Giveaways

Seperti yang sudah saya janjikan di instastories Instagram beberapa hari yang lalu, saya pengen bagi bagi beberapa barang preloved yang saya punya. Ini murni saya beli pribadi dan bukan postingan berbayar. Tapi, kenapa harus dibagi bagi sih?

  • Saya impulsive buyer, laper mata doang
  • Kadang dapet free sampel cuman gak cocok

Nah, daripada numpuk di rumah dan gak kepake kan mendingan dijadiin hadiah aja ya. Saat ini barang preloved terbanyak adalah dari lipstik. Beberapa shade emang bukan “gue banget” sih LOL, dulu pas beli kayaknya fokusnya entah kemana. Hehe.

Barang preloved yang saya jadikan hadiah adalah :

  1. Purbasari Hi-Matte Lip cream azalea 02 (beli 2017, pernah dipake 2-3 kali)
  2. Purbasari Hi-Matte Lip cream lantana 03 (beli 2017, pernah dipake 2-3 kali)
  3. Wardah eyeXpert optimum hi-black liner (masih segel plastik exp 01082019)
  4. Bodyshop Matte lip liquid Tokyo Lotus 024 (beli pas baru launching 2017, pernah dipake 1-2 kali)
  5. Wardah creamy body butter with strawberry (masih segel plastik, exp 190119)
  6. Sheet mask LanoCreme Placenta Face Mask Rosehip Oil & Q10 (beli di Melbourne, Australia, exp Mar 2021)

Giveaways Oct 2017

Gimana sih cara dapetinnya? Gampaaang.

  1. Pada tanggal tertentu selama bulan Oktober 2017 akan keluar 1 barang preloved tapi saya gak akan mention yang mana dan nomer berapa. Akan dipilih acak.
  2. Pastikan kamu udah follow/like minimal 2 akun social media saya di twitter, facebook, instagram serta youtube lalu turn on notifications utk tau postingan terbaru saya karena petunjuk akan saya share di salah satu akun tersebut.
  3. Program giveaways akan dimulai di hari ini, 15 Oktober 2017 pukul 21.00 di instastories Instagram saya.

Stay tune yaaaa.. Happy hunting, hunters!

 

Logo Baru

Ya barangkali kalian belum tau, dailydewi ini punya logo lho. Awalnya saya minta tolong sama seorang teman untuk buatkan dan hasilnya baguuuus banget. Katanya, warna dan karakter logonya, saya banget. Dulu saya cuma dikasih file jpgnya aja dengan resolusi rendah. Tapi itupun udah cukup untuk dijadikan profile picture social media.

logo lama dailydewi 

Beberapa bulan belakangan saya lagi suka ngotak ngatik si dailydewi ini. Entah itu social medianya maupun blognya. Saya terus mikir pengen ngebranding nama dailydewi ini jadi sebuah cerita keseharian yang bisa dinikmati siapa saja. Memang sih belum seterkenal awkarin atau pita’s life, tapi setidaknya dailydewi ini hadir untuk memperkaya konten positif di ranah digital. Terus saya inget pernah punya logo. Saya pun ngubek2 semua file dan email tapi gak ketemu versi resolusi tingginya. Ternyata emang saya gak pernah punya versi itu. Sambil segen, saya kontak temen saya itu. Ternyata versi resolusi tingginya pun entah dimana filenya. Dia bilang, “Udah saya bikinin yang baru aja Ceu. Handwriting ya?” AAAAAHHH, alhamdulillah… Saya langsung setuju! Pokonya dia mah bikin apa aja bagus. Gak berapa lama, tuh logo udah dikirim aja by email. KUSUKAAAAK..!

 

Ini logo barunyaaaaaa… Versi square dan landscape sekaligus dibikinin sama dia. Kalo liat channel youtube saya di sini kamu akan lihat logo itu muncul di kanan bawah sebagai watermark. Soon-to-be logo ini akan menghiasi dunia digital saya. Selamat dataaaang logo baruuuu dailydewi!

Wedding Organizer 101

–Disclaimer :

Tulisan ini bukan tentang panduan bagaimana menjadi wedding organizer tapi tentang pengalaman saya pertama kalinya ditugaskan sebagai itu.

Begitu banyak informasi mengenai bagaimana merencanakan sebuah pesta pernikahan. Kamu bisa browsing di Google lalu download  file check list, things to do, vendors/suppliers dari berbagai referensi. Para calon pengantin biasanya sudah membekali diri dengan informasi melimpah sebelum memutuskan untuk memakai jasa wedding organizer (WO).

Oke, enaknya mulai dari mana?

Beberapa kali saya terlibat pada penyelenggaraan sebuah event tapi belum pernah sama sekali terlibat dalam event yang berhubungan dengan pernikahan. Pun saya memang belum menikah jadi saya belum paham titik mana yang harus kita perhatikan betul dalam penyelenggaraan sebuah event resepsi dan akad nikah.

Akhir minggu lalu saya berkesempatan untuk menjadi bagian dari WO selama 2 hari. Saya pikir ini adalah sebuah tantangan baru ke depannya, tentunya harus bersemangat terus untuk dapet ilmu baru yang bermanfaat. Pengalaman selama 2 hari penyelenggaraan dan berminggu minggu persiapan tentunya sangat berharga. Berikut saya rangkum beberapa poin yang saya pikir bisa dijadikan referensi saat kamu mau mencoba pekerjaan ini.

Tak kenal maka taaruf.

Kenali calon klien dengan sebaik baiknya. Apakah dia seorang pejabat negara? Direktur perusahaan? Artis? TNI? POLRI? Pengusaha? Selebgram? Youtubers? Anggota dewan? Anggota partai politik? Selain itu kita juga perlu tahu asal daerah dan suku bangsa dari klien tersebut. Batak? Sunda? Jawa? Bugis? Dayak? Minang? Betawi? Ada needs tertentu yang sangat spesifik dari setiap latar belakang tersebut. Jadi, kenalilah!

It’s all about chemistry and trust.

Pekerjaan di bidang jasa selalu menekankan sense alias rasa di awal. Maka, siapapun kliennya, buatlah mereka merasa nyaman dengan kita sejak kontak pertama. Kepercayaan amat sangat susah didapatkan. Tapi jika sudah menjadi milik kamu, maka jangan sia siakan karena itu adalah modal utama. Hindari membuat kesalahan sekecil apapun yang bisa membuat klien tersinggung, merasa digurui atau diremehkan apalagi sampai marah besar. Tetaplah hormati keinginan klien walaupun itu mungkin bertentangan dengan apa yang kita sarankan. Service is number one, respectful and trust is far beyond. Hal ini penting kalo kamu ingin berkiprah terus di dunia WO ini.

Siapa memegang apa?

Penting diketahui, seberapa besar keterlibatan anggota keluarga dalam event ini. Tim WO punya template tabel yang memudahkan pihak keluarga untuk pembagian tugas ini. Sama halnya dengan menjalankan sebuah organisasi, struktur dan pembagian kerja harus jelas sejak awal.

Pernikahan adalah tentang menyatukan kedua keluarga namun komunikasi antar keduanya harus selalu dijaga.

Ini yang harus ditekankan sejak awal. Keluarga besar calon pengantin pria (CPP) dan keluarga besar calon pengantin wanita (CPW) tentunya punya latar belakang yang berbeda yang harus diselaraskan dalam hal mencapai goals dari event ini. Komunikasi intens kepada kedua belah pihak harus dijaga betul karena banyak sekali details yang harus dikonfirmasikan. Dalam penyelenggaraan event apapun termasuk event pernikahan, distribusi informasi dan konfirmasi adalah titik paling penting dalam hal ini. Jika komunikasinya tidak dijaga, maka miskomunikasi akan menjadi salah satu penyebab kesalahan fatal.

Selalu hadir 100%

Mengutip kata kata Kang Harri Firmansyah (IG : @harrifirmansyahr), klien atau nasabah membutuhkan kehadiran kamu untuk mampu menjawab kebutuhan mereka. That’s how service industry works. Jangan sampai kamu susah dikontak ketika klien mencarimu. Pastikan batere smartphone selalu penuh dan paket internetnya ON terus. Secanggih apapun smartphone kamu, gak akan ada artinya kalo gak bisa dikontak sama klien. Selain perkara kontak, kehadiran 100% juga bisa berarti konsentrasi full saat klien mengajak kamu meeting. Jangan sibuk sendiri dan jangan sok sibuk. Buatlah klien merasa spesial dan mendapatkan perhatian kamu 100%.

Eksekusi.

Perencanaan yang sangat matang sekalipun tidak akan ada artinya jika tidak dieksekusi dengan baik. Selalu akan ada kejadian diluar perencanaan. Bagaimana mengatasinya? Saran saya kuasai terlebih dahulu perencanaan dan tanamkan apa yang menjadi goals dibenak kamu untuk dapat membuat sebuah eksekusi yang baik. Seorang eksekutor harus bertangan dingin dan tegas saat membuat keputusan. Tentu saja keputusan tersebut harus didasari akan goals yang disepakati.

 

Menyelenggarakan pesta, event atau apapun menurut saya selalu ada dalam lingkaran poin poin yang saya tulis di atas. Hanya mungkin berbeda beda sedikit saja. Tentunya apa yang menjadi concern saya di tulisan ini masih banyak kurangnya. Toh saya baru terlibat sekali di akad nikah dan sekali di resepsi pernikahan. Semoga bermanfaat ya!

Redefinisi Liburan (Hongkong Trip)

libur/li·bur/ v bebas dari bekerja atau masuk sekolah;

— pajak bebas dari kewajiban membayar pajak untuk sementara yang diberikan oleh negara kepada suatu perusahaan selama jangka waktu tertentu (maksimal 5 tahun)
berlibur/ber·li·bur/ v 1 mengalami libur; 2 pergi (bersenang-senang, bersantai-santai, dan sebagainya) menghabiskan waktu libur; bervakansi: mereka merencanakan ~ ke Pulau Dewata;
meliburkan/me·li·bur·kan/ v membebaskan dari bekerja atau masuk sekolah;
liburan/li·bur·an/ n masa libur; vakansi

Hong Kong dari The Peak

 

Di bulan Januari 2107 lalu, saya memutuskan untuk beli tiket PP ke Hong Kong. Salahkan sebuah maskapai berbiaya murah yang jor joran pasang iklan.

Kenapa Hong Kong? Itu pertanyaan yang pertama kali terlontar dari orang orang terdekat ketika saya bilang bahwa kesanalah tujuan saya trip kali ini.

Kenapa engga? Ini jawaban saya. Lha iya, saya ini kalo udah penasaran suka susah dikendalikan. Lagipun, saya ini impulsive, gak pake mikir kalo udah punya kepengen. Hihihi..

Ngapain aja di Hong Kong? Belum tau. :p

Seorang teman dekat saya ajak namanya Mba Mila, karena saya tau dia juga hobi jalan jalan gak pake mikir. Selain itu, dia juga hobi belanja. Pas banget kan saya ajakin ke Hong Kong? Ahaha..  Saya hanya perlu bertanya pada yang sudah pernah ke sana tempat strategis untuk menginap, selebihnya, biarkan Allah yang menuntun kemana kami harus melangkah.

Saya dan Mba Mila

 

Funfact perjalanan kami ke Hong Kong :

  • Tiket saya dan Mba Mila beda jam. Berangkatnya Mba Mila duluan, pulangnya saya yang duluan.
  • Hostel kami mendapatkan rate 8.5 di Agoda.com. Cukup nyaman walaupun minimalis.
  • Di HKIA, Mba Mila kena full screening dari petugas imigrasi sedangkan saya aman lancar jaya
  • Selama 4 hari di Hong Kong kami kemana mana jalan kaki. Betis berkonde dan pergelangan kaki udah gak berasa. :))
  • Ada kesalahan saat membeli tiket masuk Disneyland, yang kami pilih ternyata meals voucher, bukan tiket masuk! Akhirnya kami pesan ulang saat itu juga. :))
  • Hong Kong itu berlimpah free wifi
  • kurs beli 1 HKD = 1.750 IDR

 

Hong Kong Disneyland

 

Itinerary gue :

  • Rabu : CGK – KL, transit di KL selama 7 jam
  • Kamis : KL – HKG, lanjut sightseeing area Tsim Sha Tsui (Hongkong History Museum, Ferry Pier)
  • Jumat : Lantau Island (Ngong Ping– Big Buddha & Disneyland)
  • Sabtu : The Peak (Madame Tussauds, Victoria Peak, Tram), Central, Causeway Bay
  • Minggu : HKG – KL – CGK

 

Causeway Bay

 

Budget yang dikeluarkan :

  • Tiket pesawat PP IDR 2,5 juta pp udah termasuk meals 1x berangkat dan 1x pulang
  • Penginapan 4 hari IDR 2 juta (sharing berdua, per orang 1 juta)
  • Octopus card : pertama kali ngisi 150 HKD (deposit 50, value 100), selanjutnya ngisi 100 + 50 + 50 jadi total value 300 HKD. Refund deposit 37 HKD
  • Sekali makan min 60 HKD udah sepaket sama minum.
  • Tiket Disneyland + 2x meals = IDR 1,3jt
  • Tiket Madame Tussaud + TramOramic + free golden ticket tram = 225 HKD
  • Belanja sesuai sisa budget :))

 

Bersama Barack Obama di Madame Tussauds

 

Sejak beberapa tahun belakangan, saya mulai punya pendapat dan pemikiran yang lain. Perjalanan apapun bisa berarti liburan, selama lo menikmatinya, merasa bahagia dan bersyukur telah menjalankannya.

Merencanakan sebuah perjalanan selalu mengasyikan. Apalagi barengan sama temen yang emang seru diajakin jalan. Awalnya saya memisahkan antara istilah liburan dan perjalanan. Pada saat itu saya memang memiliki definisi yang berbeda akan kedua kata tersebut. Liburan artinya ke pantai, gunung atau taman indah sedangkan perjalanan adalah sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan.

Di tahun pertama dan kedua, pekerjaan saya adalah jalan jalan keliling kota di Indonesia. Saat itu perjalanan bagi saya adalah tanggung jawab dan beban pekerjaan. Pada beberapa titik saya merasa capek. Setelah pindah kerja, saya malah rindu jalan jalan keluar kota! ahahaha.. dasar aneh ya? Setelah itu saya melakukan trip hampir 4x setahun. Destinasi gak jauh jauh amat sih, yang penting happy kan ya? Alhamdulillah, beberapa trip dibiayai oleh perusahaan jadi saya tinggal berangkat saja.

Lalu, apa arti liburan menurut kamu?

Mulanya Dipanggil Ceuceu

Ceuceu, euceu itu panggilan orang Sunda untuk kakak perempuan atau perempuan yg lebih tua. Panggilan ini populer dikalangan baby boomersnya orang Sunda. Generasi X dan Y lebih suka memanggilnya teteh. Lalu kenapa saya yang generasi Y ini dipanggil ceuceu?

Ceuceu goes to London

Sejak bocah saya temenan ama Triyani dan Rani. Mereka ini udah kayak sodara sendiri saking akrabnya dan udah lama tetanggaan. Ketika masuk SMP, Triyani trus punya julukan enthel karena doi mempopulerkan maenan jari telunjuk entelemilemipatolapitolatol pilapitolatoldu. Rani sendiri sejak kecil dipanggil neng sama keluarganya. Lah saya kagak punya julukan atau panggilan kecuali domba galing karena rambut saya yang emang keriting. Hahaha.. Tapi yamasa ampe tuir masih mau dipanggil kek gitu? Ogah! 
Masuk SMA, kami bertiga berunding utk bikin panggilan kesayangan masing masing. Saat itu disepakati bahwa kami mau pake panggilan kakak perempuan dari berbagai daerah. Lalu disepakati bahwa Triyani = Nci karena kulitnya yang putih dan matanya yang sipit mirip sama org tiongkok, Rani = Uni karena ada sodaranya orang Padang, Dewi = Ceuceu karena ya emang orang Sunda banget.

Panggilan ceuceu ini awalnya terbatas hanya di anak anak tetangga kompleks. Pas masuk kuliah, rupanya temen temen suka ama panggilan saya ini jadi ikutan manggil ceuceu. Ternyata sampe saya masuk kerja di kantor lama pun beberapa orang lebih suka manggil saya ceuceu. Pada akhirnya ceuceu ini udah kayak melekat aja dan jadi brand saya.

Waktu berlalu. Rani menikah dan punya anak maka panggilannya berubah menjadi Mami, Triyani menikah dan punya anak lalu dipanggil Buya, sementara saya masih jomblo aja maka gak berubah tetep dipanggil Ceuceu.

Udah gitu aja.