catatan perjalanan hiking ke Burangrang bagian 4 (tamat)

Yihaaaaaaa…

Puncak 4 Burangrang di depan mataaaa..!!! Semangat banget deh kami bertiga.. Didi dan Johan memimpin perjalanan. Kami masih harus melewati satu tanjakan lagi. Di tengah tanjakan, kami melewati satu batu nisan bertuliskan nama seorang pria yang meninggal di tahun 2002. Dari lambang yang tercetak di sana sepertinya pria itu salah seorang anggota pencinta alam. Huhuhu.. Betapa sedihnya..

Tak mau larut terlalu lama, sampailah kami di puncak Burangrang yang ada tugunya. Pfuiiiiiiiiih.. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah gunung, kota Bandung, Cimahi dan Bandung Barat. Subhanallah. di tugu tertulis, “Selamat datang di puncak Burangrang, k.l 2050 mdpl”. Lega rasanyaaa… Kami tidak berlama lama di puncak karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Jika tidak segera turun, dapat dipastikan kami akan kemalaman di jalan. Setelah setengah jam kami beristirahat, kami pun bersiap untuk turun gunung.

Turun gunung ternyata lebih menguras tenaga dari pada naik gunung. Bagi saya yang paling repot adalah lutut. wuiiihh.. aselinya.. pegeeeeeeeeeeeeeellll… Awal awal turun, lutut yang repot. Lebih dari setengah perjalanan udah menjalar ke otot paha dan otot betis. Tiga per empat perjalanan kena ke telapak kaki dan pergelangan kaki dan ditambah dengan turunnya hujan. Jalur yang licin menambah berat penderitaan kaki yang saya tanggung (maklum udah lebih dari 25 tahun.. :P). Sambil meringis karena pegel, saya mengamati jalur yang kami tempuh. Sedikit ga percaya saya bertanya ama diri sendiri, “emang waktu berangkat, kita lewat sini ya?” Gilee.. jalurnya kan terjal bangettt!! Bravo, ternyata saya bisa menaklukannya!! Saya jadi bangga ama diri saya sendiri.. hehehe..

Sesampainya di hutan homogen pinus, rasa pegel udah ga ketahan lagi. Sepertinya kulit di telapak kaki kapalan deh, perih soalnya. Rasanya pengen nyopotin kaki dan terbang pake baling-baling bambunya Doraemon!! Tapi apa daya, kami masih harus melewati jalan besar dan turun melalui jalur ekstrimnya CIC. Perjuangan belum berakhir kawan! Di jalur ekstrimnya CIC licin karena dibasahi air hujan, Johan sempat jatuh dan celananya kotor. Saya dan Didi pun hampir jatuh karena jalur licin ini. Alhamdulillah kami bisa sampai di bawah dengan selamat.

Kami mampir dulu ke toilet karena panggilan alam yang tidak dapat diabaikan. Keluar dari toilet, hujan turun lagi sangat deras. kami tak dapat menunggu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. Kami harus segera sampai terminal karena angkot terakhir hanya sampai pukul 18.00. Jadilah saya berbasah-basahan, karena saya hanya bawa jas hujan, sedangkan Didi dan Johan bawa payung.

Melewati villa Istana Bunga, Terminal Parongpong di depan mata. Alhamdulillah angkot masih ada. rencana saya untuk berganti pakaian urung karena toilet sudah tutup. Jadilah di angkot saya memakai baju yang basah. Turun dari angkot, kami mencari mesjid terdekat untuk membersihkan diri. Tanpa diduga, kami bertiga amat sangat kedinginan! Memang hujan telah berhenti, tapi mungkin karena perut kami kosong, tak ada kalori yang dapat dibakar sehingga kami pun kedinginan. Penuh perjuangan melawan kedinginan, sampailah kami pada sebuah mesjid. Saya pun langsung berganti pakaian.

Sehabis membersihkan diri, kami memutuskan untuk mengisi perut dahulu sebelum pulang. Pilihan yang paling mungkin adalah mie baso (anget anget gimanaaa, gitu.. :P). Selesai mengganjal perut, kami pun pulang. Kaki masih amat sangat pegel, tapi kami puas dan bersyukur bisa pulang dengan utuh. Bagi sebagian orang, bisa menaklukan puncak gunung adalah sebuah kepuasan tersendiri. Bagi saya dapat menaklukan puncak gunung memang puas, tapi lebih puas lagi ketika kita bisa turun gunung dengan selamat dan tanpa kurang suatu apa pun. Psstt.. Besoknya kaki saya langsung dibalur Counterpain sehari 3 kali, Alhamdulillah di hari ketiga pegelnya hilang!! Saya pun bertekad untuk naik gunung lagi bulan depan.

next destination : manglayang!

catatan perjalanan hiking ke Burangrang bagian 3

Aaahhh.. ini bagian terbaiknya!

Menembus hutan homogen yang ditumbuhi pinus, jalanan masih lumayan datar (Didi bilang bonus track). Begitu memasuki hutan heterogen, jalanan udah mulai naik turun secara signifikan. Jalur pendakian pun dimulai kawan!

Hari ini cuaca mendung, tapi sesekali matahari menampakan sinarnya. Di dalam hutan, angin tidak terlalu terasa berhembus. Kami langsung disambut dengan jalur pendakian dengan kemiringan lebih dari 50 derajat. Pokonya lumayan bikin ngos ngosan (inget cerita jalur ekstrim di 2 bagian sebelumnya?). Tapi kali ini saya tidak lagi merasa ingin pingsan, walau masih ngos ngosan. Barangkali tubuh saya cepat beradapatasi dengan keadaan. Sampailah kami pada satu tanjakan yang kemiringannya 70 derajat. Kami harus melewati tanjakan batu! Tanjakan itu licin dan sulit untuk dilalui. Ah, tapi pantang untuk kembali. Satu satunya jalan, ya hadapi saja! Saya pikir setelah melewati tanjakan batu itu, kami akan menemukan puncak, tapi apa daya, ini baru setengah perjalanan coy! Weeww..

Jalur pendakian dan tanjakan yang sangat ekstrim, sering kali kami temui. Kami harus melewati itu semua supaya bisa menuju puncak Burangrang yang kami tuju. Sampai di puncak pertama, kami bertemu dengan 3 orang pria yang sepertinya habis bermalam di salah satu puncak Burangrang (puncak Burangrang ada 4). Sempat ngobrol sebentar, tapi mereka pamit duluan dan kami memang masih harus menempuh 3 puncak lagi untuk sampai tujuan. Salah satu dari mereka bilang, “setengah jam lagi sampai!” Didi bilang, “setengah jam kali 3!” Secara mereka turun kita naik, ya ga bisa disamain lahhh..

Istirahat sebentar di puncak tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan. Pada satu jalur tanjakan ekstrim lainnya, kami bertemu dengan satu keluarga yang naik ke tadi pagi. Mereka ada 7 orang, dan membawa guide. Salah seorang bapaknya bilang, “Sebentar lagi sampai mba!” Hehehe.. “Tidak tergoda Pa, palingan sejam setengah lagi”, Didi bilang.

Perjalanan menuju puncak 2 dan 3 tidak jauh berbeda dari puncak pertama. Masih diwarnai dengan tanjakan ekstrim nan panjang. Sesekali kami mendapatkan bonus track, lumayan untuk meluruskan lutut dan pergelangan kaki.

Di puncak ketiga, kami memutuskan untuk istirahat makan siang dan sholat karena waktu telah menunjukkan pukul 2 siang. Johan yang tidak suka nasi, bawa bekel roti. Didi bawa bekel nasi bakar dan aneka kue basah dan kering. Saya bawa nasi timbel, ikan teri medan yang di goreng garing, labu siam yang direbus dan sambel terasi. Wuihhh.. mantabsss!! Kami bertiga pun makan dengan lahap dan penuh semangat saking laparnya. Selesai makan kami berwudhu secara tayamum dan kemudian sholat berjamaah. Selesai sholat, kami pun melanjutkan perjalanan.

Menuju puncak keempat, kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Sisi kanan kami jurang dan gunung yang berjejer seperti membuat sabuk satu jalur. Subhanallah! Kami pun bisa melihat Situ Lembang dengan jelas dari kejauhan. Tak lupa kami pun mengabadikan keindahan tersebut, dan teuteup, narsis! Hehehe.. Foto dengan latar belakang pemandangan itu yang saya jadikan foto profil saya sekarang. Kami pun terus berjalan, karena, puncak 4 Burangrang sebentar lagi akan kami capai! tidak sabar lagiii!!!!!

Latar belakang Situ Lembang, tapi ketutup asap 🙁

to be continued..

catatan perjalanan hiking ke Burangrang bagian 2

Dalam benak saya, hiking itu jalan-jalan ke gunung dengan riang gembira. Saya lupa kalo gunung itu harus didaki. saya juga luput memperkirakan di gunung ada jalan yang harus dilalui dengan kemiringan 70 derajat! wuihhh..

Saya dulu kuliah di jurusan biologi program studi biologi lingkungan yang mengharuskan saya untuk berjalan menembus gunung, melewati hutan dan belok ke pantai. Tapi itu kan duluuuu! Sekarang saya sudah lupa lagi rasanya seperti apa..

Nafas saya sudah mulai teratur ketika kami meninggalkan jalur ekstrim yang kami lalui tadi. Jalan besar ini akan mengantarkan kami menuju Burangrang. Ketika saya masih mengatur nafas tadi, Didi dan Johan ngobrol dengan bapak dan ibu yang punya kios semi permanen persis di sebrang jalan tempat saya istirahat. Bapak itu menanyakan tujuan kami. Didi bilang, “kami mau ke puncak Pa.” Lalu bapak itu bilang jalur menuju puncak Burangrang boleh untuk dilewati, sedangkan jalur menuju Situ Lembang ditutup untuk umum. Sebelumnya kami mendapatkan info dari seorang bapak di pintu gerbang CIC bahwa semua jalur menuju Burangrang dan Situ Lembang ditutup.

Johan lagi nunjuk puncak Burangrang dari jalur komando

Setelah sepuluh menit berjalan santai kami sampai di pos penjagaan yang isinya para bapak berpakaian loreng, seperti anggota TNI. Sekitar 50 meter sebelum kami sampai ke pos tersebut, salah seorang bapak berkumis baplang dan hitam mengamati kami. Kami pun menyampaikan salam dan minta ijin untuk naik ke Burangrang. Bapak itu mempersilakan kami dan berkata bahwa di sana pun ada satu keluarga yang sedang hiking pula. Kirain mu dilarang! hehehe..

Senyum pun dikulum, dan kami pun melewati pos tersebut. Sekitar 20 meter setelah pos, kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Pemandangan yang tersaji di depan mata adalah kota Bandung, kota Cimahi dan Padalarang yang terlihat dalam satu cekungan Bandung. Burangrang ada disebelah kanan kami. Terlihat 4 puncaknya berumpak seperti tangga. Nampak dekat, tapi ternyata jauuuhh.. Sambil menikmati suasana itu kami membuka perbekalan untuk menambah energi sebelum sampai puncak nanti.

Johan, Didi dan Saya, istirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Burangrang.
Latar belakang : Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat

to be continued..

catatan perjalanan hiking ke Burangrang bagian 1

Berawal dari obrolan ringan 2 minggu lalu antara saya, Didi dan Johan di suatu tempat di Ciwalk, hari Sabtu kemarin kami memutuskan untuk hiking ke Burangrang. Sempat mengajak beberapa orang teman, tapi mereka ternyata tidak bisa ikut. jadilah kami hanya bertiga saja berangkat ke sana.

obrolan di Ciwalk ituh

Janjian berangkat jam 7 pagi molor 1 jam gara gara Didi belum banguuun.. Hehehe.. Berangkatlah kami jam 8 pagi dari Sukaasih. Berikut rute angkot beserta ongkos yang harus kami keluarkan.
1. Sukaasih – Cicaheum 2rb
2. Cicaheum – Terminal Ledeng 5rb
3. Terminal Ledeng – Parongpong 3,5rb

Sampai di Parongpong jam 11 siang, karena jalur dalam kota lumayan macet dan gada penumpang. Jadinya angkotnya ngetem di tiap perempatan.

Dari Terminal Parongpong kami motong jalur via villa Istana Bunga, karena Didi bilang, kalo lewat jalur komando lebih jauh dan memutar. Keluar vila Istana Bunga kami memasuki kawasan CIC (apa ya kepanjangannya? :P). Kami harus bayar 2,5rb karena itu termasuk kawasan milik pribadi dan diperuntukan wisata, bukan jalur umum (padahal kami cuman numpang lewat doang looh..). Keluar dari kawasan CIC, kami harus naik ke jalur yang lumayan ekstrim untuk mencapai jalan besar. Gilee, baru naek segitu aja itu jantung ma paru paru udah ngos ngosan. Jujur, saya pengen pingsan!! Begitu ketemu jalan besar, saya langsung minta istirahat. Sumpah, ga kuattt. Begitu bisa ngatur nafas dan ga ngos ngosan lagi, perjalanan kami lanjutkan. Ini baru seperdelapan perjalanan cuy!!

*jalan besar yang saya maksud adalah jalur komando yang didi bilang tadi. jalan itu lumayan bagus walau tidak beraspal. didi bilang, dulunya jalan ini beraspal, entah kenapa aspalnya jadi menghilang. sepertinya sih rusak karena banyak dilalui mobil tonase besar. jalur komando nantinya akan tembus ke situ lembang, tempat anggota TNI latian rutin.

to be continued…

huh, hari ini saya sombong dan arogan sekali.. :(

pergi dari rumah udah lewat 10 menit dari waktu yang ditetapkan membuat saya terburu buru ketika menjalankan si mio putih. pikiran melayang-layang, ga mau telat dateng ke kantor. satu satunya jalan yang mesti ditempuh adalah ngebuuuuuuut!!

sepanjang jalan menuju guruminda sepi karena anak sekolah udah pada libur (deket rumah saya ada SMK Igasar dan TK SD SMP SMA Al Ghifari). so far so good. mendekati rel kereta api, ada dua mobil yang berjalan lambat di depan motor saya, angkot ciwastra-ujung berung dan mobil colt yang ngangkut sampah. wahh.. mesti disusul nih pikir saya. mulailah saya ngambil jalur ke kanan dengan niat akan menyusul. mobil pertama bisa saya susul dengan mulus. berhubung jalan di guruminda jelek dan berlubang cukup besar, saya bersabar untuk menyusul mobil kedua.

ketika dapet kesempatan saya pun mulai ambil kanan dan siap ngegas . oo oo.. ternyata di depan ada becak yang bawa penumpang, saya dah ga mungkin nyusul lagi. akhirnya saya berhenti dan nunggu mobil kedua untuk maju sampai saya dapet ruang untuk nyusul lagi. tanpa diduga, abang becaknya marah sama saya. dia bilang ” woy, geus nyaho aya beca di kiri, hayoh we hayang nyiap!!” (woy, udah tau ada beca di kiri, pengennya nyusul mulu). waduuuuuh.. saya langsung malu dan merasa bersalah! secara emang saya tuh ga hati hati dan maen pengen nyusul mobil kedua aja. padahal saya tau jalan guruminda itu kecil dan rusak, ga mungkin nyusul dengan kecepatan tinggi.

sepanjang jalan saya tak habis merutuki dan memarahi diri sendiri. hal ini jangan sampai terulang lagi dan kamu harus banyak bersabar, Wi! begitu saya bilang sama diri saya sendiri. terima kasih atas teguranMu lewat abang becak ya Rabb. Huh, hari ini saya lagi ga suka ama diri sendiri, sombong dan arogan 🙁

*renungan di hari Jumat, khusus untuk kata pengganti orang pertama memakai kata saya, gue nya ilang dulu deh.. hehehe..