transconic 2009 : behind the scene

Berawal dari ide Bu Irna yang ingin membuat trend busana muslim 2009 versi up2date dan langsung direspon positif oleh Bu Tia dan Bu Isni, terwujudlah Transconic 2009 by up2date 17 Desember 2008 di Four Seasons Hotel, Jakarta. Bu Irna lalu membuat kolase, story board dan definisi dari transconic itu sendiri. Transconic terdiri atas 4 sub tema yaitu iconic, urban style, nature spirit dan transmutation. Warna warnanya pun telah dikelompokan untuk masing masing sub tema oleh beliau. Perjuangan baru dimulai, kawan!

Cerita pun berlanjut ke penunjukkan 4 desainer untuk menjadi penanggung jawab dari masing masing tema. Tidak sulit, karena karakter dari Rani, Rini, Lia dan Fetik memang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Pencarian bahan untuk setiap sub tema pun dimulai. Dari ujung Cigondewah sampai Mayestik dan Mangga Dua Jakarta dijelajahi demi mendapatkan bahan yang sesuai. Karena pemotretan untuk keperluan iklan harus didahulukan, maka focus utama lebih ke mencari ‘nyawa’ dari setiap sub tema dan diwujudkan dalam satu baju per temanya.

Bahan telah didapat, kini tiba saatnya masuk pola dan jahit. Diskusi tidak henti hentinya dilakukan. Para operator jahit sampai harus lembur terus menerus demi memenuhi target waktu yang telah ditetapkan. Bayangkan, alokasi waktu untuk pola + jahit efektif hanya 1 bulan saja! Fisik dan mental kadang drop di tengah jalan, untuk membangkitkannya lagi harus dengan sedikit skill. Sekali waktu gue kasih mereka multivitamin kaplet, minggu depannya vitamin C dosis tinggi dan diminggu berikutnya mereka dapat jatah buah apel. Alhamdulillah, tidak ada yang sampai tumbang.

Sambil proses jahit terus berlanjut, presentasi kepada manajemen pun diadakan untuk melihat sampai sejauh mana persiapan dari hal baju. Satu bulan menjelang show, baju yang selesai jahit baru 40%nya saja! Huh, betapa kerasnya detak jantung ini berdebar. Ngeri. Pada saat itu pula, Bu Irna harus menunaikan ibadah haji dan mau tak mau mempercayakan baju-baju show kepada kami (para desainer dan gue). Dukungan dari Bu Isni dan Bu Tia selama Bu Irna tidak berada di Bandung sangat membantu kami semua.

Satu minggu menjelang show, semua baju telah selesai jahit. Ouw, tapi banyak juga yang belum mencapai proses finishing! Celana panjang belum memakai kancing, kancing sudah terpasang tapi belum dilubangi, aplikasi-aplikasi belum selesai dan masih banyak hal lain ternyata. Desainer juga harus menyertakan gaya kerudung mereka masing – masing dan kemudian didokumentasikan. Semua orang sibuk, dan gue heran, kenapa banyak hal baru terpikir disaat-saat akhir menjelang ya?

Satu minggu menjelang show adalah hal tersibuk daripada sebelumnya. Puncak dari segala emosi yang terpendam sehingga melahirkan gesekan, miskomunikasi dan intoleransi antar personil satu sama lain. Beruntunglah hal tersebut dapat diredam. Karena kami tau, hanya perlu satu orang untuk membuat satu ide atau gagasan, tapi butuh banyak orang untuk mewujudkan ide dan gagasan tersebut.

Day D-2, atribut dan perlengkapan seperti kerudung banyak yang belum beres. Mau tak mau, semua penjahit dikerahkan untuk menyelesaikan elemen terpenting dari keseluruhan penampilan di atas panggung nanti. Cek dan ricek pun dilakukan, demi ketiadaan hal yang mungkin akan terlewat. Hari ini adalah hari terpanjang, rasanya satu hari tidak cukup hanya 24 jam.

Day D-1, teman-teman sudah pergi ke Jakarta terlebih dahulu untuk menghadiri acara agent gathering dan juga sekaligus trunk show (show internal yang diperuntukan kepada agen dalam menentukan jumlah pcs baju yang ingin dipesannya). Gue, ditinggal di Bandung untuk sekali lagi mengecek semua hal yang diperlukan pada saat show agar tidak ada yang terlewat. Hari itu, gue berangkat menggunakan truk yang berisi semua barang keperluan show barengan sama Bang Yos sang fotografer. Alhamdulillah, kami sampai ke Jakarta dengan selamat. Malamnya, kamipun mulai (lagi) untuk mengecek perlengkapan dan asesoris. Ternyata tetap saja ada yang kurang, kaos kaki! Hehe.. duh, klo cuma kaos kaki mah bisa dibeli di Jakarta ( ngegampangin mode ON). Setelah jam 9 malam, kami pun larut dengan pikiran masing-masing, akan seperti apa show besok ya?

The D day. Sibuk, sibuk dan sibuk. Dari pagi buta. Dari mulai angkut barang sampai penataan barang di backstage semua orang ikut terlibat. Ribet, riweuh, lieur, pabaliut, paciweuh pokonya semua bahasa Sunda yang menggambarkan betapa heboh dan crowdednya di backstage menjadi kata yang paling tepat. Sampai pada akhirnya beberapa menit menjelang acara dimulai, semuanya tegang. Ketika diumumkan oleh MC “inilah Transconic 2009 by Up2date”, waktu tiba tiba seakan lambat bergulir, tapi setelah itu malah semakin cepat, semakin cepat dan semakin cepat seiring dengan degup jantung kami semua. Waktu 30 menit tidak terasa lama, ternyata show telah berakhir, ditandai dengan majunya Rani, Lia, Rini dan Fetik keatas panggung. Hhhhhhhh… legaaa… bangga… haru biru… sedih… senang… bahagia… lemes… cape… semua nyampur jadi satu dalam satu tangisan. Alhamdulillah Kau memberi kelancaran Ya Rabb!!!

Backstage after show. Baru terasa banyaknya kekurangan yang kami lakukan pada saat show. Lebih dari satu kasus! Ada yang lupa dikancing, lupa pake dasi, belt pindah jadi syal, celana yang ngatung alias kependekan, kalung pindah jadi bandana, sampe adanya kasus satu baju dipakai dalam 2 sequence karena keteledoran crew! Huhuy! Tapi overall, untuk ukuran pertama kali menyelenggarakan show tunggal 80 baju, rasanya kami sudah bisa dibilang lumayan 😀 . Evaluasi diri dan tetap tawadhu harus senantiasa tertanam dalam diri kami. Jangan cepat terlena oleh kepuasan sesaat.

Day D+1. Di kantor iseng – iseng buka search engine dan ngetik kata transconic 2009, dan hei, sudah ada liputannya! Duh, bangganya! Bu Tia bilang, semoga hal ini menjadi berkah bagi kita semua. Amin! Show Transconic kemarin menurut gue adalah langkah awal bagi perusahaan untuk menancapkan kukunya di dunia fashion tanah air dan internasional. Semoga Up2date semakin maju. Amin!

*ditulis dengan perasaan bangga dan mengharu biru setelah melihat banyaknya liputan dari dalam dan luar negeri, dan setelah mendapatkan email dari manajemen yang menyatakan rasa terima kasih. Hiks hiks hiks… Terima kasih juga atas kerjasama temen – temen semua, tim Bandung dan tim Jakarta, sukses selalu!

DVD lovers

Gue hobi beli dvd (catat, beli, bukan nonton). Rekor pembelian dalam satu kali transaksi adalah 120rb dapet 23 keping dvd (sudah pasti dvd bajakan bukan? hehe..). Sebagian sempet ketonton, sebagian lagi belum sempet sampe sekarang. gue beli serial friends, oprah, dorama jepang, film Hollywood classic, terbaru, kartun sampe film romantic picisan yang selalu kebawa ke dalam mimpi-mimpi gue.

Bagi gue, nonton + beli dvd adalah hal yang sangat mengasyikan dan bikin candu. Membaca judul-judulnya, membayangkan ceritanya dan memimpikan gue punya semua koleksi dvd yang ada disitu. Pernah suatu hari gue nonton dorama jepang 12 episode, 4 dvd semaleman. Ceritanya sedih banget sampe gue nangis Bombay kagak berenti berenti. Besoknya mata gue bintit deh. Kata temen sekantor, lu abis diputusin pacar ya wie? Halahhhhhhhh…

Seringnya, gue kecolongan kalo beli dvd. Kebiasaan gue adalah jarang dicobain dan diperiksa lagi. Tau taunya sampe rumah kagak bisa ditonton. Pernah juga beli dorama jepang 4 dvd, yang satunya ternyata belum di burn sama sekali, kosong melompong aja.. alhasil jadi ga seru nontonnya. Mana film seri lagi.. huh!

Duh, jadi pengen beli dvd lagi nih. Terakhir beli bulan lalu. Oia, sekalian ah, gue mu minta ganti dvd gue yang kosong dan yang ga bisa diputer. Masih bisa ga ya?

ketidakbiasaan

Sepertinya gue dilahirkan untuk suka sama hal yang tidak biasa yaitu menghafal dan mengingat detail setiap tempat. Gue menyadarinya udah sejak lama, tapi gue cuekin aja. Sekarang ini, gue berniat pengen membantu orang lain dengan kelebihan gue ini.

Sejak kuliah dulu, temen-temen banyak tanya tentang satu tempat yang mereka ga tahu sekaligus dengan rute angkot yang ngelewatin tempat tersebut. Gue jawab dengan selengkap-lengkapnya ampe gue dapet julukan preman terminal (saking hafalnya jalur angkot). Temen gue yang sama-sama orang Bandung aja kadang ga hafal kebanyakan jalur angkot. Gue boleh berbangga hati dengan hal itu. Hehe.. walaupun ada beberapa tempat dan jalur angkot juga yang ga gue hafal.

Lulus kuliah gue hijrah ke Jakarta, kota metropolitan yang luar biasa sibuk dan punya beratus-ratus jurusan kendaraan umum. Pertama kali ke Jakarta April 2005, gue pake kereta api (jaman belum diresmikannya tol Cipularang dan travel-travel Bandung-Jakarta dan sebaliknya belum menjamur seperti sekarang). kantor gue adanya di kawasan Thamrin, dan dari Gambir deket aja, tinggal naik bajaj. Kerjaan gue sebagai IQA (internal quality assurance), mengharuskan gue untuk menghafal banyak rute ke tempat yang nantinya akan gue tuju. Selama 2 tahun di Jakarta alhamdulillah gue mengingat banyak. Gue juga seneng untuk menjajal metromini/kopaja/bus patas yang jurusannya ga gue hafal sebelumnya hanya untuk memuaskan rasa penasaran gue. Sebagai IQA gue juga sering ditugaskan keluar kota (seperti yang pernah ada ditulisan gue sebelumnya). Mau ga mau kesukaan gue ini jadi kerjaan gue juga. Setiap detail tempat gue hafalin. Landmark dari setiap kota yang gue kunjungin gue hafalin. Sampe hal-hal remeh dan ga penting pun gue hafalin supaya ketika gue kesana lagi dan sendirian gue ga nyasar.

Pas pindah kerja ke Bandung ternyata hobi gue sedikit membantu di tempat kerja baru. Di kantor baru mobilitas Bandung-Jakarta frekuensinya sangat sering. Selain itu, sang supir kantor belum hafal jalanan ke dan di Jakarta, begitu pun di Bandung. Jadinya sering banget minta bantuan gue. Kadang gue disuruh ikut ke Jakarta hanya untuk nemenin sang supir karena takut nyasar. Hihi.. seru juga rangkap profesi jadi guide.

Well, jangan takut punya kesukaan atau ketidakbiasaan aneh seperti gue. Biarin diledekin juga. Percayalah suatu saat hal itu akan berguna. Selain itu, lo juga akan terlihat punya satu nilai tambah karena ketidakbiasaan lo itu. Seperti gue, biarpun gue nyebelin tapi gue dirindukan.. hahahaha… ga nyambung! buat temen-temen yang butuh info jalur angkot atau cara menuju satu tempat di kota Bandung, silakan kontak aja. InsyaAllah gue bantu..

my new F305 (plus sedikit kecewa)

hari jumat minggu kemaren gue jalan jalan ke BEC (tempat paling favorit buat jual/beli barang barang elektronik di bandung, karena segala ada), seperti biasa sendirian. rencananya mu beli hape baru karena yang lama udah bosen.

sebelumnya gue dah browsing duluan, nyari tipe apa yang cocok buat gantiin hape lama gue. gue binguuuung banget. tanya tanya ma temen-temen ga terlalu banyak membantu. beli koran PULSA malah tambah bingung. browsing internet juga ga terlalu bantu.

setelah kebingungan itu sedikit bikin gue stress, akhirnya gue bikin daftar, apa aja yg gue cari dari sebuah hape? pertama gue pengen punya hape warna putih. mulailah disortir itu hape yang ga berwarna putih. ternyata vendor yang banyak ngeluarin hape warna putih cuman Sony Ericsson, untuk LG dan Samsung ada juga beberapa sih, Nokia jarang banget. kedua, gue pengen hape yang slide atau fold, yang candy bar lewat. eh, taunya jarang banget ada hape fold/slide yang warna putih. ketiga, gue pengen hape yang udah komplit isinya. ga mesti HSDPA or 3G, lah. toh ga pernah dipake juga fasilitas itu, gue udah bertekad ga kan terlalu addicted ama yang namanya gadget apalagi hape. ngeliat yang udah udah, mereka semua pada ‘autis’ dan waktu untuk bersosialisasi jadi berkurang. keempat, gue pengen hape yang daya tahan baterenya lamaan dikit. agak susah tuh nyarinya. kelima, budgetnya ga lebih dari 2 juta, supaya nambahnya ga terlalu banyak.

semakin mencari, gue semakin bingung. ga bisa tidur! saking mikirinnya tuh.. akhirnya gue baca lagi tuh koran PULSA. pas banget ada ulasan tentang perbandingan SE F305 sama Samsung L700. sebelumnya gue emang kepikiran utk beli L700, tapi sayang ga putih warnanya. padahal fiturnya lengkap banget. SE F305 ternyata lebih oke lagi, sesuai dengan apa yang gue inginkan dari nomor 1-5. Ulasan tentang kedua hape ini juga ternyata bikin gue tambah mantap untuk beli F305. untuk lebih meyakinkan, gue browsing ke situs resminya. waduh, bikin ngiler dan mantap aja gue untuk beli F305. sorenya, berangkatlah gue ke BEC.

sebelum ke BEC, gue ke BSM dulu, karena gue pernah liat ada promo pembelian menggunakan citibank cc diatas 1 juta gratis hape Nokia 1200 seharga 390rb di okeshop. lumayankan dapet 2 hape? pas gue ke Oke shop, tanya2 ma pramuniaganya. ternyata di oke shop belum ada, hiks.. ga jadi deh dapet dua hape. maka meluncurlah gue ke BEC.

di BEC yang sangat crowded, gue memulai pencarian dari satu counter yang ada tulisan Sony Ericssonnya paling gede. disitu F305 belum ada juga. keliling2 ke tiap counter masih pada belum punya F305. sedih. eh, taunya lagi ada pameran Samsung. si L700 nangkring disana dengan manis, menggoda. tapi pas gue liat dan pegang ternyata ga asik bentuknya, kaku dan dingin. bukan gue banget. gue kan yang fun and playful gitu deh 😛 . setelah cape keliling, duduklah gue di satu counter. aduh, alhamdulillah banget, F305nya ada!!!! huhuy!!!!

mulailah gue bertransaksi. aslinya seneng banget!! tapi ketika gue sudah memutuskan membeli F305, ternyata ada beberapa hal yang bikin gue sedikit kecewa.
1. ga dapet memory card, harus beli sendiri lagi dan nambah budget lagi 🙁
2. baterenya koq ga 8 jam waktu bicara ya? baru sehari udah abis (ini sih baru ketauan setelah gue pake). males juga kalo sering sering gue isi ulang batere.

overall, kekecewaan gue sebenernya cuman dua. selebihnya, F305 lebih dari yang gue inginkan.. mudah-mudahan gue ga cepet bosen ma nih hape. secara ponsel ini fun and playful seperti gue bilang sebelumnya, gue banget deh pokonya! and i love the speaker! muantabh!