, memang tidak ada penyelesaian, karena memang posisi benar dan salah hanya Allah yang tau. Bos saya juga sempat dilema, dia bingung harus bagaimana. Bos saya mengambil keputusan untuk syiar/dakwah di “gang Dolly” sama persis seperti jalan yang diambil Muluk. Semoga, itu adalah keputusan yang terbaik yang diridhoi Allah. Amiin.

By the way, ada satu adegan yang saya suka dari film Alangkah Lucunya (negeri ini). Saat Syamsul dan Muluk memberi pengertian pada pencopet cilik tentang pentingnya arti pendidikan. Mereka menenangkannya dengan susah payah agar mudah dimengerti maksudnya. Mohon maaf jika dialognya ada yang salah, tapi maksudnya sih demikian (i hope) 😛
Syamsul : copet juga harus berpendidikan, supaya nanti sukses dan tidak harus mencopet lagi.
Komet : maksudnya, jadi koruptor?

what do you think?

my inspiring people

judul ini, saya persembahkan buat dua orang yang sangat menginspirasi saya.

saya hanyalah orang yang punya fighting spirit, tapi moody. jika diminta untuk mengerjakan sesuatu, akan saya perjuangkan sampai semampu saya. mood sangat bisa merusak hari saya. jika harusnya saya bisa berpikir cepat tapi mood saya jelek, maka akan melambat. ini titik kelemahan saya. oke, cukup tentang saya, let’s focus. 😀

1. Tony Raharjo
pada suatu Sabtu, saya menghadiri majelis ta’lim Ashabul Kahfi (Ashkaf) di Bandung yang sudah jarang saya datangi akibat kepindahan saya ke Jakarta. Saat itu, yang menjadi pematerinya adalah kang Tony Raharjo (Tora). Siapakah dia? yang jelas, saya langsung terkagum kagum akan isi materi yang ia bawakan ketika pertama kali saya datang ke Ashkaf, dan itu tahun 2008. Tony Raharjo resminya adalah seorang trainer dan writer. Dia sudah tau dia ingin jadi apa semenjak dia masuk kuliah. Dia, memetakan hidupnya, dan tau cara untuk menggapai misinya dengan visi yang kuat.

Sabtu itu, kang Tora datang menggunakan mobil sedan Aerio. Saya terperangah. Dua tahun lalu, dia tak punya kendaraan, datang ke Ashkaf selalu dijemput. From zero to hero. Dia maju dengan pesat! Sekarang dia diminta menjadi pembicara dimana mana, menulis dimana mana, bahkan menjadi dosen! cool!

2. Teh Lela
Satu orang lagi yang menginspirasi saya adalah Teh Lela. Dia tetangga saya semenjak kecil di Bandung. Di catatan saya yang dulu, saya pernah menceritakan bahwa kita gakan pernah tau, pilihan akan membawa kita ke takdir yang mana. Hidup adalah untuk memilih kan?

Saat itu saya bingung, saya harus memilih antara D3 Fikom UNPAD atau S1 Biologi UPI. Saya memutuskan untuk memilih D3 saja. Lalu, saya ketemu teh Lela dan ngobrol tentang masalah ini. Teh Lela menyarankan saya untuk memilih S1 saja, karena biaya untuk ekstensi jika saya mengambil D3, akan sangat tinggi nantinya. Teh Lela juga banyak memberikan pandangan lainnya mengenai perbedaan D3 dan S1. Saya tidak mengiyakan saat itu, tapi sepanjang jalan saya terus berpikir, karena pilihan apapun yang akan saya ambil nantinya akan sangat mempengaruhi masa depan saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil S1 saja dan langsung berangkat ke UPI, saat antrian untuk pendaftaran ke Unpad tinggal menunggu giliran dipanggil saja.

Saya bertemu lagi dengan Teh Lela di Facebook (well, who didn’t? :P). Ternyata, rumahnya tidak jauh dari kosan saya di Jakarta. Saya pun datang berkunjung dengan maksud menyambung tali silaturahim. Saat itu, Teh Lela banyak bercerita tentang kehidupannya selama di Jakarta. Tentang harapannya, mimpinya, perjuangannya. Saya terharu sekaligus merasa terpacu. you are my inspiration teh!!

Saya bilang sama Teh Lela. Mungkin, jika saat dulu itu saya memutuskan untuk mengambil D3, saya tidak akan menjadi saya yang sekarang. Mungkin saya belum pakai kerudung, karena mayoritas teman saya di UPI memakai kerudung dan di Unpad yang berkerudung saat itu tidak sebanyak di UPI. aaah.. banyaklah kemungkinan yang berbeda yang akan terjadi pada saya jika keputusan D3 itu saya ambil.

Sekarang Teh Lela sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Mendirikan perusahaan sendiri dan menjadi karyawan daster :D. Bebas menentukan kapan dia mau bekerja, kapan dia mau beristirahat. Saya mau kebebasan yang seperti itu. Bekerja dan mengabdi pada perusahaan sendiri.

Saya, hari ini, berjanji. Akan meluangkan waktu saya untuk mulai menekuni hobi yang sangat saya sukai, namun ‘mati suri’ sejak 2009. Saya mau seperti mereka berdua. Saya harus mulai dari sekarang.